alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Dari Lembaga Pendidikan MULO, hingga Sekolah Pertanian Noogako

Kota Mojokerto cukup banyak menyimpan warisan bangunan tua yang kaya akan nilai sejarah. Salah satunya adalah gedung sekolah yang berada persis di samping kantor Wali Kota Mojokerto ini.

Sejak awal pendirian di era kolonial, bangunan berada di Jalan Gajah Mada tersebut dibangun untuk lembaga pendidikan yang dinamakan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah dasar lanjutan.

Sedangkan pada zaman Jepang, bangunan yang kini tengah diajukan sebagai cagar budaya itu juga tercatat pernah dijadikan sebagai sekolah pertanian.

 BAHKAN, hingga hampir satu abad gedung sekolah itu berdiri, peninggalan Belanda tersebut masih terawat dan tetap difungsikan sebagai tempat mengenyam pendidikan SMPN 1 Kota Mojokerto.

Bagaimana kisah perjalanan di balik gedung tua itu dari masa ke masa? Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, menuturkan, bangunan sekolah tersebut didirikan kisaran tahun 1926/1927.

Pembangunan lembaga pendidikan setara sekolah menengah pertama (SMP) itu tidak lepas karena semakin banyaknya lulusan dari jenjang sekolah dasar (SD). ”Untuk menampung kebutuhan lulusan sekolah dasar, maka didirikan MULO Mojokerto,” terangnya.

Lokasi yang dipilih adalah di Jalan Timur atau yang kini berganti nama menjadi Jalan Gajah Mada. Menurutnya, dalam struktur pendidikan zaman kolonial, MULO merupakan sekolah yang menerima siswa lulusan Holladscsh-Inlandsche School (HIS) atau Desaschool yang kerap disebut sebagai Sekolah Rakyat (SR).

Baca Juga :  Terjunkan 350 Jupel, Dianggap Berasal dari Pemancing

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, jenjang studi pada sekolah MULO terdiri atas tiga tingkatan kelas. Namun, hal itu hanya berlaku bagi lulusan Europeesch Lagere School (ELS).

Jika berasal dari luar lembaga tersebut, maka jenjang studi ditambah 1 tahun untuk voorklasse atau kelas persiapan. ”MULO merupakan pendidikan lanjutan satu-satunya di Mojokerto,” terangnya. Dia mengatakan, lulusan dari MULO bisa meneruskan sekolah ke jenjang berikutnya ke Algemeene Middelbare School (AMS).

Namun, keberadaan MULO Mojokerto berlangsung hingga masuknya pasukan Jepang. Saat itu, sekolah sempat ditutup sementara dan kembali dibuka pada tahun 1943. Namun, jelas Yuhan, sekolah lanjutan tersebut tidak diaktifkan sebagai sekolah umum lagi.

Melainkan dijadikan sebagai sekolah yang khusus mengajarkan ilmu bertani yang diberinama Nagyo Gakko Mojokerto atau yang juga disebut Noogakko Mojokerto. Nagyo Gakko Mojokerto merupakan sekolah menengah pertanian itu menampung siswa sedikitnya berusia 13 tahun dan maksimal 17 tahun.

Di samping harus dalam kondisi sehat dan berkelakuan baik, calon siswa yang mendaftar juga harus memiliki ijazah dari HIS atau ELS. Disebutkan Yuhan, jika angkatan pertama dipersiapkan kuota sebanyak 70-90 siswa.

Baca Juga :  Ruang Gerak PPK Dibatasi

Bagi pendaftar yang lolos persyaratan administrasi diwajibkan untuk menjalani tes kemampuan akademik. Antara lain, ujian bahasa Jepang, bahasa Indonesia, ilmu berhitung, dan tes jasmani. Akan tetapi, di balik pendirian lembaga Noogakko tersebut terdapat kepentingan dari pasukan Negeri Matahari Terbit.

Pasalnya, Jepang mengubah pelajaran sekolah dikarenakan butuh tenaga ahli di bidang pertanian. ”Sektor penghasil bahan pangan sangat dibutuhkan untuk bisa memenangkan perang melawan sekutu,” ulas Yuhan. Dalam perjalanannya Noogakko Mojokerto tidak sempat meluluskan siswanya.

Sebab, pada Agsutus 1945 Jepang menyerah di tangan musuh. Kala itu, sekolah pertanian tersebut baru saja membuka pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) di kelas I. Sedangkan jenjang tertinggi masih duduk di bangku kelas III.

Kendati demikian, dari lembaga pendidikan Noogakko itu kemudian terbentuk Angkatan Pelajar Indonesia (API) Mojokerto pada masa revolusi. Organisasi pelajar tersebut kemudian melebur dalam Tentara Rakyat Indonesia (TRI) Pelajar untuk berjuang mempertahankan kemerdakaan.

”Bekas sekolah pertanian Noogako juga dijadikan sebagai markas API Mojokerto,” tandasnya. 

 

Kota Mojokerto cukup banyak menyimpan warisan bangunan tua yang kaya akan nilai sejarah. Salah satunya adalah gedung sekolah yang berada persis di samping kantor Wali Kota Mojokerto ini.

Sejak awal pendirian di era kolonial, bangunan berada di Jalan Gajah Mada tersebut dibangun untuk lembaga pendidikan yang dinamakan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah dasar lanjutan.

Sedangkan pada zaman Jepang, bangunan yang kini tengah diajukan sebagai cagar budaya itu juga tercatat pernah dijadikan sebagai sekolah pertanian.

 BAHKAN, hingga hampir satu abad gedung sekolah itu berdiri, peninggalan Belanda tersebut masih terawat dan tetap difungsikan sebagai tempat mengenyam pendidikan SMPN 1 Kota Mojokerto.

Bagaimana kisah perjalanan di balik gedung tua itu dari masa ke masa? Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, menuturkan, bangunan sekolah tersebut didirikan kisaran tahun 1926/1927.

Pembangunan lembaga pendidikan setara sekolah menengah pertama (SMP) itu tidak lepas karena semakin banyaknya lulusan dari jenjang sekolah dasar (SD). ”Untuk menampung kebutuhan lulusan sekolah dasar, maka didirikan MULO Mojokerto,” terangnya.

- Advertisement -

Lokasi yang dipilih adalah di Jalan Timur atau yang kini berganti nama menjadi Jalan Gajah Mada. Menurutnya, dalam struktur pendidikan zaman kolonial, MULO merupakan sekolah yang menerima siswa lulusan Holladscsh-Inlandsche School (HIS) atau Desaschool yang kerap disebut sebagai Sekolah Rakyat (SR).

Baca Juga :  Kenikamatan Rasa dan Kenyamanan Tempatnya Berbeda

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, jenjang studi pada sekolah MULO terdiri atas tiga tingkatan kelas. Namun, hal itu hanya berlaku bagi lulusan Europeesch Lagere School (ELS).

Jika berasal dari luar lembaga tersebut, maka jenjang studi ditambah 1 tahun untuk voorklasse atau kelas persiapan. ”MULO merupakan pendidikan lanjutan satu-satunya di Mojokerto,” terangnya. Dia mengatakan, lulusan dari MULO bisa meneruskan sekolah ke jenjang berikutnya ke Algemeene Middelbare School (AMS).

Namun, keberadaan MULO Mojokerto berlangsung hingga masuknya pasukan Jepang. Saat itu, sekolah sempat ditutup sementara dan kembali dibuka pada tahun 1943. Namun, jelas Yuhan, sekolah lanjutan tersebut tidak diaktifkan sebagai sekolah umum lagi.

Melainkan dijadikan sebagai sekolah yang khusus mengajarkan ilmu bertani yang diberinama Nagyo Gakko Mojokerto atau yang juga disebut Noogakko Mojokerto. Nagyo Gakko Mojokerto merupakan sekolah menengah pertanian itu menampung siswa sedikitnya berusia 13 tahun dan maksimal 17 tahun.

Di samping harus dalam kondisi sehat dan berkelakuan baik, calon siswa yang mendaftar juga harus memiliki ijazah dari HIS atau ELS. Disebutkan Yuhan, jika angkatan pertama dipersiapkan kuota sebanyak 70-90 siswa.

Baca Juga :  KPU Mojokerto Siapkan Dana Kematian

Bagi pendaftar yang lolos persyaratan administrasi diwajibkan untuk menjalani tes kemampuan akademik. Antara lain, ujian bahasa Jepang, bahasa Indonesia, ilmu berhitung, dan tes jasmani. Akan tetapi, di balik pendirian lembaga Noogakko tersebut terdapat kepentingan dari pasukan Negeri Matahari Terbit.

Pasalnya, Jepang mengubah pelajaran sekolah dikarenakan butuh tenaga ahli di bidang pertanian. ”Sektor penghasil bahan pangan sangat dibutuhkan untuk bisa memenangkan perang melawan sekutu,” ulas Yuhan. Dalam perjalanannya Noogakko Mojokerto tidak sempat meluluskan siswanya.

Sebab, pada Agsutus 1945 Jepang menyerah di tangan musuh. Kala itu, sekolah pertanian tersebut baru saja membuka pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) di kelas I. Sedangkan jenjang tertinggi masih duduk di bangku kelas III.

Kendati demikian, dari lembaga pendidikan Noogakko itu kemudian terbentuk Angkatan Pelajar Indonesia (API) Mojokerto pada masa revolusi. Organisasi pelajar tersebut kemudian melebur dalam Tentara Rakyat Indonesia (TRI) Pelajar untuk berjuang mempertahankan kemerdakaan.

”Bekas sekolah pertanian Noogako juga dijadikan sebagai markas API Mojokerto,” tandasnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/