alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Harga Belum Selegit Rasanya

Kelezatan buah durian hampir semua orang tahu. Teksturnya yang lembut dengan rasa manis legit di lidah membuat penggemarnya selalu ketagihan. Termasuk untuk jenis durian khas Trawas. Selama musim pandemi ini, buah berkulit tajam tersebut tetap menjadi primadona. Kendati harganya selangit karena belum memasuki masa panen raya.

PECINTA durian akan memburu durian dari setiap daerah yang memiliki durian khas. Di Indonesia, nyaris tiap daerah di sebuah kawasan memiliki durian khas masing-masing. Salah satunya, Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Desa tersebut memiliki julukan Kampung Durian lantaran banyak petani yang membudidaya durian, meski masih dalam skala kecil. ”Kalau dulu saya kecil ya yang jual masih dapat dihitung, termasuk ibu saya (Aminah). Sekarang sudah banyak yang jual. Tiap-tiap rumah pasti ada. Tinggal milih,” ujar salah satu penjual sekaligus pembudidaya durian, Eka Nur Oktaviana.

Jenis durian yang dibudidaya di Desa Duyung sangat beragam. Mulai dari durian montong, musang king, bawor, dan mrica. Namun, durian yang lebih dominan diburu pembeli adalah durian mrica. Durian mrica sendiri merupakan durian khas Trawas. ”Bedanya ada di rasa. Kalau yang mrica itu ada legit-legitnya.

Baca Juga :  Digelorakan Kiai, Bakar Patriotisme Santri

Terus dagingnya tebal, hampir sama kayak durian mentega. Cuma legitnya itu yang membuat beda,” ungkap wanita 31 tahun ini. Eka menyebutkan, meski baru memasuki masa panen awal, harga buah berduri tajam ini masih cukup mahal. Maklum, pengambilan atau proses panennya membutuhkan tahapan yang rumit.

Mulai dari penebasan hingga pemanjatan. Wanita lulusan Stikes Bina Sehat PPNI Mojokerto tersebut mengungkapkan, dia tak hanya memiliki ladang sendiri untuk menanam durian. Namun, juga membeli pohon dari beberapa petani dengan sistem tebasan (borongan). ”Gitu kan ada yang stek juga, beli pohonnya pun mahal. Kisaran harga mulai Rp 2 juta hingga Rp 8 juta. Itupun belum tentu buahnya lebat,” tuturnya.

Sedangkan untuk harga durian paling murah yang dijual mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per buah. Bahkan, ada pula yang ditawarkan Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu. Tergantung jenis dan ukuran. Selama ini, ragam buah durian tersebut selama ini dijajakan di rumahnya sendiri.

Baca Juga :  Bojoku Kepincut Dunyone Tonggo

Dikatakan Eka, harga durian dengan ukuran kecil hingga yang terbesar itu disesuaikan dan sepantasnya. ”Kulakannya belum gampang, ya karena itu tadi proses panennya susah. Biaya manjatnya juga mahal. Jadi ya kalau musim durian pun harga masih terbilang mahal,” lanjutnya.

Dalam sebulan, dia merinci bisa meraup keuntungan mulai Rp 6 juta hingga 16 juta. Usaha durian miliknya selama pandemi ini, masih tetap stabil. Eka menuturkan langganannya tetap membeli durian saat mendekati bulan panen. Selain dari Mojokerto, pelanggannya pun mayoritas warga Surabaya dan Sidoarjo.

Menurut Eka, banyak yang mencari durian digunakan sebagai dopping selama musim pancaroba. ”Mitosnya sih gitu, buat badan jadi hangat. Makanya, kalau bulan Desember-Februari pasti banyak yang datang ke sini (Trawas),” tandasnya. (oce)

 

 

 

Kelezatan buah durian hampir semua orang tahu. Teksturnya yang lembut dengan rasa manis legit di lidah membuat penggemarnya selalu ketagihan. Termasuk untuk jenis durian khas Trawas. Selama musim pandemi ini, buah berkulit tajam tersebut tetap menjadi primadona. Kendati harganya selangit karena belum memasuki masa panen raya.

PECINTA durian akan memburu durian dari setiap daerah yang memiliki durian khas. Di Indonesia, nyaris tiap daerah di sebuah kawasan memiliki durian khas masing-masing. Salah satunya, Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Desa tersebut memiliki julukan Kampung Durian lantaran banyak petani yang membudidaya durian, meski masih dalam skala kecil. ”Kalau dulu saya kecil ya yang jual masih dapat dihitung, termasuk ibu saya (Aminah). Sekarang sudah banyak yang jual. Tiap-tiap rumah pasti ada. Tinggal milih,” ujar salah satu penjual sekaligus pembudidaya durian, Eka Nur Oktaviana.

Jenis durian yang dibudidaya di Desa Duyung sangat beragam. Mulai dari durian montong, musang king, bawor, dan mrica. Namun, durian yang lebih dominan diburu pembeli adalah durian mrica. Durian mrica sendiri merupakan durian khas Trawas. ”Bedanya ada di rasa. Kalau yang mrica itu ada legit-legitnya.

Baca Juga :  Sandhing-Vani Dinobatkan sebagai Juara Gus Yuk Tahun 2018

Terus dagingnya tebal, hampir sama kayak durian mentega. Cuma legitnya itu yang membuat beda,” ungkap wanita 31 tahun ini. Eka menyebutkan, meski baru memasuki masa panen awal, harga buah berduri tajam ini masih cukup mahal. Maklum, pengambilan atau proses panennya membutuhkan tahapan yang rumit.

Mulai dari penebasan hingga pemanjatan. Wanita lulusan Stikes Bina Sehat PPNI Mojokerto tersebut mengungkapkan, dia tak hanya memiliki ladang sendiri untuk menanam durian. Namun, juga membeli pohon dari beberapa petani dengan sistem tebasan (borongan). ”Gitu kan ada yang stek juga, beli pohonnya pun mahal. Kisaran harga mulai Rp 2 juta hingga Rp 8 juta. Itupun belum tentu buahnya lebat,” tuturnya.

- Advertisement -

Sedangkan untuk harga durian paling murah yang dijual mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per buah. Bahkan, ada pula yang ditawarkan Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu. Tergantung jenis dan ukuran. Selama ini, ragam buah durian tersebut selama ini dijajakan di rumahnya sendiri.

Baca Juga :  Putra Menantu Abdul Gani Masuk Bursa Pendamping Ning Ita

Dikatakan Eka, harga durian dengan ukuran kecil hingga yang terbesar itu disesuaikan dan sepantasnya. ”Kulakannya belum gampang, ya karena itu tadi proses panennya susah. Biaya manjatnya juga mahal. Jadi ya kalau musim durian pun harga masih terbilang mahal,” lanjutnya.

Dalam sebulan, dia merinci bisa meraup keuntungan mulai Rp 6 juta hingga 16 juta. Usaha durian miliknya selama pandemi ini, masih tetap stabil. Eka menuturkan langganannya tetap membeli durian saat mendekati bulan panen. Selain dari Mojokerto, pelanggannya pun mayoritas warga Surabaya dan Sidoarjo.

Menurut Eka, banyak yang mencari durian digunakan sebagai dopping selama musim pancaroba. ”Mitosnya sih gitu, buat badan jadi hangat. Makanya, kalau bulan Desember-Februari pasti banyak yang datang ke sini (Trawas),” tandasnya. (oce)

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Pejabat Jadi Sapi Perah

Berbalut Sensasi Rempah

Akhir Pekan, Volume Kendaraan Naik

Artikel Terbaru


/