alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Rekaman Sendiri, Diedit Sendiri, Cari Pasir pun Sendiri

Lomba Video Pembelajaran (LVP) 2020 bertema Guruku Kreatif, Wali Kota Inovatif tak hanya meningkatkan kreativitas mengajar selama pandemi. Namun, dari 148 video yang dikirimkan peserta, dinilai inovatif, edukatif, dan inspiratif. Hal inilah yang mengantar Auniyah Nida’ul Azizah asal SD Muhammadiyah peraih juara I.

 

INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto 

ANTARA percaya dan tidak. Nida, begitu Auniyah  Nida’ul Azizah akrab disapa, awalnya merasa pesimistis dirinya bakal masuk nominasi. Terlebih setelah melihat karya video pembelajaran guru-guru lain. Nida, tak pernah berpikir akan memiliki kesempatan untuk masuk dalam nominasi pemenang. Apalagi, mendapat juara I dalam LVP 2020 yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Mojokerto bereng Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto ini.

Guru SD Plus Muhammadiyah Brawijaya ini menceritakan proses pembuatan video miliknya sangat mendadak. ”Pembuatannya diburu dengan waktu. Pagi rekaman, malam diedit. Besoknya disetorkan. Pasrah. Menang atau nggak nanti saja lihat kata Allah,” ujar wanita 27 tahun itu ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto seusai menerima penghargaan di Pendapa Rumah Rakyat, Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto.

Proses perekaman dari video pembelajaran tersebut tak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih hanya 3 jam. Baru ketika masuk proses pengeditan, ia mengaku butuh berjam-jam untuk memberikan sentuhan kepada video pembelajaran yang diikutkan lomba.

Baca Juga :  Live Streaming YouTube, Pagi Ini Anugerah LVP Diserahkan Wali Kota

Ia hanya mengedit video melalui smartphone miliknya. Bahkan, sempat membuat smartphone-nya panas karena terlalu lama digunakan mengedit video. ”Bisa 4 sampai 5 jam ngedit, tapi saya jeda makan dan istirahat. Baru diserahkan ke admin dan disampaikan kepada panitia (Jawa Pos Radar Mojokerto),” ungkap guru pengajar kelas V ini.

Nida mengatakan, tema pembelajaran yang ia angkat dalam video tersebut merupakan materi pembelajaran tentang perubahan wujud benda. Ide tersebut ia dapatkan dari kakak kelasnya. Masih jarang guru yang menerangkan materi tentang perubahan wujud benda dalam praktik. Terlebih ia menilai belum ada yang membuat video tentang pelajaran tersebut. ”Setahun lalu pernah saya praktikkan sama anak-anak, tapi ndak didokumentasikan. Berhubung sekarang pandemi ya sudah saya buat video sekalian,” tutur warga asal Miji Baru III, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan ini.

Selama pembuatan video, ia mengaku banyak kejadian-kejadian yang ia alami. Mulai dari mencari tempat yang sepi, background yang polos, hingga mencari peralatan sebagai bahan praktik dalam video. Seperti pasir, es batu, dan kaleng wafer. Nida mulai memaparkan perekaman video tersebut ia mulai saat anak-anak sudah pulang sekolah. Lalu, ia menggeser papan tulis di salah satu ruang kelas agar bisa mendapatkan green screen dan otomatis memudahkan ia untuk editing video. ”Juga saya kurang hati-hati, karena alat yang saya pakai sampai tumpah kayak es batu itu. Kendalanya ya memang alat praktiknya banyak. Apalagi saya rekaman sendiri, ngedit sendiri,” katanya sambil tertawa.

Baca Juga :  LVP 2020: Terpilih Empat Nominasi Juara, Ini Nama-Namanya

Ia menuturkan, awalnya tak paham dengan editing video. Namun, karena pandemi sekolahnya mewajibkan bagi guru-guru mulai bisa melakukan pembelajaran lewat video. ”Awalnya masih jelek, kasar, lama-lama terbiasa. Akhirnya bisa nambah musik, bisa motong, bisa langsung rekaman pakai aplikasi, dan hasilnya lumayan baik,” kenangnya.

Melalui perolehan juara tersebut, ia berpesan pada guru-guru yang lain agar tetap semangat selama pandemi. Meskipun berbagai kendala dan dengan keadaan terbatas. Ia berharap kreativitas guru dalam mengadakan inovasi dalam metode pembelajaran tetap berjalan. ”Jangan pernah menyerah demi murid-murid agar mereka juga tambah jadi semangat belajar,” tandas perempuan yang dalam waktu dekat ini bakal mengakhiri masa lajangnya.

Lomba Video Pembelajaran (LVP) 2020 bertema Guruku Kreatif, Wali Kota Inovatif tak hanya meningkatkan kreativitas mengajar selama pandemi. Namun, dari 148 video yang dikirimkan peserta, dinilai inovatif, edukatif, dan inspiratif. Hal inilah yang mengantar Auniyah Nida’ul Azizah asal SD Muhammadiyah peraih juara I.

 

INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto 

ANTARA percaya dan tidak. Nida, begitu Auniyah  Nida’ul Azizah akrab disapa, awalnya merasa pesimistis dirinya bakal masuk nominasi. Terlebih setelah melihat karya video pembelajaran guru-guru lain. Nida, tak pernah berpikir akan memiliki kesempatan untuk masuk dalam nominasi pemenang. Apalagi, mendapat juara I dalam LVP 2020 yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Mojokerto bereng Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto ini.

Guru SD Plus Muhammadiyah Brawijaya ini menceritakan proses pembuatan video miliknya sangat mendadak. ”Pembuatannya diburu dengan waktu. Pagi rekaman, malam diedit. Besoknya disetorkan. Pasrah. Menang atau nggak nanti saja lihat kata Allah,” ujar wanita 27 tahun itu ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto seusai menerima penghargaan di Pendapa Rumah Rakyat, Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto.

Proses perekaman dari video pembelajaran tersebut tak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih hanya 3 jam. Baru ketika masuk proses pengeditan, ia mengaku butuh berjam-jam untuk memberikan sentuhan kepada video pembelajaran yang diikutkan lomba.

Baca Juga :  Live Streaming YouTube, Pagi Ini Anugerah LVP Diserahkan Wali Kota
- Advertisement -

Ia hanya mengedit video melalui smartphone miliknya. Bahkan, sempat membuat smartphone-nya panas karena terlalu lama digunakan mengedit video. ”Bisa 4 sampai 5 jam ngedit, tapi saya jeda makan dan istirahat. Baru diserahkan ke admin dan disampaikan kepada panitia (Jawa Pos Radar Mojokerto),” ungkap guru pengajar kelas V ini.

Nida mengatakan, tema pembelajaran yang ia angkat dalam video tersebut merupakan materi pembelajaran tentang perubahan wujud benda. Ide tersebut ia dapatkan dari kakak kelasnya. Masih jarang guru yang menerangkan materi tentang perubahan wujud benda dalam praktik. Terlebih ia menilai belum ada yang membuat video tentang pelajaran tersebut. ”Setahun lalu pernah saya praktikkan sama anak-anak, tapi ndak didokumentasikan. Berhubung sekarang pandemi ya sudah saya buat video sekalian,” tutur warga asal Miji Baru III, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan ini.

Selama pembuatan video, ia mengaku banyak kejadian-kejadian yang ia alami. Mulai dari mencari tempat yang sepi, background yang polos, hingga mencari peralatan sebagai bahan praktik dalam video. Seperti pasir, es batu, dan kaleng wafer. Nida mulai memaparkan perekaman video tersebut ia mulai saat anak-anak sudah pulang sekolah. Lalu, ia menggeser papan tulis di salah satu ruang kelas agar bisa mendapatkan green screen dan otomatis memudahkan ia untuk editing video. ”Juga saya kurang hati-hati, karena alat yang saya pakai sampai tumpah kayak es batu itu. Kendalanya ya memang alat praktiknya banyak. Apalagi saya rekaman sendiri, ngedit sendiri,” katanya sambil tertawa.

Baca Juga :  Suamiku Dinner Bareng WIL

Ia menuturkan, awalnya tak paham dengan editing video. Namun, karena pandemi sekolahnya mewajibkan bagi guru-guru mulai bisa melakukan pembelajaran lewat video. ”Awalnya masih jelek, kasar, lama-lama terbiasa. Akhirnya bisa nambah musik, bisa motong, bisa langsung rekaman pakai aplikasi, dan hasilnya lumayan baik,” kenangnya.

Melalui perolehan juara tersebut, ia berpesan pada guru-guru yang lain agar tetap semangat selama pandemi. Meskipun berbagai kendala dan dengan keadaan terbatas. Ia berharap kreativitas guru dalam mengadakan inovasi dalam metode pembelajaran tetap berjalan. ”Jangan pernah menyerah demi murid-murid agar mereka juga tambah jadi semangat belajar,” tandas perempuan yang dalam waktu dekat ini bakal mengakhiri masa lajangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/