alexametrics
24.2 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Menjelma Menjadi Orator yang Membius

SAMA seperti organisasi lainnya, BPRI Mojokerto juga melebarkan sayapnya ke wilayah kecamatan-kecamatan. Meski begitu, kala itu, secara kuantitas, anggota BPRI masih kalah dengan Hizbullah maupun PRI. ’’Karena itu BPRI tidak banyak mewarnai dinamika politik lokal Mojokerto di awal kemerdekaan,’’ ulas sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq.

Tidak mengherankan, besarnya jumlah anggota Hizbullah dan PRI karena memiliki dukungan kuat di basis massa. Hizbullah disokong penuh oleh para kiai di Mojokerto. Sedangkan PRI kuat karena di-back up oleh Bupati ke-10 Mojokerto, dr. Soekandar, yang juga merupakan pendiri PRI Mojokerto.

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini, menambahkan, Bung Tomo menjelma menjadi orator yang pidatonya mampu membius pendengarnya. Pernah suatu kali Bung Tomo mengajak untuk salat Idul Fitri di Surabaya. ’’Ajakan tersebut berarti merebut kembali Surabaya dari tangan musuh,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Bentuk Skuad Tim U-15

Pidato itu direspons dengan menyiapkan serangan umum yang dikenal dengan pertempuran 10 November 1945. Bung Tomo memang dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi. Begitu kuatnya kata-katanya hingga banyak masyarakat bertindak tanpa memikirkan risiko.

’’Kemudian membawa musibah dengan banyaknya pejuang yang gugur. Mereka dihadang lawan sebelum masuk ke Surabaya,’’ tandasnya.
Meskipun kalah dalam Pertempuran 10 November itu, kejadian tersebut tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Situasi pun berubah ketika Kota Surabaya jatuh dan semua komponen perjuangan pindah ke daerah luar Surabaya. ’’Salah satu pilihan tempat pemindahan adalah Mojokerto,’’ kata Yuhan.

Baca Juga :  Jadi Ritual Malam 1 Sura, Tempat Mandi Bangsawan
MicrosoftInternetExplorer4 Pemindahan ke Mojokerto dilakukan secara besar-besaran, mulai dari Gubernuran, markas tentara Jawa Timur, PRI, dan TKR divisi Narotama pimpinan Kolonel Sungkono mengambil bangunan kompleks PG Sentanen Lor sebagai markasnya.

Yuhan menambahkan, pengungsian juga dilakukan oleh BPRI pusat yang dipimpin langsung oleh Bung Tomo. Sebuah bangunan bekas pabrik karet milik Sioe Toe Kong dijadikan markas pusat BPRI. Bangunan yang ada di sisi timur Jalan Majapahit itu masih ada hingga kini.

Pada saat itu semua kendali BPRI dilakukan dari Mojokerto. Ikut dipindahkan pula pemancar radio pemberontak dari Surabaya ke wilayah sekitar Trawas-Prigen. ’’Pemancar radio itu juga ada di Mojokerto yang ditempatkan di kompleks bangunan SMA TNH. Pemancar yang digunakan bersamaan oleh RRI dan Radio Pemberontak,’’ paparnya.

SAMA seperti organisasi lainnya, BPRI Mojokerto juga melebarkan sayapnya ke wilayah kecamatan-kecamatan. Meski begitu, kala itu, secara kuantitas, anggota BPRI masih kalah dengan Hizbullah maupun PRI. ’’Karena itu BPRI tidak banyak mewarnai dinamika politik lokal Mojokerto di awal kemerdekaan,’’ ulas sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq.

Tidak mengherankan, besarnya jumlah anggota Hizbullah dan PRI karena memiliki dukungan kuat di basis massa. Hizbullah disokong penuh oleh para kiai di Mojokerto. Sedangkan PRI kuat karena di-back up oleh Bupati ke-10 Mojokerto, dr. Soekandar, yang juga merupakan pendiri PRI Mojokerto.

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini, menambahkan, Bung Tomo menjelma menjadi orator yang pidatonya mampu membius pendengarnya. Pernah suatu kali Bung Tomo mengajak untuk salat Idul Fitri di Surabaya. ’’Ajakan tersebut berarti merebut kembali Surabaya dari tangan musuh,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Gugurnya sang Kiai Pejuang di Medan Perang

Pidato itu direspons dengan menyiapkan serangan umum yang dikenal dengan pertempuran 10 November 1945. Bung Tomo memang dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi. Begitu kuatnya kata-katanya hingga banyak masyarakat bertindak tanpa memikirkan risiko.

- Advertisement -

’’Kemudian membawa musibah dengan banyaknya pejuang yang gugur. Mereka dihadang lawan sebelum masuk ke Surabaya,’’ tandasnya.
Meskipun kalah dalam Pertempuran 10 November itu, kejadian tersebut tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Situasi pun berubah ketika Kota Surabaya jatuh dan semua komponen perjuangan pindah ke daerah luar Surabaya. ’’Salah satu pilihan tempat pemindahan adalah Mojokerto,’’ kata Yuhan.

Baca Juga :  Diajak Asah Kepribadian, Table Manner dan Publik Speaking
MicrosoftInternetExplorer4 Pemindahan ke Mojokerto dilakukan secara besar-besaran, mulai dari Gubernuran, markas tentara Jawa Timur, PRI, dan TKR divisi Narotama pimpinan Kolonel Sungkono mengambil bangunan kompleks PG Sentanen Lor sebagai markasnya.

Yuhan menambahkan, pengungsian juga dilakukan oleh BPRI pusat yang dipimpin langsung oleh Bung Tomo. Sebuah bangunan bekas pabrik karet milik Sioe Toe Kong dijadikan markas pusat BPRI. Bangunan yang ada di sisi timur Jalan Majapahit itu masih ada hingga kini.

Pada saat itu semua kendali BPRI dilakukan dari Mojokerto. Ikut dipindahkan pula pemancar radio pemberontak dari Surabaya ke wilayah sekitar Trawas-Prigen. ’’Pemancar radio itu juga ada di Mojokerto yang ditempatkan di kompleks bangunan SMA TNH. Pemancar yang digunakan bersamaan oleh RRI dan Radio Pemberontak,’’ paparnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/