alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Ditodong Benda Tajam hingga Dipanggil Pak Guru

Posyandu identik dengan lansia dan balita. Namun, lain halnya posyandu jiwa di kantor Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari. Yang dilayani justru kelompok Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Selama belasan tahun, Siswoyo perawat setempat telaten memberi terapi kalangan ODGJ. Bagaimana ceritanya?

INDAH OCEANANDA, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto

Wajah para penderita gangguan jiwa yang datang ke Kantor Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto semringah. Sebagian ODGJ tampak duduk melingkar di lantai sembari merangkai tas anyaman.

Sebagian ada yang tengah menjalani pemeriksaan kesehatan. Namun, ada pula yang tengah asyik berkaraoke ria. ’’Kita biasanya adakan posyandu jiwa ini setiap minggu ketiga hari Rabu,’’ ujar pemegang program posyandu jiwa Kelurahan Balongsari, Siswoyo.

Pria yang bertugas di Pustu Balongsari ini menyebutkan, total hingga saat ini ada 63 ODGJ yang ditangani di posyandu jiwa. Tak hanya berasal dari Kelurahan Balongsari saja. Mereka juga dari kelurahan lain. Siswoyo menuturkan, dalam menggelar posyandu ini ia dibantu dengan perawat lain dari Puskesmas Gedongan dan 12 kader lainnya. ’’Ya membimbing mereka, mulai dari cek kesehatan sampai melakukan terapi dengan mengajari latihan pembuatan kerajinan agar pikiran mereka teralihkan,’’ ulas pria asli Tulungagung ini.

Baca Juga :  Diprediksi 10 Incumbent Bertahan, Wajah Baru Dominasi Kursi Dewan Kota

Siswoyo mengatakan sudah 18 tahun dirinya mendampingi program posyandu jiwa ini. Selama belasan tahun itu pula, diserang ODGJ bukan hal yang baru lagi baginya. Bahkan, dirinya sempat ditodong dengan benda tajam oleh mereka. ’’Waktu kita mau kunjungan ke rumah, dia melawan. Saya ditodong pisau atau gunting gitu karena gak mau dikasih obat,’’ beber mantan perawat RSUD dr Soetomo Surabaya ini.

Dia menjelaskan, keberadaan posyandu jiwa ini sendiri terbilang sangat membantu. Sebab, di tahun 2010 silam, masih banyak warga yang belum aware dengan pentingnya kesehatan jiwa. Itu terbukti, dari tingginya rujukan ODGJ yang harus dirawat di RSJ saat itu.

’’Maksimal dulu bisa sampai 30 orang yang dirujuk dalam setahun. Karena memang mereka yang dirujuk ini tidak ada keluarganya,’’ kata PNS Pemkot Mojokerto ini. Namun, semenjak diterbitkannya undang-undang tentang kesehatan mental tahun 2014 lalu, sedikit demi sedikit warga akhirnya peduli dengan kesehatan jiwa. Kini, jumlah rujukan dalam setahun mencapai 8 orang.

Pria 42 tahun ini mengungkapkan, dari ODGJ yang didampinginya selama 18 tahun, banyak yang sudah sembuh. Namun, banyak pula yang masih menjalani terapi penyembuhan hingga kini. Bahkan, ada pula ODGJ yang sudah sembuh selama 10 tahun namun kumat lagi. ’’Akhirnya balik ke sini lagi menjalani terapi sekarang. Padahal saat sembuh kemarin sempat kerja di luar pulau,’’ papar dia. Memang, diakuinya tahap penyembuhan jiwa tak semudah mengobati penyakit fisik. Alias membutuhkan waktu cukup lama.

Baca Juga :  Watercolor Nail Art, Lebih dari Cantik

Mengabdi belasan tahun bersama ODGJ, Siswoyo punya panggilan akrab di posyandu jiwa. Para ODGJ itu kerap memanggilnya Pak Guru. Lantaran, Siswoyo tak hanya mengajari mereka keterampilan saja. Namun, kadang juga menegur mereka jika berbuat salah. ’’Tapi, karakter orang kan beda-beda. Jadi, harus mendalami sifat mereka satu-satu. Lagipula, tingkat masalah dan stres yang dihadapi satu sama lain tidak sama,’’ jelas pria yang tinggal di Desa Kenanten, Kecamatan Puri ini.

Meski sudah banyak “meluluskan” ODGJ, Siswoyo dan para pendamping di posyandu jiwa masih bercita-cita menambah jenis keterampilan yang diajarkan. Sehingga, untuk aktivitas pengalihan pikiran, mereka tak hanya bisa menganyam dan merajut saja. Melainkan bisa mengajarkan keterampilan di bidang lainnya. ’’Seperti servis elektronik atau motor gitu. Tapi, kita saat ini masih fokus mendapatkan tempat dan kelengkapan sarpras untuk mendukung penyembuhan mereka. Semoga saja,’’ tutupnya. (fen)

Posyandu identik dengan lansia dan balita. Namun, lain halnya posyandu jiwa di kantor Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari. Yang dilayani justru kelompok Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Selama belasan tahun, Siswoyo perawat setempat telaten memberi terapi kalangan ODGJ. Bagaimana ceritanya?

INDAH OCEANANDA, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto

Wajah para penderita gangguan jiwa yang datang ke Kantor Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto semringah. Sebagian ODGJ tampak duduk melingkar di lantai sembari merangkai tas anyaman.

Sebagian ada yang tengah menjalani pemeriksaan kesehatan. Namun, ada pula yang tengah asyik berkaraoke ria. ’’Kita biasanya adakan posyandu jiwa ini setiap minggu ketiga hari Rabu,’’ ujar pemegang program posyandu jiwa Kelurahan Balongsari, Siswoyo.

Pria yang bertugas di Pustu Balongsari ini menyebutkan, total hingga saat ini ada 63 ODGJ yang ditangani di posyandu jiwa. Tak hanya berasal dari Kelurahan Balongsari saja. Mereka juga dari kelurahan lain. Siswoyo menuturkan, dalam menggelar posyandu ini ia dibantu dengan perawat lain dari Puskesmas Gedongan dan 12 kader lainnya. ’’Ya membimbing mereka, mulai dari cek kesehatan sampai melakukan terapi dengan mengajari latihan pembuatan kerajinan agar pikiran mereka teralihkan,’’ ulas pria asli Tulungagung ini.

Baca Juga :  Dipanggil Bawaslu, Yoko-Kusnan Siap Mundur dari ASN

Siswoyo mengatakan sudah 18 tahun dirinya mendampingi program posyandu jiwa ini. Selama belasan tahun itu pula, diserang ODGJ bukan hal yang baru lagi baginya. Bahkan, dirinya sempat ditodong dengan benda tajam oleh mereka. ’’Waktu kita mau kunjungan ke rumah, dia melawan. Saya ditodong pisau atau gunting gitu karena gak mau dikasih obat,’’ beber mantan perawat RSUD dr Soetomo Surabaya ini.

- Advertisement -

Dia menjelaskan, keberadaan posyandu jiwa ini sendiri terbilang sangat membantu. Sebab, di tahun 2010 silam, masih banyak warga yang belum aware dengan pentingnya kesehatan jiwa. Itu terbukti, dari tingginya rujukan ODGJ yang harus dirawat di RSJ saat itu.

’’Maksimal dulu bisa sampai 30 orang yang dirujuk dalam setahun. Karena memang mereka yang dirujuk ini tidak ada keluarganya,’’ kata PNS Pemkot Mojokerto ini. Namun, semenjak diterbitkannya undang-undang tentang kesehatan mental tahun 2014 lalu, sedikit demi sedikit warga akhirnya peduli dengan kesehatan jiwa. Kini, jumlah rujukan dalam setahun mencapai 8 orang.

Pria 42 tahun ini mengungkapkan, dari ODGJ yang didampinginya selama 18 tahun, banyak yang sudah sembuh. Namun, banyak pula yang masih menjalani terapi penyembuhan hingga kini. Bahkan, ada pula ODGJ yang sudah sembuh selama 10 tahun namun kumat lagi. ’’Akhirnya balik ke sini lagi menjalani terapi sekarang. Padahal saat sembuh kemarin sempat kerja di luar pulau,’’ papar dia. Memang, diakuinya tahap penyembuhan jiwa tak semudah mengobati penyakit fisik. Alias membutuhkan waktu cukup lama.

Baca Juga :  Diprediksi 10 Incumbent Bertahan, Wajah Baru Dominasi Kursi Dewan Kota

Mengabdi belasan tahun bersama ODGJ, Siswoyo punya panggilan akrab di posyandu jiwa. Para ODGJ itu kerap memanggilnya Pak Guru. Lantaran, Siswoyo tak hanya mengajari mereka keterampilan saja. Namun, kadang juga menegur mereka jika berbuat salah. ’’Tapi, karakter orang kan beda-beda. Jadi, harus mendalami sifat mereka satu-satu. Lagipula, tingkat masalah dan stres yang dihadapi satu sama lain tidak sama,’’ jelas pria yang tinggal di Desa Kenanten, Kecamatan Puri ini.

Meski sudah banyak “meluluskan” ODGJ, Siswoyo dan para pendamping di posyandu jiwa masih bercita-cita menambah jenis keterampilan yang diajarkan. Sehingga, untuk aktivitas pengalihan pikiran, mereka tak hanya bisa menganyam dan merajut saja. Melainkan bisa mengajarkan keterampilan di bidang lainnya. ’’Seperti servis elektronik atau motor gitu. Tapi, kita saat ini masih fokus mendapatkan tempat dan kelengkapan sarpras untuk mendukung penyembuhan mereka. Semoga saja,’’ tutupnya. (fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/