alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Pekik Perjuangan Pemuda dalam Mengusir Penjajah

KEBERADAAN monumen yang tersebar di wilayah Kaupaten Mojokerto nampaknya masih banyak menimbulkan tanya bagi masyarakat. Seperti halnya beberapa monumen di area Kecamatan Pacet. Di antaranya monumen berupa dua patung setinggi sekitar 8,25 meter, di Desa/Kecamatan Pacet. Berdiri tepat di simpang tiga sebelah utara koramil Pacet itu adalah monumen bersejarah.

Camat Pacet Norman Handhito, menuturkan, banyak tugu dan monumen sebagai bukti sejarah di wilayah selatan. Salah satunya monumen perjuangan Batalyon Komando Hayam Wuruk. ’’Monumen ini yang masih utuh dan berdiri tegak di pacet,’’ ungkap Norman.

Menurutnya, meski tak banyak masyarakat yang tahu sejarah perjuangan menduduki wilayah Pacet dengan Komando Hayamuruk, namun hingga detik ini, masih percaya bahwa monumen itu merupakan tanda dan bagian dari sejarah yang ada. Monumen dengan menggambarkan pasukan operasi komando Hayam Wuruk yang berhasil menduduki wilayah Pacet itu juga masih berdiri kokoh. ’’Soal kapan persisnya dibangun, itu masih simpang siur. Masyarakat tidak banyak yang tahu,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Akar Kemunculan Praktik Politik Uang, sejak dari Pemilihan Lurah

Hanya saja, berbagai dari informasi, tugu tersebut pernah di cat ulang dan diperindah pada era Camat Gangsar tahun 1992 an. ’’Lebihnya, kami sendiri masih belum banyak mengalihnya,’’ tandasnya. Dari beberapa referensi, kisah perjuangan pasukan komando Hayam Wuruk ini dimulai dari serangan Belanda yang sat itu masih menduduki dan menguasai wilayah Mojokerto.

Meliputi,  Bupati, Camat sampai Kepala Desa dan segala perangkat adalah orang-orang angkatan Belanda. ’’Semua gerakan masyarakat selalu dimata-matai musuh,’’ tuturnya. Kata dia, banyak penduduk yang menjadi mata-mata Belanda, dengan bayaran setimpal. ’’Bahkan dalam sejarah, Belanda juga melakukan adu domba antara masyarkat kita sendiri,’’ imbuhnya.

Norman menambahkan, atas dasar itu, tepat tahun 1948, Gubernur Militer Jawa Timur/Panglima Divisi I Kolonel Soengkono, akhirnya mengeluarkan perintah siasat kepada Mayor Pamu Rahardjo untuk bergerak dan menduduki kota Surabaya, termasuk di wilayah Pacet. ’’Komandan Operasinya saat itu adalah Mayor Pamu Rahardjo dengan nama lain Komando Hayam Wuruk,’’ ujarnya.

Dalam operasinya, pada tahap pertama, komando harus dapat menguasai daerah Surabaya. Sedangkan, pada tahap kedua, antara menyeberangi sungai Porong untuk masuk ke Brantas Delta, antara  kalimas dan sungai Porong. Selain itu, dalam gerakannya, komando Hayam Wuruk ini, juga akan melewati kampung-kampung di lereng Gunung Anjasmoro untuk selanjutnya, Yon Mansyur Solichi diperintahkan menyerang da merebut kota Pacet.

Baca Juga :  Pengemudi Rush Tewas Tertusuk Dahan Pohon

Saat itu, Yon Mobrig diperintahkan menyerang Dinoyo, Yon Soetjipto diperintahkan menyerang Claket dan Trawas. Sementara, Yon Isa Idris sebagai Yon Terittorial, menduduki daerah-daerah yang mudah dibebaskan dan Yon Bambang Yuwono selanjutnya direncanakan bergerak terus ke daerah Gunung Penanggungan. ’’Sekitar 31 Desember 1948 malam hari, Yon Mansyur Solichi siap tempur dan langsung menyerang Kota Pacet,’’ tandasnya.

Kata Norman, yang mempertahankan Pacet adalah sebagian besar anak-anak muda Belanda, sehingga pertahanan Belanda di Pacet dapat dipatahkan dan Pacet dapat direbut oleh pasukan Mansyur Solichi. Kemenangan itulah kali pertama bagi Komando Hayam Wuruk. Sehingga pada malam itu juga, Yon Soetjipto berhasil melabrak musuh di Claket dan Trawas. ’’Dari itu akhirnya, muncul Monumen Perjuangan Batalyon Komando Hayam Wuruk,’’ pungkasnya.

KEBERADAAN monumen yang tersebar di wilayah Kaupaten Mojokerto nampaknya masih banyak menimbulkan tanya bagi masyarakat. Seperti halnya beberapa monumen di area Kecamatan Pacet. Di antaranya monumen berupa dua patung setinggi sekitar 8,25 meter, di Desa/Kecamatan Pacet. Berdiri tepat di simpang tiga sebelah utara koramil Pacet itu adalah monumen bersejarah.

Camat Pacet Norman Handhito, menuturkan, banyak tugu dan monumen sebagai bukti sejarah di wilayah selatan. Salah satunya monumen perjuangan Batalyon Komando Hayam Wuruk. ’’Monumen ini yang masih utuh dan berdiri tegak di pacet,’’ ungkap Norman.

Menurutnya, meski tak banyak masyarakat yang tahu sejarah perjuangan menduduki wilayah Pacet dengan Komando Hayamuruk, namun hingga detik ini, masih percaya bahwa monumen itu merupakan tanda dan bagian dari sejarah yang ada. Monumen dengan menggambarkan pasukan operasi komando Hayam Wuruk yang berhasil menduduki wilayah Pacet itu juga masih berdiri kokoh. ’’Soal kapan persisnya dibangun, itu masih simpang siur. Masyarakat tidak banyak yang tahu,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Araneae Bergelantungan Bertahan Hidup

Hanya saja, berbagai dari informasi, tugu tersebut pernah di cat ulang dan diperindah pada era Camat Gangsar tahun 1992 an. ’’Lebihnya, kami sendiri masih belum banyak mengalihnya,’’ tandasnya. Dari beberapa referensi, kisah perjuangan pasukan komando Hayam Wuruk ini dimulai dari serangan Belanda yang sat itu masih menduduki dan menguasai wilayah Mojokerto.

- Advertisement -

Meliputi,  Bupati, Camat sampai Kepala Desa dan segala perangkat adalah orang-orang angkatan Belanda. ’’Semua gerakan masyarakat selalu dimata-matai musuh,’’ tuturnya. Kata dia, banyak penduduk yang menjadi mata-mata Belanda, dengan bayaran setimpal. ’’Bahkan dalam sejarah, Belanda juga melakukan adu domba antara masyarkat kita sendiri,’’ imbuhnya.

Norman menambahkan, atas dasar itu, tepat tahun 1948, Gubernur Militer Jawa Timur/Panglima Divisi I Kolonel Soengkono, akhirnya mengeluarkan perintah siasat kepada Mayor Pamu Rahardjo untuk bergerak dan menduduki kota Surabaya, termasuk di wilayah Pacet. ’’Komandan Operasinya saat itu adalah Mayor Pamu Rahardjo dengan nama lain Komando Hayam Wuruk,’’ ujarnya.

Dalam operasinya, pada tahap pertama, komando harus dapat menguasai daerah Surabaya. Sedangkan, pada tahap kedua, antara menyeberangi sungai Porong untuk masuk ke Brantas Delta, antara  kalimas dan sungai Porong. Selain itu, dalam gerakannya, komando Hayam Wuruk ini, juga akan melewati kampung-kampung di lereng Gunung Anjasmoro untuk selanjutnya, Yon Mansyur Solichi diperintahkan menyerang da merebut kota Pacet.

Baca Juga :  Sepak Bola Kota Terancam Tak Ikut Praporprov

Saat itu, Yon Mobrig diperintahkan menyerang Dinoyo, Yon Soetjipto diperintahkan menyerang Claket dan Trawas. Sementara, Yon Isa Idris sebagai Yon Terittorial, menduduki daerah-daerah yang mudah dibebaskan dan Yon Bambang Yuwono selanjutnya direncanakan bergerak terus ke daerah Gunung Penanggungan. ’’Sekitar 31 Desember 1948 malam hari, Yon Mansyur Solichi siap tempur dan langsung menyerang Kota Pacet,’’ tandasnya.

Kata Norman, yang mempertahankan Pacet adalah sebagian besar anak-anak muda Belanda, sehingga pertahanan Belanda di Pacet dapat dipatahkan dan Pacet dapat direbut oleh pasukan Mansyur Solichi. Kemenangan itulah kali pertama bagi Komando Hayam Wuruk. Sehingga pada malam itu juga, Yon Soetjipto berhasil melabrak musuh di Claket dan Trawas. ’’Dari itu akhirnya, muncul Monumen Perjuangan Batalyon Komando Hayam Wuruk,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Plengsengan Jalan Ambrol

Ratusan Pendaftar PPK Bakal Dicoret

Perpanjangan Kontrak Proyek Diobral

Artikel Terbaru


/