alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Bung Tomo Bermarkas di Rumah Sioe Toe Kong

SOSOK Sutomo atau yang lebih akrab dikenal dengan Bung Tomo adalah salah satu pahlawan nasional yang berperan dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Namun, pasca peristiwa bersejarah itu, Bung Tomo sempat meninggalkan jejak perjuangannya di Mojokerto. Meski tidak berlangsung lama, momentum tersebut terabadikan dalam sebuah bingkai foto pidatonya yang ikonik. Diperkirakan, foto itu diambil saat Bung Tomo orasi di Mojokerto.

Hal itu disampaikan oleh Ayuhanafiq, sejarawan asal Mojokerto. Dari sedikit bangunan kuno yang tersisa di kawasan Pecinan Mojokerto menjadi saksi bisu jejak perjalanan Bung Tomo. Adalah sebuah rumah peninggalan Sioe Toe Kong yang hingga kini masih berdiri di Jalan Mojopahit.

Baca Juga :  Penampilan Terkesan Imut Nan Cantik

’’Rumah itu pernah digunakan sebagai markas Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo,’’ jelasnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menjelaskan, oleh pemiliknya, gudang besar di belakangnya difungsikan untuk mengolah karet mentah.

Masyarakat mengenalnya sebagai pabrik karet. Pada saat itu, ada perkebunan karet yang dinamakan Ruber Onderneming Dilem yang berada di Desa Dilem, Kecamatan Gondang. ’’Kemungkinan karet dari Dilem itu yang diolah oleh Sioe Toe Kong. Pabrik itu bertahan hingga Jepang masuk ke Mojokerto,’’ jelasnya.

Menurutnya, saat terjadi revolusi, banyak bangunan pabrik yang digunakan untuk kegiatan militer. Demikian pula dengan pabrik karet yang sempat digunakan oleh Bung Tomo sebagai markasnya. Setelah Indonesia merdeka, Bung Tomo ikut dalam barisan besar pemuda Surabaya yang membentuk organisasi bernama Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Baca Juga :  Tak Ada Patokan Harga, Tergantung Sentuhan Pemiliknya

’’Tetapi tidak lama setelah dia (Bung Tomo, Red) ikut, PRI yang dikendalikan oleh golongan sosialis yang mungkin tidak cocok dengannya,’’ ulasnya. Bung Tomo kemudian membentuk organisasi sendiri yang diberi nama Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI). Sebuah organisasi perjuangan yang pada awalnya merekrut para pekerja pinggiran, seperti tukang becak. ’’Kemudian berkembang ke daerah lainnya, termasuk Mojokerto,’’ ucapnya.

 

 

SOSOK Sutomo atau yang lebih akrab dikenal dengan Bung Tomo adalah salah satu pahlawan nasional yang berperan dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Namun, pasca peristiwa bersejarah itu, Bung Tomo sempat meninggalkan jejak perjuangannya di Mojokerto. Meski tidak berlangsung lama, momentum tersebut terabadikan dalam sebuah bingkai foto pidatonya yang ikonik. Diperkirakan, foto itu diambil saat Bung Tomo orasi di Mojokerto.

Hal itu disampaikan oleh Ayuhanafiq, sejarawan asal Mojokerto. Dari sedikit bangunan kuno yang tersisa di kawasan Pecinan Mojokerto menjadi saksi bisu jejak perjalanan Bung Tomo. Adalah sebuah rumah peninggalan Sioe Toe Kong yang hingga kini masih berdiri di Jalan Mojopahit.

Baca Juga :  Tak Ada Patokan Harga, Tergantung Sentuhan Pemiliknya

’’Rumah itu pernah digunakan sebagai markas Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo,’’ jelasnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menjelaskan, oleh pemiliknya, gudang besar di belakangnya difungsikan untuk mengolah karet mentah.

- Advertisement -

Masyarakat mengenalnya sebagai pabrik karet. Pada saat itu, ada perkebunan karet yang dinamakan Ruber Onderneming Dilem yang berada di Desa Dilem, Kecamatan Gondang. ’’Kemungkinan karet dari Dilem itu yang diolah oleh Sioe Toe Kong. Pabrik itu bertahan hingga Jepang masuk ke Mojokerto,’’ jelasnya.

Menurutnya, saat terjadi revolusi, banyak bangunan pabrik yang digunakan untuk kegiatan militer. Demikian pula dengan pabrik karet yang sempat digunakan oleh Bung Tomo sebagai markasnya. Setelah Indonesia merdeka, Bung Tomo ikut dalam barisan besar pemuda Surabaya yang membentuk organisasi bernama Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Baca Juga :  Dikemas, Dijual, Hasilnya Dibelikan Sembako dan Disumbangkan

’’Tetapi tidak lama setelah dia (Bung Tomo, Red) ikut, PRI yang dikendalikan oleh golongan sosialis yang mungkin tidak cocok dengannya,’’ ulasnya. Bung Tomo kemudian membentuk organisasi sendiri yang diberi nama Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI). Sebuah organisasi perjuangan yang pada awalnya merekrut para pekerja pinggiran, seperti tukang becak. ’’Kemudian berkembang ke daerah lainnya, termasuk Mojokerto,’’ ucapnya.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/