alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Ada ”Ritual” dalam Penyajiannya

Di tengah maraknya usaha olahan kopi, ternyata masih ditemukan warung yang bertahan dalam menyajikan kopi dengan metode dan peralatan tradisional. Ada sensasi dan effort lebih sebelum menikmati pekatnya kopi saring. Hal ini mungkin tidak pernah ditemukan kedai kopi kekinian.

YA, warung kopi saring Mbok Tajem di Dusun Brejel Kidul, Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, memang masih mempertahankan cara tradisional dalam menyajikan kopi dengan cita rasa dan aroma yang khas.

Di mana, kopi yang dihasilkan masih menggunakan cara manual alias tanpa mesin. Tidak hanya penyajiannya, pengolahan bubuk kopi pun juga masih menggunakan cara-cara manual sebelum disajikan ke pelanggan.

Dimulai dari menyangrai biji kopi yang lebih dulu dimasak menggunakan kayu bakar. Setelah matang, kopi kemudian ditumbuk dalam lumping, hingga menjadi bubuk kopi.

Baca Juga :  Kenikamatan Rasa dan Kenyamanan Tempatnya Berbeda

Dari hasil tumbukan inilah, kopi lalu diseduh menggunakan air mendidih, sebelum disajikan ke pelanggan. Namun, sebelum kopi bisa dinikmati, pelanggan masih harus melakoni ritual khusus. Yakni, menyaring seduhan kopi ke lepek dengan menggunakan saringan yang sudah bekali Mbak Tuminah, si pemilik warung.

’’Karena memang ampas yang dihasilkan masih kasar dan mengambang di atas cangkir kopi, itu kenapa harus disaring,’’ ujarnya. Tuminah mengaku usaha warung kopi saringnya merupakan warisan asli dari Mbok Tajem, sang ibu.

Sejak tahun 1978 sampai saat ini, Tuminah dan Tini, saudaranya, dengan suka hati melanjutkan tradisi yang sudah diajarkan Mbok Tajem. ’’Karena masyarakat sekitar suka dengan kopi yang diproses dengan ditumbuk daripada digiling,’’ ujar perempuan 45 tahun ini.

Baca Juga :  Kerap Picu Kecelakaan, Jalan Berlubang Bikin Resah Warga

Warung kopi saring Mbok Tajem sendiri buka setiap hari. Mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Dalam sehari, Tuminah bisa menghabiskan sekitar 7 kilogram (kg) bubuk kopi. Dengan harga Rp 5 ribu satu cangkir, pelanggan sudah bisa menikmati segelas kopi dengan rasanya yang khas.

Hingga kini, warung kopi Mbok Tajem, masih ramai dikunjungi. Tidak hanya warga sekitar, penikmatnya juga berasal dari dalam dan luar Mojokerto. Antusias mereka tak lepas dari proses tradisional yang masih dipertahankan.

’’Biasanya pelanggan yang datang ke sini selain minum kopi, mereka juga ada yang membeli bubuk kopi,’’ pungkas Tini. (dhiya’ul hakim/ricky suryan)

 

 

 

Di tengah maraknya usaha olahan kopi, ternyata masih ditemukan warung yang bertahan dalam menyajikan kopi dengan metode dan peralatan tradisional. Ada sensasi dan effort lebih sebelum menikmati pekatnya kopi saring. Hal ini mungkin tidak pernah ditemukan kedai kopi kekinian.

YA, warung kopi saring Mbok Tajem di Dusun Brejel Kidul, Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, memang masih mempertahankan cara tradisional dalam menyajikan kopi dengan cita rasa dan aroma yang khas.

Di mana, kopi yang dihasilkan masih menggunakan cara manual alias tanpa mesin. Tidak hanya penyajiannya, pengolahan bubuk kopi pun juga masih menggunakan cara-cara manual sebelum disajikan ke pelanggan.

Dimulai dari menyangrai biji kopi yang lebih dulu dimasak menggunakan kayu bakar. Setelah matang, kopi kemudian ditumbuk dalam lumping, hingga menjadi bubuk kopi.

Baca Juga :  Tanpa Physical Distancing, Pengunjung Dihibur Karaoke

Dari hasil tumbukan inilah, kopi lalu diseduh menggunakan air mendidih, sebelum disajikan ke pelanggan. Namun, sebelum kopi bisa dinikmati, pelanggan masih harus melakoni ritual khusus. Yakni, menyaring seduhan kopi ke lepek dengan menggunakan saringan yang sudah bekali Mbak Tuminah, si pemilik warung.

’’Karena memang ampas yang dihasilkan masih kasar dan mengambang di atas cangkir kopi, itu kenapa harus disaring,’’ ujarnya. Tuminah mengaku usaha warung kopi saringnya merupakan warisan asli dari Mbok Tajem, sang ibu.

- Advertisement -

Sejak tahun 1978 sampai saat ini, Tuminah dan Tini, saudaranya, dengan suka hati melanjutkan tradisi yang sudah diajarkan Mbok Tajem. ’’Karena masyarakat sekitar suka dengan kopi yang diproses dengan ditumbuk daripada digiling,’’ ujar perempuan 45 tahun ini.

Baca Juga :  Kenikamatan Rasa dan Kenyamanan Tempatnya Berbeda

Warung kopi saring Mbok Tajem sendiri buka setiap hari. Mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Dalam sehari, Tuminah bisa menghabiskan sekitar 7 kilogram (kg) bubuk kopi. Dengan harga Rp 5 ribu satu cangkir, pelanggan sudah bisa menikmati segelas kopi dengan rasanya yang khas.

Hingga kini, warung kopi Mbok Tajem, masih ramai dikunjungi. Tidak hanya warga sekitar, penikmatnya juga berasal dari dalam dan luar Mojokerto. Antusias mereka tak lepas dari proses tradisional yang masih dipertahankan.

’’Biasanya pelanggan yang datang ke sini selain minum kopi, mereka juga ada yang membeli bubuk kopi,’’ pungkas Tini. (dhiya’ul hakim/ricky suryan)

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/