alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Perubahan Periodisasi Porprov Berimbas pada Pola Regenerasi Atlet

MOJOKERTO – Porprov Jatim VI berlangsung di empat kota, Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro memang telah berakhir. Sabtu (13/7) ajang olahraga multi-event paling bergengsi tingkat provinsi itu telah resmi ditutup di Stadion Bumi Wali Tuban.

Ke-38 kontingen se-Jatim juga telah menyelesaikan pertandingan dengan sejumlah raihan medali. Termasuk Kabupaten Mojokerto yang harus puas bertengger di posisi 30 dari 38 kontingen di klasemen akhir porprov dengan raihan medali 1 emas, 9 perak dan 7 perunggu.

Raihan tersebut menjadi prestasi yang terburuk dari enam kali ajang porprov bergulir. Khususnya raihan medali emas yang mengalami kemerosotan tajam. Kondisi ini sudah disadari KONI Kabupaten Mojokerto sejak awal keberangkatan kontingen menuju arena porprov.

Di mana, kualitas atlet yang diturunkan tidak semaksimal seperti porprov sebelum-sebelumnya. Dari hasil evaluasi sementara, faktor usia menjadi kendala utama. Di mana, atlet yang diturunkan sebagian besar adalah atlet usia junior atau di bawah 18 tahun. Padahal, sebagian besar kontingen lawan menurunkan atlet usia di bawah 21 tahun.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto: G20 Bahas Kesiapan Finansial Global Hadapi Pandemi

Sehingga dilihat dari pengalaman dan kualitas permainan, kontingen dari bumi Majapahit masih kalah jauh. ’’Ini dampak dari perubahan periodisasi porprov dari dua tahunan menjadi empat tahunan. Sehingga berimbas pola regenerasi atlet. Kita harus mengawali lagi sistem pembinaan sesuai jenjang usia atlet,’’ tutur Kabid Binpres KONI Kabupaten Mojokerto, Muslim Muttaqin.

Meski begitu, KONI tak lantas merombak total struktur atlet di masing-masing cabor. Bahkan, dari 185 atlet yang diturunkan, 80 persennya justru dipertahankan sampai di gelaran porprov berikutnya yang akan berlangsung di empat kota, Lumajang, Jember, Situbondo, dan Bondowoso. Di mana, periodisasi porprov dikembalikan seperti semula, yakni menjadi dua tahunan.

Dari pengembalian itu, atlet yang masuk dalam kontingen tahun ini sebagian besar masih bisa eksis kembali. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri. Di mana, KONI dan cabor tidak perlu susah payah menyiapkan atlet mulai dari pembinaan awal. Bahkan, kualitasnya bisa saja meningkat tajam andai sistem pembinaan berjalan kontinyu.  

Baca Juga :  Bikin si Pitung Makin Pede

’’Kalau pembenahan, justru diawali dari pembinaan usia dini atau mulai 9 tahun. Makanya itu, sistem pembinaan berjenjang akan dirancang saat rakor akhir tahun besok. Di situ kita rancang mulai pembinaan setiap tahun sampai persiapan menjelang porprov,’’ tandasnya.

Di Porprov 2015 lalu, kontingen kabupaten hanya mampu nangkring di posisi 28 dengan raihan medali 2 emas, 3 perak, 8 perunggu. Atau dua strip diatas perolehan medali porprov tahun ini.

 

MOJOKERTO – Porprov Jatim VI berlangsung di empat kota, Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro memang telah berakhir. Sabtu (13/7) ajang olahraga multi-event paling bergengsi tingkat provinsi itu telah resmi ditutup di Stadion Bumi Wali Tuban.

Ke-38 kontingen se-Jatim juga telah menyelesaikan pertandingan dengan sejumlah raihan medali. Termasuk Kabupaten Mojokerto yang harus puas bertengger di posisi 30 dari 38 kontingen di klasemen akhir porprov dengan raihan medali 1 emas, 9 perak dan 7 perunggu.

Raihan tersebut menjadi prestasi yang terburuk dari enam kali ajang porprov bergulir. Khususnya raihan medali emas yang mengalami kemerosotan tajam. Kondisi ini sudah disadari KONI Kabupaten Mojokerto sejak awal keberangkatan kontingen menuju arena porprov.

Di mana, kualitas atlet yang diturunkan tidak semaksimal seperti porprov sebelum-sebelumnya. Dari hasil evaluasi sementara, faktor usia menjadi kendala utama. Di mana, atlet yang diturunkan sebagian besar adalah atlet usia junior atau di bawah 18 tahun. Padahal, sebagian besar kontingen lawan menurunkan atlet usia di bawah 21 tahun.

Baca Juga :  Airlangga: Percepatan Revisi UU PPP untuk Kejar Perbaikan UU Ciptaker

Sehingga dilihat dari pengalaman dan kualitas permainan, kontingen dari bumi Majapahit masih kalah jauh. ’’Ini dampak dari perubahan periodisasi porprov dari dua tahunan menjadi empat tahunan. Sehingga berimbas pola regenerasi atlet. Kita harus mengawali lagi sistem pembinaan sesuai jenjang usia atlet,’’ tutur Kabid Binpres KONI Kabupaten Mojokerto, Muslim Muttaqin.

Meski begitu, KONI tak lantas merombak total struktur atlet di masing-masing cabor. Bahkan, dari 185 atlet yang diturunkan, 80 persennya justru dipertahankan sampai di gelaran porprov berikutnya yang akan berlangsung di empat kota, Lumajang, Jember, Situbondo, dan Bondowoso. Di mana, periodisasi porprov dikembalikan seperti semula, yakni menjadi dua tahunan.

- Advertisement -

Dari pengembalian itu, atlet yang masuk dalam kontingen tahun ini sebagian besar masih bisa eksis kembali. Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri. Di mana, KONI dan cabor tidak perlu susah payah menyiapkan atlet mulai dari pembinaan awal. Bahkan, kualitasnya bisa saja meningkat tajam andai sistem pembinaan berjalan kontinyu.  

Baca Juga :  Gagal ke Babak Utama Porprov, Wasit Jadi Kambing Hitam

’’Kalau pembenahan, justru diawali dari pembinaan usia dini atau mulai 9 tahun. Makanya itu, sistem pembinaan berjenjang akan dirancang saat rakor akhir tahun besok. Di situ kita rancang mulai pembinaan setiap tahun sampai persiapan menjelang porprov,’’ tandasnya.

Di Porprov 2015 lalu, kontingen kabupaten hanya mampu nangkring di posisi 28 dengan raihan medali 2 emas, 3 perak, 8 perunggu. Atau dua strip diatas perolehan medali porprov tahun ini.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/