alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Merasakan Perintah Kawalan Pergerakan di Malaysia

TERHITUNG sejak awal tahun 2016, aku masih merantau. Aku mengajar di sebuah lembaga pendidikan agama berbasis pesantren yang fokus dalam bidang tahfiz Alquran. Di Kota Bintulu namanya. Provinsi Sarawak, Malaysia.

Negeri dongeng Upin Ipin yang masyhur itu. Berbicara tentang menjalani bulan Ramadan di perantauan, tentu berbeda dengan menjalaninya di kampung halaman saya Lingkungan Surodinawan Gang 1, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Di perantauan tentu tidak dapat berkumpul dengan keluarga maupun menyantap masakan nusantara terlebih masakan hasil olah tangan ibunda kita. Namun, itu semua bisa terobati karena di perantauan kita tentu tidak hidup sendirian.

Ketika aku belajar di Mesir dulu, selama bulan Ramadan, setiap harinya kami berbuka puasa bersama dengan semua mahasiswa wafidin (mahasiswa asing, selain Mesir), tepatnya berbuka di suatu tempat yang dikenal dengan nama Maidatur Rahman (hidangan dari Tuhan). Istilah maidatur rahman ini sudah familiar.

Yaitu tempat di mana setiap orang dipersilakan makan dan minum ketika berbuka. Gratis. Dan tentu dengan porsi besar ala Arab. Orang-orang Mesir dikenal sebagai ahlul juud wal karom. Alias dermawan. Kedermawanan mereka menjadi lebih dahsyat ketika bulan Ramadan tiba.

Selama Ramadan, ke mana kita pergi, di situ ada maidatur rahman. Sedangkan kami para mahasiswa wafidin ada maidatur rahman khusus yang tidak boleh bagi selain wafidin memasukinya. Masya Allah. Kami seperti dispesialkan. Alasan mereka adalah kami ini selain karena berpuasa, kami juga menyandang status “ibnu sabil” orang yang merantau.

Salah satu dari 8 golongan yang berhak menerima zakat. Jadilah kami ini diincar demi berebut pahala bagi mereka. Namun, tentu saja saat ini suasana tersebut tidak lagi mudah dijumpai. Karena adanya kebijakan pemerintah agar semua orang menjaga jarak demi memutus tali rantai Covid-19 yang sedang melanda bumi ini. Maidatur rahman sementara waktu ditutup terlebih dahulu.

Tidak jauh berbeda dengan di Malaysia. Terutama di Bintulu, Sarawak, tempat saya berdomisili saat ini. Kami hidup di kawasan pesantren, dekat dengan masjid kampung yang tentunya dikelilingi rumah warga setempat. Kami dan para santri serta warga setempat sudah seperti keluarga sendiri. Guyub dan rukun serta saling berbagi.

Baca Juga :  Percasi Datangkan Pelatih Catur PON, Hari Darminto

Jangankan di bulan Ramadan, di selain Ramadan pun para warga senantiasa mengasihi para penduduk pesantren. Perlu diketahui bahwa di kota Bintulu ini, pondok pesantren jumlahnya belum lebih dari tiga pondok. Masih sedikit dan sedang berkembang. Salah satu yang sedang berkembang inilah tempat saya mengajar. Institut Tahfiz Bintulu namanya.

Ini tentu berbeda dengan keberadaan pesantren di Indonesia, apalagi di pulau Jawa. Di Malaysia mereka sangat semangat beragama dan mendukung apa pun itu yang bisa menjadikan agama Islam lebih Berjaya, khususnya di Sarawak. Tempat di mana orang muslim masih minoritas, dengar-dengar baru 20 persen muslim di sana.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kami terbiasa berbuka puasa bersama di masjid dengan para santri dan warga setempat, namun, pada tahun ini budaya tersebut sedang ditiadakan karena adanya virus korona yang menghantui. Dalam hal ini pemerintah Malaysia sangat ketat. Sangat-sangat ketat.

Jangankan berbuka puasa bersama di masjid, salat berjamaah saja tidak boleh dilaksanakan, kecuali di dalam rumah masing-masing. Dan ini benar-benar diterapkan di seluruh penjuru negara Malaysia. Semua sekolah, pondok pesantren pun telah diliburkan jauh-jauh hari, termasuk santri-santri saya sudah pulang ke rumah mereka masing-masing sejak kurang lebih dua bulan lalu.

Lockdown di Malaysia disebut dengan istilah Perintah Kawalan Pergerakan (PKP), di mana para petugas keamanan benar-benar stand-by di setiap tempat memastikan masyarakat stay at home. Dan jika ada yang keluar rumah haruslah benar-benar untuk keperluan yang asas, dan hanya satu orang kepala keluarga saja yang diperbolehkan keluar, itupun dibatasi dalam jarak 10 km dari tempat tinggalnya. Jika tujuannya lebih dari 10 km niscaya disuruh pulang kembali. 

Selama PKP ini rasanya sungguh campuraduk. Antara sedih dan bahagia. Sedih karena tidak bisa merasakan kebersamaan dalam skala besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, ada rasa bahagia juga, karena mendengar kabar bahwa santri-santri kami, di rumah mereka masing-masing, merekalah yang menjadi imam salat berjamaah dengan keluarga. Ini luar biasa!.

Baca Juga :  Nasdem Bakal Coret Satu Pendaftar Cabup

Salah satu kebiasaan masyarakat Bintulu dan sekitarnya adalah ketika bulan Ramadan akan tiba, banyak pihak masjid maupun surau yang menghubungi pesantren kami. Demi agar diperbolehkan menyunting beberapa santri untuk diberi amanah menjadi imam di surau maupun masjid mereka, para pihak pengajuan permohonan tadi. Full booked sebulan penuh.

Menaggapi hal itu, tentu kami sangat selektif memilih para santri yang mumpuni. Dan para santri pun sangat kooperatif menyambut “tantangan” ini. Mereka bersemangat menghafal dan mengulangi hafalan Alquran mereka demi agar jika kami uji mereka dalam event “Pondok mencari Imam” ini, mereka siap dan bisa terpilih.

Tentu prestasi tersebut menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka yang baru berusia setingkat SMP-SMA itu. Namun, lagi-lagi karena keadaan yang sedang mencekam sebab virus korona ini, event pencarian Imam tadi tentu tidak ada. Apalagi pihak yang memohon kiriman imam, tentu lebih tidak ada lagi. Bagaimana bisa ada? Lha wong masjid dan suraunya harus ditutup!. Dan di Malaysia benar-benar ditutup. Rapat.

Dan, sudah barang tentu, para santri kami semuanya menjadi imam bagi keluarganya masing-masing di rumah. Ini merupakan salah satu hikmah adanya pandemi Covid-19 yang patut disukuri. Tanpa terasa, kini bulan Ramadan sudah tidak lama lagi akan sampai di pengujungnya.

Di manapun kita berada, baik di kampung halaman maupun di perantauan, marilah kita tingkatkan semangat beribadah demi agar bisa melesat lebih kuat untuk beramal soleh guna mencari keridahan-Nya, menggapai pahala dan keberkatan malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Malam lailatul qadar. (*)

Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

TERHITUNG sejak awal tahun 2016, aku masih merantau. Aku mengajar di sebuah lembaga pendidikan agama berbasis pesantren yang fokus dalam bidang tahfiz Alquran. Di Kota Bintulu namanya. Provinsi Sarawak, Malaysia.

Negeri dongeng Upin Ipin yang masyhur itu. Berbicara tentang menjalani bulan Ramadan di perantauan, tentu berbeda dengan menjalaninya di kampung halaman saya Lingkungan Surodinawan Gang 1, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Di perantauan tentu tidak dapat berkumpul dengan keluarga maupun menyantap masakan nusantara terlebih masakan hasil olah tangan ibunda kita. Namun, itu semua bisa terobati karena di perantauan kita tentu tidak hidup sendirian.

Ketika aku belajar di Mesir dulu, selama bulan Ramadan, setiap harinya kami berbuka puasa bersama dengan semua mahasiswa wafidin (mahasiswa asing, selain Mesir), tepatnya berbuka di suatu tempat yang dikenal dengan nama Maidatur Rahman (hidangan dari Tuhan). Istilah maidatur rahman ini sudah familiar.

Yaitu tempat di mana setiap orang dipersilakan makan dan minum ketika berbuka. Gratis. Dan tentu dengan porsi besar ala Arab. Orang-orang Mesir dikenal sebagai ahlul juud wal karom. Alias dermawan. Kedermawanan mereka menjadi lebih dahsyat ketika bulan Ramadan tiba.

Selama Ramadan, ke mana kita pergi, di situ ada maidatur rahman. Sedangkan kami para mahasiswa wafidin ada maidatur rahman khusus yang tidak boleh bagi selain wafidin memasukinya. Masya Allah. Kami seperti dispesialkan. Alasan mereka adalah kami ini selain karena berpuasa, kami juga menyandang status “ibnu sabil” orang yang merantau.

- Advertisement -

Salah satu dari 8 golongan yang berhak menerima zakat. Jadilah kami ini diincar demi berebut pahala bagi mereka. Namun, tentu saja saat ini suasana tersebut tidak lagi mudah dijumpai. Karena adanya kebijakan pemerintah agar semua orang menjaga jarak demi memutus tali rantai Covid-19 yang sedang melanda bumi ini. Maidatur rahman sementara waktu ditutup terlebih dahulu.

Tidak jauh berbeda dengan di Malaysia. Terutama di Bintulu, Sarawak, tempat saya berdomisili saat ini. Kami hidup di kawasan pesantren, dekat dengan masjid kampung yang tentunya dikelilingi rumah warga setempat. Kami dan para santri serta warga setempat sudah seperti keluarga sendiri. Guyub dan rukun serta saling berbagi.

Baca Juga :  Jalani Karantina di Papua

Jangankan di bulan Ramadan, di selain Ramadan pun para warga senantiasa mengasihi para penduduk pesantren. Perlu diketahui bahwa di kota Bintulu ini, pondok pesantren jumlahnya belum lebih dari tiga pondok. Masih sedikit dan sedang berkembang. Salah satu yang sedang berkembang inilah tempat saya mengajar. Institut Tahfiz Bintulu namanya.

Ini tentu berbeda dengan keberadaan pesantren di Indonesia, apalagi di pulau Jawa. Di Malaysia mereka sangat semangat beragama dan mendukung apa pun itu yang bisa menjadikan agama Islam lebih Berjaya, khususnya di Sarawak. Tempat di mana orang muslim masih minoritas, dengar-dengar baru 20 persen muslim di sana.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kami terbiasa berbuka puasa bersama di masjid dengan para santri dan warga setempat, namun, pada tahun ini budaya tersebut sedang ditiadakan karena adanya virus korona yang menghantui. Dalam hal ini pemerintah Malaysia sangat ketat. Sangat-sangat ketat.

Jangankan berbuka puasa bersama di masjid, salat berjamaah saja tidak boleh dilaksanakan, kecuali di dalam rumah masing-masing. Dan ini benar-benar diterapkan di seluruh penjuru negara Malaysia. Semua sekolah, pondok pesantren pun telah diliburkan jauh-jauh hari, termasuk santri-santri saya sudah pulang ke rumah mereka masing-masing sejak kurang lebih dua bulan lalu.

Lockdown di Malaysia disebut dengan istilah Perintah Kawalan Pergerakan (PKP), di mana para petugas keamanan benar-benar stand-by di setiap tempat memastikan masyarakat stay at home. Dan jika ada yang keluar rumah haruslah benar-benar untuk keperluan yang asas, dan hanya satu orang kepala keluarga saja yang diperbolehkan keluar, itupun dibatasi dalam jarak 10 km dari tempat tinggalnya. Jika tujuannya lebih dari 10 km niscaya disuruh pulang kembali. 

Selama PKP ini rasanya sungguh campuraduk. Antara sedih dan bahagia. Sedih karena tidak bisa merasakan kebersamaan dalam skala besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, ada rasa bahagia juga, karena mendengar kabar bahwa santri-santri kami, di rumah mereka masing-masing, merekalah yang menjadi imam salat berjamaah dengan keluarga. Ini luar biasa!.

Baca Juga :  Ngabuburit Dibonceng Ayah Naik Honda Cetul

Salah satu kebiasaan masyarakat Bintulu dan sekitarnya adalah ketika bulan Ramadan akan tiba, banyak pihak masjid maupun surau yang menghubungi pesantren kami. Demi agar diperbolehkan menyunting beberapa santri untuk diberi amanah menjadi imam di surau maupun masjid mereka, para pihak pengajuan permohonan tadi. Full booked sebulan penuh.

Menaggapi hal itu, tentu kami sangat selektif memilih para santri yang mumpuni. Dan para santri pun sangat kooperatif menyambut “tantangan” ini. Mereka bersemangat menghafal dan mengulangi hafalan Alquran mereka demi agar jika kami uji mereka dalam event “Pondok mencari Imam” ini, mereka siap dan bisa terpilih.

Tentu prestasi tersebut menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka yang baru berusia setingkat SMP-SMA itu. Namun, lagi-lagi karena keadaan yang sedang mencekam sebab virus korona ini, event pencarian Imam tadi tentu tidak ada. Apalagi pihak yang memohon kiriman imam, tentu lebih tidak ada lagi. Bagaimana bisa ada? Lha wong masjid dan suraunya harus ditutup!. Dan di Malaysia benar-benar ditutup. Rapat.

Dan, sudah barang tentu, para santri kami semuanya menjadi imam bagi keluarganya masing-masing di rumah. Ini merupakan salah satu hikmah adanya pandemi Covid-19 yang patut disukuri. Tanpa terasa, kini bulan Ramadan sudah tidak lama lagi akan sampai di pengujungnya.

Di manapun kita berada, baik di kampung halaman maupun di perantauan, marilah kita tingkatkan semangat beribadah demi agar bisa melesat lebih kuat untuk beramal soleh guna mencari keridahan-Nya, menggapai pahala dan keberkatan malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Malam lailatul qadar. (*)

Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

Artikel Terkait

Most Read

PDI Perjuangan Perpanjang Masa Penjaringan

Dulang Prestasi di Tengah Pandemi

Kejari Terus Usut Bansos BPNT

Artikel Terbaru

/