alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Perseorangan Keluhkan Sistem KPU

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sistem Informasi Pencalonan (Silon) yang disiapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk calon independen, dikeluhkan. Aplikasi ini dinilai belum mampu mendeteksi seluruh data yang telah diunggah.

Defri Ervanda Krismianto, liaison officer (LO) bakal pasangan calonindependent Subagya Martasentana-Abdi Subhan, menceritakan, ribuan data dukungan yang telah diunggah ke silon, mendadak hilang. ’’Ada sekitar 2.500 dukungan yang hilang,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Diceritakannya, sejak terjadinya perubahan pasangan calon, tim mulai melakukan rekapitulasi jumlah dukungan. Data yang semula masih berubah hardcopy, langsung diolah oleh operator silon.

Mereka bekerja keras dan meng-input data dukungan ke sistem offline. Selama seharian, tim bekerja siang malam dan menuntaskan sebanyak 3.819 dukungan dan mengunggahnya ke sistem online. ’’Nah, saat diunggah, yang muncul hanya 1.422 dukungan,’’ ujarnya.

Tak terdeteksinya jumlah dukungan itu, membuat tim pemenangan Subagya-Subhan, kian kelabakan. Lalu, berbagai langkah pun dilakukan. Di antaranya, meneliti data di setiap dukungan yang masuk.

Baca Juga :  Andy-Ade Ria Janji Tingkatkan SDM dan Ekonomi

Namun, langkah penelitian yang berlangsung selama semalaman itu justru makin membingungkan. Data yang terdeteksi di sistem online, justru kembali merosot dan menjadi 1.271 dukungan. ’’Hilangnya ke mana, saya juga nggak paham. Kami masih akan konsultasikan ke KPU,’’ kata Devri.

Seharusnya, ditegaskan Devri, jumlah dukungan yang diunggah sudah sesuai dengan data yang dikantongi. Karena, aplikasi offline yang digunakan tim operator, juga berasal dari KPU. ’’Data kami riil. Dan, konfigurasi sudah sesuai semua. Tetapi, kenapa tidak bisa sesuai antara offline dan online?’’ tegasnya.

Sulitnya meng-input data di sistem online, membuat ia berpikir untuk memenuhi besaran dukungan ke KPU melalui hardcopy. ’’Kami masih konsultasi. Apakah diperbolehkan. Saya rasa, itu sebagai solusi,’’ pungkasnya.

Terpisah, Komisioner KPU Kabupaten Mojokerto Achmad Arif, mengatakan, silon telah disiapkan oleh KPU RI. Dan standardisasi pengolahan data dukungan, sudah seharusnya sempurna.

Namun, terkait dengan hilangnya dukungan yang dialami bakal paslon independen Subagya-Subhan, kata Arif, dimungkinkan karena kesalahan format data. ’’Bisa jadi disebabkan oleh operator yang kurang paham dengan aplikasi itu,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Objek Wisata Kabupaten Mojokerto Dibuka, Terapkan Protokol Kesehatan

Ia sangat menyayangkan, lantaran sejak awal, tim operator bakal paslon Subagya-Subhan, tak hadir saat diundang untuk menjalani bimbingan teknis di kantor KPU. ’’Kemungkinan besar, karena ketidakpahaman. Nanti akan kita komunikasikan,’’ pungkas Divisi Teknis KPU tersebut.

Sebelumnya, selain Subagya-Abdi Subhan, terdapat seorang figur lain yang yang mengambil formulir pencalonan dari jalur perseorangan. Ia adalah Edi Wiliang, yang mengaku sebagai seorang pengusaha dan budayawan asal Dlanggu. Edi kini telah berpasangan dengan Eka Setya Hari Suci alias Eci.

Tak hanya jalur perseorangan. Sejumlah bakal calon dari jalur parpol juga ikut meramaikan kontestasi kali ini. Mereka adalah Bupati Mojokerto Pungkasiadi yang tercatat sebagai incumbent, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Yoko Priyono, pensiunan PNS Dispenda Jatim Purwo Santoso, PNS aktif BKKBN Kusnan Hariadi, serta terakhir istri mantan Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP), Ikfina Fahmawati, yang duet dengan Muhammad Al Barra.

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sistem Informasi Pencalonan (Silon) yang disiapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk calon independen, dikeluhkan. Aplikasi ini dinilai belum mampu mendeteksi seluruh data yang telah diunggah.

Defri Ervanda Krismianto, liaison officer (LO) bakal pasangan calonindependent Subagya Martasentana-Abdi Subhan, menceritakan, ribuan data dukungan yang telah diunggah ke silon, mendadak hilang. ’’Ada sekitar 2.500 dukungan yang hilang,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Diceritakannya, sejak terjadinya perubahan pasangan calon, tim mulai melakukan rekapitulasi jumlah dukungan. Data yang semula masih berubah hardcopy, langsung diolah oleh operator silon.

Mereka bekerja keras dan meng-input data dukungan ke sistem offline. Selama seharian, tim bekerja siang malam dan menuntaskan sebanyak 3.819 dukungan dan mengunggahnya ke sistem online. ’’Nah, saat diunggah, yang muncul hanya 1.422 dukungan,’’ ujarnya.

Tak terdeteksinya jumlah dukungan itu, membuat tim pemenangan Subagya-Subhan, kian kelabakan. Lalu, berbagai langkah pun dilakukan. Di antaranya, meneliti data di setiap dukungan yang masuk.

Baca Juga :  Lukisan Karya Joni Ramlan Dipalsukan

Namun, langkah penelitian yang berlangsung selama semalaman itu justru makin membingungkan. Data yang terdeteksi di sistem online, justru kembali merosot dan menjadi 1.271 dukungan. ’’Hilangnya ke mana, saya juga nggak paham. Kami masih akan konsultasikan ke KPU,’’ kata Devri.

- Advertisement -

Seharusnya, ditegaskan Devri, jumlah dukungan yang diunggah sudah sesuai dengan data yang dikantongi. Karena, aplikasi offline yang digunakan tim operator, juga berasal dari KPU. ’’Data kami riil. Dan, konfigurasi sudah sesuai semua. Tetapi, kenapa tidak bisa sesuai antara offline dan online?’’ tegasnya.

Sulitnya meng-input data di sistem online, membuat ia berpikir untuk memenuhi besaran dukungan ke KPU melalui hardcopy. ’’Kami masih konsultasi. Apakah diperbolehkan. Saya rasa, itu sebagai solusi,’’ pungkasnya.

Terpisah, Komisioner KPU Kabupaten Mojokerto Achmad Arif, mengatakan, silon telah disiapkan oleh KPU RI. Dan standardisasi pengolahan data dukungan, sudah seharusnya sempurna.

Namun, terkait dengan hilangnya dukungan yang dialami bakal paslon independen Subagya-Subhan, kata Arif, dimungkinkan karena kesalahan format data. ’’Bisa jadi disebabkan oleh operator yang kurang paham dengan aplikasi itu,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Situs Talud, Bagian dari Kota Kerajaan Majapahit

Ia sangat menyayangkan, lantaran sejak awal, tim operator bakal paslon Subagya-Subhan, tak hadir saat diundang untuk menjalani bimbingan teknis di kantor KPU. ’’Kemungkinan besar, karena ketidakpahaman. Nanti akan kita komunikasikan,’’ pungkas Divisi Teknis KPU tersebut.

Sebelumnya, selain Subagya-Abdi Subhan, terdapat seorang figur lain yang yang mengambil formulir pencalonan dari jalur perseorangan. Ia adalah Edi Wiliang, yang mengaku sebagai seorang pengusaha dan budayawan asal Dlanggu. Edi kini telah berpasangan dengan Eka Setya Hari Suci alias Eci.

Tak hanya jalur perseorangan. Sejumlah bakal calon dari jalur parpol juga ikut meramaikan kontestasi kali ini. Mereka adalah Bupati Mojokerto Pungkasiadi yang tercatat sebagai incumbent, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Yoko Priyono, pensiunan PNS Dispenda Jatim Purwo Santoso, PNS aktif BKKBN Kusnan Hariadi, serta terakhir istri mantan Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP), Ikfina Fahmawati, yang duet dengan Muhammad Al Barra.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/