alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Pilih Warna Soft Karena Lebih Sensitif

Mengembangkan usaha kerajinan tak sekedar mengandalkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Tapi juga perlu kemasan dan corak yang menarik agar konsumen terpuaskan. Sehingga mereka selalu ingin kembali membeli dan tak berpaling ke produk lain.

Apalagi produk kerajinan tersebut dikhususkan hanya segmen wanita atau perempuan yang kecenderungannya lebih sensitif dan lembut. Sehingga setiap penggarapan kerajinannya mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari kerapian, efisiensi, hingga nilai harga barang yang dijual. Termasuk juga, soal corak atau motif sebagai karakter dari masing-masing galeri atau pengrajin itu sendiri.

Nah, galeri NVCraft di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto memilih warna soft sebagai karakter kuat yang dimunculkan di setiap souvenir produksinya. Pilihan warna-warna pastel seperti moka, pink, ungu, biru muda, karamel, hingga rosy brown sangat mendominasi dari produk rajutnya. Mulai dari sepatu kets, heels hingga boot, sandal selop, dompet, tas tenteng, dan berbagai macam asesoris wanita lainnya.

Baca Juga :  Temukan Unsur Pidana, Panwaslu Lempar Kasus Soermarjono ke Polisi

Owner NVCraft, Wahyu Ika Wati mengaku, warna lembut di setiap rajutan benang siet (acryilic wool) ia gambarkan bak perasaan wanita hari ini. Di mana sisi feminim, sensitif, hangat, dan optimis dapat mewakili psikologis kaum hawa sebagai konsumennya. ’’Karena semua produk souvenirnya adalah untuk wanita, maka karakternya juga harus ditonjolkan. Pilihan warna-warnanya juga harus lembut tapi kuat,’’ terangnya.

Nah, untuk bisa memproduksinya, ibu dua anak ini juga merekrut kaum wanita para perajinnya. Hampir setiap hari, 7 emak-emak bisa memproduksi 2 hingga 3 unit souvenir rajutan dengan bahan utamanya adalah benang siet atau wol yang sudah ia pilah sesuai corak yang disusun. Berdiri sejak tahun 2016, NVCraft telah memproduksi ribuan souvenir yang dipasarkan ke sejumlah daerah.

Baca Juga :  Ikbar Bakal Dongkrak Nasib Petani

Di Jatim, daerah Tulungagung, Kediri, Sidoarjo, Banyuwangi sudah ia kunjungi. Pun demikian luar pulau seperti Kalimantan, Bali hingga Sulawesi juga sudah dikuasai. Sehari, omsetnya penjualannya bisa sampai Rp 3 juta. Untuk pemasaran, ia kerjasama dengan sejumlah galeri souvenir atau butik terkenal. Dari situ, produknya bisa dikenal dan laku terjual. ’’Kalau musim pandemi Covid-19 kamarin, omset kami turun, tapi masih di angka Rp 3 juta. Saat ini mulai berangsur kembali,’’ pungkas wanita 40 tahun ini. (far/fen)

Mengembangkan usaha kerajinan tak sekedar mengandalkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Tapi juga perlu kemasan dan corak yang menarik agar konsumen terpuaskan. Sehingga mereka selalu ingin kembali membeli dan tak berpaling ke produk lain.

Apalagi produk kerajinan tersebut dikhususkan hanya segmen wanita atau perempuan yang kecenderungannya lebih sensitif dan lembut. Sehingga setiap penggarapan kerajinannya mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari kerapian, efisiensi, hingga nilai harga barang yang dijual. Termasuk juga, soal corak atau motif sebagai karakter dari masing-masing galeri atau pengrajin itu sendiri.

Nah, galeri NVCraft di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto memilih warna soft sebagai karakter kuat yang dimunculkan di setiap souvenir produksinya. Pilihan warna-warna pastel seperti moka, pink, ungu, biru muda, karamel, hingga rosy brown sangat mendominasi dari produk rajutnya. Mulai dari sepatu kets, heels hingga boot, sandal selop, dompet, tas tenteng, dan berbagai macam asesoris wanita lainnya.

Baca Juga :  Ikbar Bakal Dongkrak Nasib Petani

Owner NVCraft, Wahyu Ika Wati mengaku, warna lembut di setiap rajutan benang siet (acryilic wool) ia gambarkan bak perasaan wanita hari ini. Di mana sisi feminim, sensitif, hangat, dan optimis dapat mewakili psikologis kaum hawa sebagai konsumennya. ’’Karena semua produk souvenirnya adalah untuk wanita, maka karakternya juga harus ditonjolkan. Pilihan warna-warnanya juga harus lembut tapi kuat,’’ terangnya.

Nah, untuk bisa memproduksinya, ibu dua anak ini juga merekrut kaum wanita para perajinnya. Hampir setiap hari, 7 emak-emak bisa memproduksi 2 hingga 3 unit souvenir rajutan dengan bahan utamanya adalah benang siet atau wol yang sudah ia pilah sesuai corak yang disusun. Berdiri sejak tahun 2016, NVCraft telah memproduksi ribuan souvenir yang dipasarkan ke sejumlah daerah.

Baca Juga :  12 Hakim Harus Tangani 936 Perkara, Tertinggi Kasus Narkoba

Di Jatim, daerah Tulungagung, Kediri, Sidoarjo, Banyuwangi sudah ia kunjungi. Pun demikian luar pulau seperti Kalimantan, Bali hingga Sulawesi juga sudah dikuasai. Sehari, omsetnya penjualannya bisa sampai Rp 3 juta. Untuk pemasaran, ia kerjasama dengan sejumlah galeri souvenir atau butik terkenal. Dari situ, produknya bisa dikenal dan laku terjual. ’’Kalau musim pandemi Covid-19 kamarin, omset kami turun, tapi masih di angka Rp 3 juta. Saat ini mulai berangsur kembali,’’ pungkas wanita 40 tahun ini. (far/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/