alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Beralih Berkebun, meski Hasil Tanaman yang Dijual Tak Sebanding

Dampak situasi pandemi Covid-19 semakin dirasakan masyarakat. Khususnya di sektor ekonomi riil, seperti pedagang di pasar hingga usaha kecil menengah (UKM). Demikian pun pedagang di objek Wanawisata Air Panas Padusan Pacet, sebagai warga yang ekonominya terdampak paling parah.

Gendis dan Rara, dua bersaudara berusia 7 dan 8 tahun itu begitu setia memantau kondisi warung milik orang tuanya di lokasi Wanawisata Air Panas Panas Padausan Pacet. Hampir setiap hari, ia bersama sang ibu turut membersihkan warung atau kios yang biasa menjual sayur dan buah-buahan segar. Meski warung kini harus ditutup, tak mengurangi niat mereka untuk membersihkan lapak.

Ya, sejak dua bulan terakhir, warung milik Mariyati sudah tidak lagi beroperasi. Bersama 150-an pedagang pemilik warung/kios lain yang berdiri lokasi wisata primadona itu, Mariyati sudah meliburkan warungnya dari aktivitas jual beli. Penutupan itu bukannya tanpa sebab. Di mana, Wanawisata Air Panas Padusan Pacet sebagai lokasi mengais rezeki, juga tak beroperasi.  

Baca Juga :  Perhutani: Tidak Bisa Dikelola Seenaknya Sendiri

Trehitung sejak 18 Maret, Pemkab Mojokerto resmi memutuskan agar menutup semua akses wisata untuk menghindari persebaran Covid-19 lebih luas. Mengingat, situasi persebaran di Mojokerto kini juga terus meningkat dari hari kehari. Akibat kebijakan itu, Mariyati mau tak mau harus merelakan penghasilannya berkurang setiap hari. Tidak ada lagi pemasukan dari hasil penjualan sayur dan buah yang biasa ia jajakan.

Dan kini, wanita 48 tahun itu terpaksa beralih profesi menjadi petani sayur dan buah. Tujuannya, tak lain agar bisa mendapatkan penghasilan, sehingga dapurnya tetap mengepul. ’’Saya beralih jadi petani di kebun buah dan sayur. Kalau dulu beli dan dijual, sekarang jadi petani saja,’’ tuturnya.

Namun demikian, perempuan asli Desa Padusan, Kecamatan Pacet ini mengaku penghasilannya tak sebaik saat berjualan. Meski setiap hari mendapat upah, namun hasilnya tak seberapa jika dibanding menjadi pedagang.

Baca Juga :  Tiket Wanawisata Air Panas Padusan Pacet Kembali Dikeluhkan

Apalagi, harga jual sayur dan buah dari petani ke tengkulak kini sangat murah. Dapat dibayangkan, untuk satu buah kubis, hanya dihargai tak kurang dari Rp 2 ribu. Demikian pun dengan harga jual sayuran lain. Seperti brokoli, wortel, daun bawang, dan kentang. Semuanya ikut turun hingga 50 persen dari harga normal. ’’Seret juga mas, tapi mau gimana lagi. Wong saya tahunya ya cuman jualan dan nanam sayuran,’’ tambahnya.

Akibat kondisi ini, Mariyati pun berharap pedagang di lokasi wanawisata agar mendapat bantuan dari pemerintah. Bahkan, pedagang wisata dinilai yang paling terdampak parah selama masa pandemi. Jika tersalurkan, maka bantuan dianggap tepat sasaran. Sehingga bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. 

 

Dampak situasi pandemi Covid-19 semakin dirasakan masyarakat. Khususnya di sektor ekonomi riil, seperti pedagang di pasar hingga usaha kecil menengah (UKM). Demikian pun pedagang di objek Wanawisata Air Panas Padusan Pacet, sebagai warga yang ekonominya terdampak paling parah.

Gendis dan Rara, dua bersaudara berusia 7 dan 8 tahun itu begitu setia memantau kondisi warung milik orang tuanya di lokasi Wanawisata Air Panas Panas Padausan Pacet. Hampir setiap hari, ia bersama sang ibu turut membersihkan warung atau kios yang biasa menjual sayur dan buah-buahan segar. Meski warung kini harus ditutup, tak mengurangi niat mereka untuk membersihkan lapak.

Ya, sejak dua bulan terakhir, warung milik Mariyati sudah tidak lagi beroperasi. Bersama 150-an pedagang pemilik warung/kios lain yang berdiri lokasi wisata primadona itu, Mariyati sudah meliburkan warungnya dari aktivitas jual beli. Penutupan itu bukannya tanpa sebab. Di mana, Wanawisata Air Panas Padusan Pacet sebagai lokasi mengais rezeki, juga tak beroperasi.  

Baca Juga :  Soal Bagi Hasil Banyu Panas, Disparpora-Perhutani Memanas

Trehitung sejak 18 Maret, Pemkab Mojokerto resmi memutuskan agar menutup semua akses wisata untuk menghindari persebaran Covid-19 lebih luas. Mengingat, situasi persebaran di Mojokerto kini juga terus meningkat dari hari kehari. Akibat kebijakan itu, Mariyati mau tak mau harus merelakan penghasilannya berkurang setiap hari. Tidak ada lagi pemasukan dari hasil penjualan sayur dan buah yang biasa ia jajakan.

Dan kini, wanita 48 tahun itu terpaksa beralih profesi menjadi petani sayur dan buah. Tujuannya, tak lain agar bisa mendapatkan penghasilan, sehingga dapurnya tetap mengepul. ’’Saya beralih jadi petani di kebun buah dan sayur. Kalau dulu beli dan dijual, sekarang jadi petani saja,’’ tuturnya.

Namun demikian, perempuan asli Desa Padusan, Kecamatan Pacet ini mengaku penghasilannya tak sebaik saat berjualan. Meski setiap hari mendapat upah, namun hasilnya tak seberapa jika dibanding menjadi pedagang.

Baca Juga :  Hadirkan Sensasi Kelezatan Lobster dan Kerang
- Advertisement -

Apalagi, harga jual sayur dan buah dari petani ke tengkulak kini sangat murah. Dapat dibayangkan, untuk satu buah kubis, hanya dihargai tak kurang dari Rp 2 ribu. Demikian pun dengan harga jual sayuran lain. Seperti brokoli, wortel, daun bawang, dan kentang. Semuanya ikut turun hingga 50 persen dari harga normal. ’’Seret juga mas, tapi mau gimana lagi. Wong saya tahunya ya cuman jualan dan nanam sayuran,’’ tambahnya.

Akibat kondisi ini, Mariyati pun berharap pedagang di lokasi wanawisata agar mendapat bantuan dari pemerintah. Bahkan, pedagang wisata dinilai yang paling terdampak parah selama masa pandemi. Jika tersalurkan, maka bantuan dianggap tepat sasaran. Sehingga bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/