alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua

Oleh : dr Rasyid Salim, Sp.KJ, Ketua IDI cabang Mojokerto

SETIAP individu berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental. Tidak memandang kaya, miskin, pintar, atau jelek. Semuanya bisa mengalami hal tersebut. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu stresor yang mengancam kesehatan mental. Orang-orang terpaksa menghentikan atau mengurangi aktivitasnya di luar rumah, bahkan harus mengisolasi diri ketika terjangkit virus korona. Karena itu, kondisi mental memerlukan perhatian ekstra. Penting bagi kita untuk menjaga kesehatan mental.

Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud kesehatan jiwa? Ialah kondisi yang memfasilitasi secara optimal dan selaras dengan orang lain. Sehingga, tercapai kemampuan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Keharmonisan jiwa yaitu sanggup menghadapi masalah yang biasa terjadi dan merasa bahagia.

Selain kesehatan jiwa, dalam peringatan kesehatan mental tahun ini, masyarakat juga setidaknya memahami makna stres dalam ungkapan sehari-hari. Stres, merupakan salah satu gangguan jiwa. Yang merupakan gejala atau perilaku biasanya ditemukan secara klinis dan disertai adanya penderitaan pada kebanyakan kasus dengan terganggunya fungsi otak seseorang. Ini berbeda dengan psikologis.

Baca Juga :  Hanya Untung Rp 15 Ribu, Cari Bahan yang Berkualitas

Tiada kesehatan tanpa kesehatan mental. Ibarat sebuah koin yang memiliki dua sisi, sehat mental dan fisik adalah dua keadaan yang saling berhubungan dan sama pentingnya. Gangguan mental atau jiwa tak hanya identik dengan gila, kurang beriman atau disebabkan hal-hal magis, gaib atau santet. Gangguan mental atau jiwa dapat dicegah dan diobati. Kesehatan mental dimulai sejak konsepsi hingga ajal menjemput. Sehingga, bisa dioptimalkan sejak saat awal sampai akhir hayat.

Kualitas kesehatan mental merupakan tumpuan kualitas hidup. Sehingga kesehatan mental perlu dibina, ditingkatkan, dan dipertahankan terus menerus sejak bayi hingga lanjut usia. Kualitas mental yang positif dapat mengatasi kecenderungan negatif individu dan lingkungan.

Baca Juga :  Agen Pemain Terbaik di Dunia

Peningkatan kualitas mental dan penanganan gangguan mental diupayakan sedini mungkin mulai dengan pencegahan (preventif), sosialisasi (promotif), hingga pada pengobatan (kuratif) dan rehabilitatif. Penanganan masalah kesehatan jiwa secara menyeluruh harus melalui berbagai upaya. Selain penanganan individual melalui klinik, rumah sakit umum maupun rumah sakit jiwa, juga melalui masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pendidik dan lain-lain.

Kultur dan keberagaman mewarnai mental kita, bukan untuk dipermasalahkan tetapi untuk saling memperkaya dan memahami. Kesehatan mental akan menambah baiknya hubungan dan kerjasama antar manusia dan lingkungannya.

Oleh : dr Rasyid Salim, Sp.KJ, Ketua IDI cabang Mojokerto

SETIAP individu berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental. Tidak memandang kaya, miskin, pintar, atau jelek. Semuanya bisa mengalami hal tersebut. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu stresor yang mengancam kesehatan mental. Orang-orang terpaksa menghentikan atau mengurangi aktivitasnya di luar rumah, bahkan harus mengisolasi diri ketika terjangkit virus korona. Karena itu, kondisi mental memerlukan perhatian ekstra. Penting bagi kita untuk menjaga kesehatan mental.

Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud kesehatan jiwa? Ialah kondisi yang memfasilitasi secara optimal dan selaras dengan orang lain. Sehingga, tercapai kemampuan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Keharmonisan jiwa yaitu sanggup menghadapi masalah yang biasa terjadi dan merasa bahagia.

Selain kesehatan jiwa, dalam peringatan kesehatan mental tahun ini, masyarakat juga setidaknya memahami makna stres dalam ungkapan sehari-hari. Stres, merupakan salah satu gangguan jiwa. Yang merupakan gejala atau perilaku biasanya ditemukan secara klinis dan disertai adanya penderitaan pada kebanyakan kasus dengan terganggunya fungsi otak seseorang. Ini berbeda dengan psikologis.

Baca Juga :  Agen Pemain Terbaik di Dunia

Tiada kesehatan tanpa kesehatan mental. Ibarat sebuah koin yang memiliki dua sisi, sehat mental dan fisik adalah dua keadaan yang saling berhubungan dan sama pentingnya. Gangguan mental atau jiwa tak hanya identik dengan gila, kurang beriman atau disebabkan hal-hal magis, gaib atau santet. Gangguan mental atau jiwa dapat dicegah dan diobati. Kesehatan mental dimulai sejak konsepsi hingga ajal menjemput. Sehingga, bisa dioptimalkan sejak saat awal sampai akhir hayat.

- Advertisement -

Kualitas kesehatan mental merupakan tumpuan kualitas hidup. Sehingga kesehatan mental perlu dibina, ditingkatkan, dan dipertahankan terus menerus sejak bayi hingga lanjut usia. Kualitas mental yang positif dapat mengatasi kecenderungan negatif individu dan lingkungan.

Baca Juga :  Trowulan dan Pungging Sudah Gelar Fashion Show

Peningkatan kualitas mental dan penanganan gangguan mental diupayakan sedini mungkin mulai dengan pencegahan (preventif), sosialisasi (promotif), hingga pada pengobatan (kuratif) dan rehabilitatif. Penanganan masalah kesehatan jiwa secara menyeluruh harus melalui berbagai upaya. Selain penanganan individual melalui klinik, rumah sakit umum maupun rumah sakit jiwa, juga melalui masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pendidik dan lain-lain.

Kultur dan keberagaman mewarnai mental kita, bukan untuk dipermasalahkan tetapi untuk saling memperkaya dan memahami. Kesehatan mental akan menambah baiknya hubungan dan kerjasama antar manusia dan lingkungannya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/