alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

28 Tahun Terbaring di Kamar, Komunikasi Hanya lewat HT

Hampir seluruh waktu Ahmad Harianto dihabiskan di atas tempat tidurnya. Itu setelah, pria 48 tahun itu mengalami kelumpuhan yang dialaminya selama 28 tahun. Satu-satunya untuk mengisi kesibukan dengan berkomunikasi lewat radio atau handy talky (HT) dan menerima servis elektronik. 

CUKUP sulit untuk menemukan tempat tinggal Ahmad Harianto. Untuk menemuinya harus beberapa kali bertanya kepada warga. Itu pun tidak banyak yang mengenalnya.

Baru tetangga dekat saja yang menunjukkan alamat rumahnya. ”Oh, tukang servis itu ya,” sahut salah satu tetangga dekatnya sembari menunjukkan tempat tinggal Ahmad Harianto.

Ahmad Harianto tinggal bersama orang tua dan saudaranya di sebuah rumah tua di Dusun Prayan, RT 04/RW 02, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Di salah satu kamar berukuran sekitar 4×3 meter itu Ahmad Harianto hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.

Pria yang akrab disapa Hari ini menjelaskan, dia sudah cukup lama mengalami kelumpuhan. Hampir seluruh anggota gerak pada tubuhnya tidak bisa digerakkan. Hanya tangan kirinya saja yang leluasa digerakkan sepenuhnya. Jangankan berdiri, untuk duduk pun Hari merasa kesulitan. ”Rasanya seperti kaku semua,” paparnya.

Baca Juga :  Tak Harus Kenyang, Tapi Penting Seimbang

Dia menceritakan, penyakit yang dideritanya itu terjadi sejak 1990 silam atau saat dia masih duduk di bangku kelas XI SMK. Saat itu, dia harus beberapa kali dirawat di rumah sakit karena didiagnosa mengalami penyakit liver.

Setelah beberapa waktu menjalani opname di rumah sakit, kemudian muncul gejala lain. ”Awalnya sering pingsan. Kecapekan sedikit saja sudah langsung pingsan,” ujarnya.

Bahkan, setelah itu disusul dengan gejala kaku di sekujur tubuhnya. Mulai kaki, punggung hingga leher dan kepala. ”Kalau dipaksa jalan seperti robot,” paparnya. Hari pun memutuskan untuk berhenti tidak melanjutkan sekolah. Dan sejak saat itu, lambat laun dia mulai mengalami kelumpuhan.

Hari mengaku sudah cukup sering melakukan pengobatan medis untuk mencari kesembuhan. Namun, hingga saat ini belum diketahui pasti penyakit apa yang dialaminya. Sebab, ketika dilakukan pemeriksaan, hasilnya masih dalam kondisi normal.

Tak berhenti di situ, tak jarang dia juga mencoba pengobatan alternatif nonmedis. Namun, semua upaya itu masih belum membuahkan perubahan. Kendati demikian, Hari merasa tidak putus asa.

Meski lebih dari separo usianya dihabiskan di dalam kamar, dia memiliki cara sendiri untuk bersosialisasi. Dia memasang radio atau HT untuk menjalin komunikasi dengan orang lain.

Baca Juga :  Tahun 1947, Pemkab Mojokerto Memiliki Dua Bupati

Melalui media komunikasi radio itulah dia memiliki banyak teman untuk mengusir kesepian dan kepenatannya di atas tempat tidur. ”Di lingkungan setempat memang sudah jarang yang kenal saya. Karena sudah 28 tahun tidak keluar rumah. Tapi, di radio ada ratusan teman yang setiap hari komunikasi dengan saya,” tandasnya.

Melalui radio itulah dia juga mengetahui informasi, berita, hingga cuaca yang terjadi di Mojokerto. Selain itu, dalam frekuensi radio tersebut, temannya juga terdiri banyak latar belakang profesi dan pekerjaan. Bahkan, berkat jejaring komunikasi itu juga, Hari mulai mengenal dunia elektronik.

Hingga akhirnya, Pria kelahiran 12 September 1971 ini mulai belajar secara otodidak dan mampu menerima servis barang elektonik. Order servis kebayakan didapat dari teman sesama komunitas radio.

Meski demikian, sejauh ini Hari masih terbatas beberapa barang elektronik yang diterimanya. Mengingat, dia hanya bisa memperbaiki di atas tempat tidur. ”Untuk mengisi kesibukan saja. Itu pun sebatas yang saya bisa,” pungkasnya. 

Hampir seluruh waktu Ahmad Harianto dihabiskan di atas tempat tidurnya. Itu setelah, pria 48 tahun itu mengalami kelumpuhan yang dialaminya selama 28 tahun. Satu-satunya untuk mengisi kesibukan dengan berkomunikasi lewat radio atau handy talky (HT) dan menerima servis elektronik. 

CUKUP sulit untuk menemukan tempat tinggal Ahmad Harianto. Untuk menemuinya harus beberapa kali bertanya kepada warga. Itu pun tidak banyak yang mengenalnya.

Baru tetangga dekat saja yang menunjukkan alamat rumahnya. ”Oh, tukang servis itu ya,” sahut salah satu tetangga dekatnya sembari menunjukkan tempat tinggal Ahmad Harianto.

Ahmad Harianto tinggal bersama orang tua dan saudaranya di sebuah rumah tua di Dusun Prayan, RT 04/RW 02, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Di salah satu kamar berukuran sekitar 4×3 meter itu Ahmad Harianto hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.

Pria yang akrab disapa Hari ini menjelaskan, dia sudah cukup lama mengalami kelumpuhan. Hampir seluruh anggota gerak pada tubuhnya tidak bisa digerakkan. Hanya tangan kirinya saja yang leluasa digerakkan sepenuhnya. Jangankan berdiri, untuk duduk pun Hari merasa kesulitan. ”Rasanya seperti kaku semua,” paparnya.

Baca Juga :  Tunjangan Dewan Diajukan Naik

Dia menceritakan, penyakit yang dideritanya itu terjadi sejak 1990 silam atau saat dia masih duduk di bangku kelas XI SMK. Saat itu, dia harus beberapa kali dirawat di rumah sakit karena didiagnosa mengalami penyakit liver.

- Advertisement -

Setelah beberapa waktu menjalani opname di rumah sakit, kemudian muncul gejala lain. ”Awalnya sering pingsan. Kecapekan sedikit saja sudah langsung pingsan,” ujarnya.

Bahkan, setelah itu disusul dengan gejala kaku di sekujur tubuhnya. Mulai kaki, punggung hingga leher dan kepala. ”Kalau dipaksa jalan seperti robot,” paparnya. Hari pun memutuskan untuk berhenti tidak melanjutkan sekolah. Dan sejak saat itu, lambat laun dia mulai mengalami kelumpuhan.

Hari mengaku sudah cukup sering melakukan pengobatan medis untuk mencari kesembuhan. Namun, hingga saat ini belum diketahui pasti penyakit apa yang dialaminya. Sebab, ketika dilakukan pemeriksaan, hasilnya masih dalam kondisi normal.

Tak berhenti di situ, tak jarang dia juga mencoba pengobatan alternatif nonmedis. Namun, semua upaya itu masih belum membuahkan perubahan. Kendati demikian, Hari merasa tidak putus asa.

Meski lebih dari separo usianya dihabiskan di dalam kamar, dia memiliki cara sendiri untuk bersosialisasi. Dia memasang radio atau HT untuk menjalin komunikasi dengan orang lain.

Baca Juga :  Sengaja Saya Biarkan Kusam, agar Nilai Sejarahnya Tak Hilang

Melalui media komunikasi radio itulah dia memiliki banyak teman untuk mengusir kesepian dan kepenatannya di atas tempat tidur. ”Di lingkungan setempat memang sudah jarang yang kenal saya. Karena sudah 28 tahun tidak keluar rumah. Tapi, di radio ada ratusan teman yang setiap hari komunikasi dengan saya,” tandasnya.

Melalui radio itulah dia juga mengetahui informasi, berita, hingga cuaca yang terjadi di Mojokerto. Selain itu, dalam frekuensi radio tersebut, temannya juga terdiri banyak latar belakang profesi dan pekerjaan. Bahkan, berkat jejaring komunikasi itu juga, Hari mulai mengenal dunia elektronik.

Hingga akhirnya, Pria kelahiran 12 September 1971 ini mulai belajar secara otodidak dan mampu menerima servis barang elektonik. Order servis kebayakan didapat dari teman sesama komunitas radio.

Meski demikian, sejauh ini Hari masih terbatas beberapa barang elektronik yang diterimanya. Mengingat, dia hanya bisa memperbaiki di atas tempat tidur. ”Untuk mengisi kesibukan saja. Itu pun sebatas yang saya bisa,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Cocok untuk Wanita Multitasking

Warga Protes Usaha Peralatan Dapur

Tukang Bakso Gasak Ponsel Teman Sendiri

Artikel Terbaru


/