alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Pertahankan Racikan Warisan, Jadi Ajang Nostalgia

Berburu kuliner legendaris tidak hanya soal menuruti selera lidah. Beberapa penikmat justru menginginkan atmosfer khusus dari bermacam jenis masakan yang disuguhkan. Bahkan, mereka seperti dibuai dengan kenangan masa lalu seperti kali pertama mencicipi menu legendaris yang disantap.

Vibe inilah yang terus dipertahankan Warung Pecel Gaden di Komplek Pasar Jalan Penanggungan, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari Kota Mojokerto. Nama ’’Gaden’’ diambil dari sebutan pegadaian. Di mana, sebelum berpindah di Wates, warung pecel turun temurun ini dulunya mangkal di dekat kantor Pegadaian, Jalan WR Soepratman.

Antara tahun 1970 sampai 1994 atau saat pertama kali dikelola Kasdam yang kemudian diturunkan kepada putrinya Musni sebagai empunya pecel gaden. Karena nama itulah, nasi pecel ini akhirnya dikenal luas publik karena rasanya yang orisinil dan murah di kantong.

’’Awalnya dulu kakek saya yang jualan, kemudian diturunkan ke ibu dan mangkalnya di trotoar depan kantor pegadaian. Seingat saya selalu jadi jujugan makan para pegawai sehabis ambil gaji di kantor pegadaian,’’ ujar Luluk Wijayanti, pewaris Warung Pecel Gaden.

Baca Juga :  Silat Aktifkan Latihan, Utamakan bagi yang Pelajar

Meski sudah berpindah lokasi dan pengelolaan, namun Luluk sebagai pewaris warung tak lantas menghilangkan taste bumbu pecel yang pedas dan gurih. Di mana, racikan warisan dari kakek dan ibunya tersebut tetap ia pertahankan.

’’Bumbu pecel ini sendiri pedas dan gurih, namun tetap lembut di lidah. Karena kami mengolahnya dengan alat penggilingan sendiri dan tidak bercambur dengan bumbu lainnya. Termasuk juga racikan sayurnya yang berubah, dari dulu hanya campuran kecambah, daun kemangi, dan timun,’’ tegas perempuan 50 tahun ini.

Nah, karena orisinalitas itulah, pecel gaden tetap menjadi jujugan penikmat kuliner. Khususnya kalangan dewasa hingga lansia yang sempat merasakan atmosfer pecel gaden kali pertama dijual di dekat kantor pegadaian.

Baca Juga :  Dua Keluarga Ini Terpaksa Menghuni Kandang Kambing

Bahkan, sejumlah penikmatnya adalah kaum borjuis. Selain rasanya yang gurih dan legit, kenikmatan lain yang mereka dapat adalah kenangan lampau yang tak bisa dilupakan. Seolah mereka dibawa pada nostalgia jaman dulu ketika masih remaja. ’’Kebanyakan yang makan saat ini usianya lansia. Mereka ingin nostalgia ketika dulu mereka masih kecil atau remaja diajak orang tuanya makan disini. Kadang-kadang mereka juga membawa anak-cucunya sambil menceritakan jaman mereka kecil dulu,’’ ujar anak keenam Musni ini.

Untuk soal harga, Luluk tak mematok harga tinggi. Satu porsi nasi pecel tanpa lauk, ia hargai Rp 8 ribu. Jika menginginkan tambahan lauk seperti telur bali, telur dadar, ayam goreng, hingga ampela, customer hanya dikenakan harga Rp 3-5 ribu. (far/fen)

Berburu kuliner legendaris tidak hanya soal menuruti selera lidah. Beberapa penikmat justru menginginkan atmosfer khusus dari bermacam jenis masakan yang disuguhkan. Bahkan, mereka seperti dibuai dengan kenangan masa lalu seperti kali pertama mencicipi menu legendaris yang disantap.

Vibe inilah yang terus dipertahankan Warung Pecel Gaden di Komplek Pasar Jalan Penanggungan, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari Kota Mojokerto. Nama ’’Gaden’’ diambil dari sebutan pegadaian. Di mana, sebelum berpindah di Wates, warung pecel turun temurun ini dulunya mangkal di dekat kantor Pegadaian, Jalan WR Soepratman.

Antara tahun 1970 sampai 1994 atau saat pertama kali dikelola Kasdam yang kemudian diturunkan kepada putrinya Musni sebagai empunya pecel gaden. Karena nama itulah, nasi pecel ini akhirnya dikenal luas publik karena rasanya yang orisinil dan murah di kantong.

’’Awalnya dulu kakek saya yang jualan, kemudian diturunkan ke ibu dan mangkalnya di trotoar depan kantor pegadaian. Seingat saya selalu jadi jujugan makan para pegawai sehabis ambil gaji di kantor pegadaian,’’ ujar Luluk Wijayanti, pewaris Warung Pecel Gaden.

Baca Juga :  Oase Jelang Puncak Tertinggi Jawa

Meski sudah berpindah lokasi dan pengelolaan, namun Luluk sebagai pewaris warung tak lantas menghilangkan taste bumbu pecel yang pedas dan gurih. Di mana, racikan warisan dari kakek dan ibunya tersebut tetap ia pertahankan.

’’Bumbu pecel ini sendiri pedas dan gurih, namun tetap lembut di lidah. Karena kami mengolahnya dengan alat penggilingan sendiri dan tidak bercambur dengan bumbu lainnya. Termasuk juga racikan sayurnya yang berubah, dari dulu hanya campuran kecambah, daun kemangi, dan timun,’’ tegas perempuan 50 tahun ini.

- Advertisement -

Nah, karena orisinalitas itulah, pecel gaden tetap menjadi jujugan penikmat kuliner. Khususnya kalangan dewasa hingga lansia yang sempat merasakan atmosfer pecel gaden kali pertama dijual di dekat kantor pegadaian.

Baca Juga :  Silat Aktifkan Latihan, Utamakan bagi yang Pelajar

Bahkan, sejumlah penikmatnya adalah kaum borjuis. Selain rasanya yang gurih dan legit, kenikmatan lain yang mereka dapat adalah kenangan lampau yang tak bisa dilupakan. Seolah mereka dibawa pada nostalgia jaman dulu ketika masih remaja. ’’Kebanyakan yang makan saat ini usianya lansia. Mereka ingin nostalgia ketika dulu mereka masih kecil atau remaja diajak orang tuanya makan disini. Kadang-kadang mereka juga membawa anak-cucunya sambil menceritakan jaman mereka kecil dulu,’’ ujar anak keenam Musni ini.

Untuk soal harga, Luluk tak mematok harga tinggi. Satu porsi nasi pecel tanpa lauk, ia hargai Rp 8 ribu. Jika menginginkan tambahan lauk seperti telur bali, telur dadar, ayam goreng, hingga ampela, customer hanya dikenakan harga Rp 3-5 ribu. (far/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/