alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Suguhkan Tema Majapahitan, Pajang Karya Pelukis Cilik

Puluhan pelukis yang tergabung dalam komunitas Dulur Mojokerto menggelar pameran. Tak kurang 40 karya lukis tentang Majapahitan dan berbagai tema umum lainnya.

Agenda tersebut juga memberikan ruang khusus bagi pelukis muda untuk unjuk gigi bagi talenta muda.

BERTEMPAT di sebuah warung di Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Parajurit Kulon, Kota Mojokerto, tak kurang dari 40 lukisan dipajang hingga sebulan. Lukisan tersebut merupakan karya dari 20 pelukis Kabupaten/Kota Mojokerto.

Gelaran art exhibition itu bertajuk Tak Kenal Maka Tak Sayang itu menyuguhkan berbagai karya lukis tentang Mojokerto. Seperti karya Masroni dengan judul Gedung Bioskop Indera.

Melalui media oil on canvas, pelukis Mojokerto ini seolah menghidupkan kembali suasana bioskop yang pernah jaya di era 90-an itu. Selain itu, beberapa perupa lainnya juga mengambil latar belakang tentang Majapahitan.

Di antaranya M. Supriyono tentang pesona Wringin Lawang, kemudian Nasikin yang menggambarkan ruwat tirto di situs Petirtaan Jolotundo, serta karya Riyamun tentang Kejayaan Patih Gajah Mada yang dituangkan dengan media oil on canvas.

Baca Juga :  Survey Jadi Penentu Peraih Rekom PPP

’’Memang awalnya kita ambil tema Majapahitan, tapi ada juga karya dengan tema umum lainnya,’’ papar Misdi Nur Cahyo, salah satu peserta pameran lukisan. Pria yang akrab disapa Cak Dirun ini, mengatakan, masing-masing pelukis memiliki aliran yang berbeda.

Sehingga karya yang dipamerkan cukup bervariatif dan kaya kreasi. Di antaranya ada aliran realis, ekspresionis, abstraksionis, serta aliran seni lukis lainnya.

Karya lain yang cukup mencuri pandangan adalah karya Hery dengan judul Hanya Sekedar. Perupa ini seakan berbeda dengan yang lain, mengingat dia menggunakan media cutting on hardboard.

’’Pameran ini memang bertujuan agar orang bisa mengenal arti dari sebuah seni. Tidak hanya sekadar lukisan, tapi bagaimana cara membuatnya,’’ paparnya.

Baca Juga :  Emil Dardak Disambut Meriah dan Didoakan Menang Pilgub

Tak hanya itu, dalam kesempatan pameran kali ini, juga memberikan kesempatan bagi pelukis muda untuk unjuk gigi. Beberapa pelukis yang masih jenjang pendidikan SD-SMP juga turut memajang karyanya.

Antara lain Andita Shevia. Bocah 8 tahun ini memamerkan lukisan dengan media acrilyc on canvas berukuran 120 x 100 sentimeter. Siswi yang masih duduk di bangku kelas II Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini mengambil tema tentang Majapahit yang diberi judul Jumpritan Nang Candi Bajang Ratu.

Selain itu, juga ada pelukis abstraksionis Nadira Zahra Ramadina, 11, yang juga menurunkan karya tentang Wringin Lawang. Cak Dirun mengatakan, komunitas Dulur Mojokerto memang menyediakan panggung bagi pelukis cilik sebagai bentuk regenerasi pelukis di Mojokerto.

’’Kita berusaha memberikan ruang pada pelukis muda. Karena bibit-bibit ini yang nanti jadi penerus eksistensi seni lukis di Mojokerto,’’ pungkasnya. 

 

Puluhan pelukis yang tergabung dalam komunitas Dulur Mojokerto menggelar pameran. Tak kurang 40 karya lukis tentang Majapahitan dan berbagai tema umum lainnya.

Agenda tersebut juga memberikan ruang khusus bagi pelukis muda untuk unjuk gigi bagi talenta muda.

BERTEMPAT di sebuah warung di Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Parajurit Kulon, Kota Mojokerto, tak kurang dari 40 lukisan dipajang hingga sebulan. Lukisan tersebut merupakan karya dari 20 pelukis Kabupaten/Kota Mojokerto.

Gelaran art exhibition itu bertajuk Tak Kenal Maka Tak Sayang itu menyuguhkan berbagai karya lukis tentang Mojokerto. Seperti karya Masroni dengan judul Gedung Bioskop Indera.

Melalui media oil on canvas, pelukis Mojokerto ini seolah menghidupkan kembali suasana bioskop yang pernah jaya di era 90-an itu. Selain itu, beberapa perupa lainnya juga mengambil latar belakang tentang Majapahitan.

Di antaranya M. Supriyono tentang pesona Wringin Lawang, kemudian Nasikin yang menggambarkan ruwat tirto di situs Petirtaan Jolotundo, serta karya Riyamun tentang Kejayaan Patih Gajah Mada yang dituangkan dengan media oil on canvas.

Baca Juga :  Berdamai dengan Pagebluk
- Advertisement -

’’Memang awalnya kita ambil tema Majapahitan, tapi ada juga karya dengan tema umum lainnya,’’ papar Misdi Nur Cahyo, salah satu peserta pameran lukisan. Pria yang akrab disapa Cak Dirun ini, mengatakan, masing-masing pelukis memiliki aliran yang berbeda.

Sehingga karya yang dipamerkan cukup bervariatif dan kaya kreasi. Di antaranya ada aliran realis, ekspresionis, abstraksionis, serta aliran seni lukis lainnya.

Karya lain yang cukup mencuri pandangan adalah karya Hery dengan judul Hanya Sekedar. Perupa ini seakan berbeda dengan yang lain, mengingat dia menggunakan media cutting on hardboard.

’’Pameran ini memang bertujuan agar orang bisa mengenal arti dari sebuah seni. Tidak hanya sekadar lukisan, tapi bagaimana cara membuatnya,’’ paparnya.

Baca Juga :  Survey Jadi Penentu Peraih Rekom PPP

Tak hanya itu, dalam kesempatan pameran kali ini, juga memberikan kesempatan bagi pelukis muda untuk unjuk gigi. Beberapa pelukis yang masih jenjang pendidikan SD-SMP juga turut memajang karyanya.

Antara lain Andita Shevia. Bocah 8 tahun ini memamerkan lukisan dengan media acrilyc on canvas berukuran 120 x 100 sentimeter. Siswi yang masih duduk di bangku kelas II Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini mengambil tema tentang Majapahit yang diberi judul Jumpritan Nang Candi Bajang Ratu.

Selain itu, juga ada pelukis abstraksionis Nadira Zahra Ramadina, 11, yang juga menurunkan karya tentang Wringin Lawang. Cak Dirun mengatakan, komunitas Dulur Mojokerto memang menyediakan panggung bagi pelukis cilik sebagai bentuk regenerasi pelukis di Mojokerto.

’’Kita berusaha memberikan ruang pada pelukis muda. Karena bibit-bibit ini yang nanti jadi penerus eksistensi seni lukis di Mojokerto,’’ pungkasnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/