alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Disuplai ANIEM, Tersambung Sejak Tahun 1927

KOTA Mojokerto menjadi salah satu kota yang cukup sibuk. Berbagai kegiatan, baik di sektor perekonomian hingga perindustrian berjalan siang dan malam. Bahkan, padatnya aktivitas tersebut telah berjalan sejak era kolonial. Itu berawal sejak tersambungnya stroom atau aliran energi listrik di Kota Mojokerto sekitar sembilan dekade yang lalu.

Sejarawan Mojokerto ayuhanafiq mengungkapkan, masuknya jaringan listrik di Kota Mojokerto terbilang terlambat dibanding kota-kota besar lainnya. Di Jawa Timur, aliran listrik pertama kali menjangkau Surabaya di awal abad ke-20.

Tepatnya setelah berdirinya Algemeene Nederlandsch Indiesche Electriciteit Maatschappij (ANIEM) pada 26 April 1909. Perusahaan swasta di bawah naungan NV Handlesvennotschap itu menyediakan jaringan listrik untuk umum. ”ANIEM kemudian menyambungkan jaringan listrik hingga ke berbagai daerah,” terangnya.

Kendati demikian, warga Kota Mojokerto masih harus bersabar untuk bisa teraliri energi listrik. Hingga 1920-an, Kota Mojokerto masih seperti kota mati saat malam hari. Sebab, sebagian besar masyakat menghabiskan waktu di rumah setelah matahari terbenam.

Hingga akhirnya, harapan untuk mendapat aliran listrik setelah kelompok warga etnis Tionghoa mangajukan proposal pembuatan jaringan listrik ke Gemeentesraad atau lembaga legislatif Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Hutan Bambu Petung Seribu, Sensasi Mistis Berpadu Indahnya Alam

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, permohonan dari kelompok warga yang tergabung dalam kongsi usaha itu selanjutnya dibahas oleh internal dewan dan diteruskan ke Pemkot Mojokerto. ”Rencana pembuatan jaringan listrik diperuntukkan melayani kebutuhan warga serta penerangan umum di wilayah kota,” tandasnya.

Yuhan menyatakan, rencana tersebut awalnya berjalan tanpa kendala lantaran mendapat persetujuan dari dewan kota. Bahkan, permohonan tertulis sudah dikirimkan ke Bureu Van Waterkracht en Electricitiet atau Biro Tenaga Air dan Listrik yang berkantor di Bandung. Namun, rencana untuk menyambungkan listrik ke Kota Mojokerto tersendat karena ANIEM juga telah lebih dulu mengajukan permohonan yang sama.

Pemerintah kolonial rupanya lebih memilih tawaran ANIEM karena dianggap lebih menguntungkan. Hingga akhirnya, perusahaan penyedia listrik pertama di masa pemerintahan Belanda itu mengantongi izin operasional membangun jaringan listrik di Kota Mojokerto.

Pada 1926, sebut Yuhan, DPRD Kota Mojokerto mulai menggelar pembahasan terkait realisasi pemasangan jaringan listrik dengan ANIEM. ”Listrik di Kota Mojokerto disalurkan dari PLTA (pembangkit listrik tenaga air) dari Sungai Konto,” papar Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Baca Juga :  Laznas BMH Ajak 1.313 Santri dan Dhuafa di Jatim Buka Puasa Bersama

Sehingga, masih butuh proses yang cukup lama untuk merealisasi agar Kota Mojokerto bisa teraliri jaringan listrik. Sebab, PLTA berada di wilayah Ngantang, Kabupaten Malang. Dewan pun memberi rekomendasi kepada ANIEM untuk menyalurkan stroom sementara dari Kota Surabaya yang dianggap lebih dekat dengan Mojokerto sambil menunggu proses penyambungan dari PLTA Sungai Konto.

Meski sempat terjadi pembahasan alot terkait tarif dasar listrik yang ditetapkan ANIEM, pada akhirnya, aliran listrik tersambung ke Kota Mojokerto untuk pertama kali pada 1927. Energi listrik itu kemudian tersalur untuk membantu penerangan jalan, perniagaan, hingga membantu kebutuhan pelayanan kesehatan. ”Sejak saat itu, aktivitas masyarakat di malam hari mulai bergeliat. Karena Kota Mojokerto sudah terang benderang saat malam,” ulas Yuhan. (ram/ron)

 

KOTA Mojokerto menjadi salah satu kota yang cukup sibuk. Berbagai kegiatan, baik di sektor perekonomian hingga perindustrian berjalan siang dan malam. Bahkan, padatnya aktivitas tersebut telah berjalan sejak era kolonial. Itu berawal sejak tersambungnya stroom atau aliran energi listrik di Kota Mojokerto sekitar sembilan dekade yang lalu.

Sejarawan Mojokerto ayuhanafiq mengungkapkan, masuknya jaringan listrik di Kota Mojokerto terbilang terlambat dibanding kota-kota besar lainnya. Di Jawa Timur, aliran listrik pertama kali menjangkau Surabaya di awal abad ke-20.

Tepatnya setelah berdirinya Algemeene Nederlandsch Indiesche Electriciteit Maatschappij (ANIEM) pada 26 April 1909. Perusahaan swasta di bawah naungan NV Handlesvennotschap itu menyediakan jaringan listrik untuk umum. ”ANIEM kemudian menyambungkan jaringan listrik hingga ke berbagai daerah,” terangnya.

Kendati demikian, warga Kota Mojokerto masih harus bersabar untuk bisa teraliri energi listrik. Hingga 1920-an, Kota Mojokerto masih seperti kota mati saat malam hari. Sebab, sebagian besar masyakat menghabiskan waktu di rumah setelah matahari terbenam.

Hingga akhirnya, harapan untuk mendapat aliran listrik setelah kelompok warga etnis Tionghoa mangajukan proposal pembuatan jaringan listrik ke Gemeentesraad atau lembaga legislatif Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Manfaatkan Belajar di Rumah, Karyanya Sudah Dibaca 1.000 Orang

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, permohonan dari kelompok warga yang tergabung dalam kongsi usaha itu selanjutnya dibahas oleh internal dewan dan diteruskan ke Pemkot Mojokerto. ”Rencana pembuatan jaringan listrik diperuntukkan melayani kebutuhan warga serta penerangan umum di wilayah kota,” tandasnya.

- Advertisement -

Yuhan menyatakan, rencana tersebut awalnya berjalan tanpa kendala lantaran mendapat persetujuan dari dewan kota. Bahkan, permohonan tertulis sudah dikirimkan ke Bureu Van Waterkracht en Electricitiet atau Biro Tenaga Air dan Listrik yang berkantor di Bandung. Namun, rencana untuk menyambungkan listrik ke Kota Mojokerto tersendat karena ANIEM juga telah lebih dulu mengajukan permohonan yang sama.

Pemerintah kolonial rupanya lebih memilih tawaran ANIEM karena dianggap lebih menguntungkan. Hingga akhirnya, perusahaan penyedia listrik pertama di masa pemerintahan Belanda itu mengantongi izin operasional membangun jaringan listrik di Kota Mojokerto.

Pada 1926, sebut Yuhan, DPRD Kota Mojokerto mulai menggelar pembahasan terkait realisasi pemasangan jaringan listrik dengan ANIEM. ”Listrik di Kota Mojokerto disalurkan dari PLTA (pembangkit listrik tenaga air) dari Sungai Konto,” papar Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan New Normal, Herd Immunity Jadi Syarat Utama

Sehingga, masih butuh proses yang cukup lama untuk merealisasi agar Kota Mojokerto bisa teraliri jaringan listrik. Sebab, PLTA berada di wilayah Ngantang, Kabupaten Malang. Dewan pun memberi rekomendasi kepada ANIEM untuk menyalurkan stroom sementara dari Kota Surabaya yang dianggap lebih dekat dengan Mojokerto sambil menunggu proses penyambungan dari PLTA Sungai Konto.

Meski sempat terjadi pembahasan alot terkait tarif dasar listrik yang ditetapkan ANIEM, pada akhirnya, aliran listrik tersambung ke Kota Mojokerto untuk pertama kali pada 1927. Energi listrik itu kemudian tersalur untuk membantu penerangan jalan, perniagaan, hingga membantu kebutuhan pelayanan kesehatan. ”Sejak saat itu, aktivitas masyarakat di malam hari mulai bergeliat. Karena Kota Mojokerto sudah terang benderang saat malam,” ulas Yuhan. (ram/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/