alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Ditempuh 72 Jam, Tidur Hanya Satu Jam, Kena Asam Lambung

TAK banyak orang punya bernyali dalam menyelesaikan tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya. Termasuk tantangan berlari sejauh 320 kilometer  (K) dalam tempo 72 jam. Pengalaman ini yang sempat dicoba Ari Masrudi hingga mampu finis di urutan kedua. 

Berlari adalah passion-nya. Berawal dari sekadar hobi namun keterusan. Hingga sejumlah event lari tingkat provinsi sampai Nasional pun dia ikuti hanya demi menuruti hobinya. Baginya, sehari tak berlari sama halnya dicambuki sebanyak seratus kali. Berlebihan memang.

Namun, itulah kelebihan Ari Masrudi, warga Desa Jambuwok, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang menggemari lari sejak SMA. Dari sekian ajang lari yang dia ikuti, lomba lari maraton Tambora Challenge, 4-7 April kemarin disebutnya sebagai ajang yang paling istimewa.

Sebab, tantangan yang diberikan panitia kepada peserta disebutnya sangat berat. Bahkan, belum pernah dia coba sebelumnya. Yakni, berlari sejauh 320K menyusuri keelokan Pulau Sumbawa. Tidak hanya track-nya yang super jauh, tantangan lain yang cukup menghela napas pesertanya adalah waktu tempuh yang diberikan panitia.

Yakni, hanya tiga hari atau 72 jam selama perlombaan berlangsung. Tantangan ini yang membuat event lari dalam rangka memperingati meletusnya Gunung Tambora itu tidak banyak diikuti peserta. Pasalnya, panitia hanya membatasi jumlah peserta berdasarkan track record dan kemampuan fisik.

Dan Ari, menjadi salah satu peserta yang terpilih lantaran prestasinya yang moncer di beberapa event lari yang dia ikuti sebelumnya. ’’Ya, nggak ada tujuan khusus sebenarnya. Cuman ingin menaklukkan tantangan saja. Tantangan ternyata dari diri sendiri,’’ terangnya.

Baca Juga :  Yoko Incar Rekom Gerindra, Empat Parpol Dalam Bidikan

Tidak hanya terpilih, kenekatan Ari ternyata membawa namanya masuk dalam jajaran sprinter elite di Tanah Air. Pasalnya, dia berhasil menyelesaikan lomba dan finis di nomor dua. Turun di nomor relay, Ari yang berpasangan dengan Hadi Mustofa, sprinter asal Blitar mampu finis dengan catatan waktu 66 jam 9 menit 32 detik.

Catatan itu hanya selisih 4 jam dari peringkat pertama yang diraih pasangan Mariadi-Yurika Chendy Rusianto dengan waktu tempuh 62 jam 24 menit 6 detik. Namun, kemenangan Ari dan Hadi bukan tanpa permasalahan selama lomba berlangsung.

Banyak hambatan yang harus dia lalui dengan sekuat tenaga yang dimiliki. Saat itu, motivasi awalnya bukan soal juara atau tidak, melainkan mampu finis atau tidak. Sebab, banyak peserta yang sudah tumbang lebih dulu meski perjalanan lomba belum ada sepersepuluh dari total jarak tempuh.

’’Ya, yang penting bagi kami adalah bisa finis sudah Alhamdulillah,’’ terang pria 32 tahun ini. Benar saja, Ari yang dimandati menyelesaikan tongkat estafet di paro kedua atau 160K sampai finis sudah dihadapkan pada tantangan berlari di malam hari.Start Kamis (5/4) pukul 21.00, Ari langsung menggeber kecepatannya sejauh mungkin.

Cara itu berhasil meninggalkan peserta lain hingga leading puluhan kilometer. Hingga Jumat (6/4) pukul 05.00 pagi, wirausahawan ini telah menempuh jarak 220K. Nah, di sinilah kesalahan cukup fatal dia perbuat hingga menghambat laju larinya.

Betapa tidak, kecepatannya mulai berkurang akibat perutnya mengalami asam lambung. Sakit itu, lantaran dia terlalu banyak berlari hingga mengabaikan rasa kantuk dan rasa lapar. Namun, rasa melilit itu tetap dia paksakan hingga mencapai di kilometer ke 240.

Baca Juga :  Tunggu Hasil Praporprov

’’Saat itu, tidurnya hanya satu jam. Padahal, normalnya di lomba lari seperti ini adalah 2 sampai 3 jam. Tapi, tetap saya tahan agar menjauh dari peserta lain,’’ tuturnya. Setelah beristirahat beberapa menit, Ari melanjutkan perjalanannya kembali. Namun, tantangan yang tak kalah seru kembali menghampirinya.

Di mana, cuaca terik Pulau Sumbawa cukup menguras energinya. Di sini, dia tak lagi menggeber kecepatan larinya, melainkan memanfaatkan waktu untuk istirahat dan makan. ’’Pukul 09.00 saya lanjut lari lagi, tapi suhu 35 derajat nggak bisa ditolerir. Karena kantrack yang dilalui sebagian besar adalah kawasan Padang Savana,’’ imbuh anggota Komunitas Majapahit Runner ini.

Namun, lagi-lagi tekad dan keyakinan yang bulat membuatnya tak berhenti berlari hingga tiba di kilometer 300, Sabtu (7/4) pagi pukul 06.30. Di sini, dia menghela napas lagi dengan istirahat dan makan roti agar perut dan tenaga tetap terisi. Kondisi yang membuat kesehatannya mulai membaik. Hingga kembali memutuskan lari kembali sampai di kilometer 310 untuk memangkas waktu.

Di sini, dia kembali istirahat beberapa menit untuk makan buah sambil bilas badan. Kurang 10 kilometer lagi, cuaca panas kembali menghantuinya. Beruntung, keputusannya bilas badan sangat tepat, sehingga dehidrasi tak sampai menyelimuti dirinya.

Di 7 kilometer jelang finis, Ari sudah kehabisan tenaga hingga membuatnya harus berjalan pelan-pelan. Selain menahan rasa lemas, seluruh badannya sudah mulai bergetar akibat asam lambung yang tak kunjung membaik.

Hingga pada pukul 9.30, Ari akhirnya tiba di finis meninggalkan puluhan sprinter lain. ’’Intinya seberat apa pun tantangannya, jangan menyerah sampai titik darah penghabisan,’’ pungkasnya.

TAK banyak orang punya bernyali dalam menyelesaikan tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya. Termasuk tantangan berlari sejauh 320 kilometer  (K) dalam tempo 72 jam. Pengalaman ini yang sempat dicoba Ari Masrudi hingga mampu finis di urutan kedua. 

Berlari adalah passion-nya. Berawal dari sekadar hobi namun keterusan. Hingga sejumlah event lari tingkat provinsi sampai Nasional pun dia ikuti hanya demi menuruti hobinya. Baginya, sehari tak berlari sama halnya dicambuki sebanyak seratus kali. Berlebihan memang.

Namun, itulah kelebihan Ari Masrudi, warga Desa Jambuwok, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang menggemari lari sejak SMA. Dari sekian ajang lari yang dia ikuti, lomba lari maraton Tambora Challenge, 4-7 April kemarin disebutnya sebagai ajang yang paling istimewa.

Sebab, tantangan yang diberikan panitia kepada peserta disebutnya sangat berat. Bahkan, belum pernah dia coba sebelumnya. Yakni, berlari sejauh 320K menyusuri keelokan Pulau Sumbawa. Tidak hanya track-nya yang super jauh, tantangan lain yang cukup menghela napas pesertanya adalah waktu tempuh yang diberikan panitia.

- Advertisement -

Yakni, hanya tiga hari atau 72 jam selama perlombaan berlangsung. Tantangan ini yang membuat event lari dalam rangka memperingati meletusnya Gunung Tambora itu tidak banyak diikuti peserta. Pasalnya, panitia hanya membatasi jumlah peserta berdasarkan track record dan kemampuan fisik.

Dan Ari, menjadi salah satu peserta yang terpilih lantaran prestasinya yang moncer di beberapa event lari yang dia ikuti sebelumnya. ’’Ya, nggak ada tujuan khusus sebenarnya. Cuman ingin menaklukkan tantangan saja. Tantangan ternyata dari diri sendiri,’’ terangnya.

Baca Juga :  Hobi kok Gegeran

Tidak hanya terpilih, kenekatan Ari ternyata membawa namanya masuk dalam jajaran sprinter elite di Tanah Air. Pasalnya, dia berhasil menyelesaikan lomba dan finis di nomor dua. Turun di nomor relay, Ari yang berpasangan dengan Hadi Mustofa, sprinter asal Blitar mampu finis dengan catatan waktu 66 jam 9 menit 32 detik.

Catatan itu hanya selisih 4 jam dari peringkat pertama yang diraih pasangan Mariadi-Yurika Chendy Rusianto dengan waktu tempuh 62 jam 24 menit 6 detik. Namun, kemenangan Ari dan Hadi bukan tanpa permasalahan selama lomba berlangsung.

Banyak hambatan yang harus dia lalui dengan sekuat tenaga yang dimiliki. Saat itu, motivasi awalnya bukan soal juara atau tidak, melainkan mampu finis atau tidak. Sebab, banyak peserta yang sudah tumbang lebih dulu meski perjalanan lomba belum ada sepersepuluh dari total jarak tempuh.

’’Ya, yang penting bagi kami adalah bisa finis sudah Alhamdulillah,’’ terang pria 32 tahun ini. Benar saja, Ari yang dimandati menyelesaikan tongkat estafet di paro kedua atau 160K sampai finis sudah dihadapkan pada tantangan berlari di malam hari.Start Kamis (5/4) pukul 21.00, Ari langsung menggeber kecepatannya sejauh mungkin.

Cara itu berhasil meninggalkan peserta lain hingga leading puluhan kilometer. Hingga Jumat (6/4) pukul 05.00 pagi, wirausahawan ini telah menempuh jarak 220K. Nah, di sinilah kesalahan cukup fatal dia perbuat hingga menghambat laju larinya.

Betapa tidak, kecepatannya mulai berkurang akibat perutnya mengalami asam lambung. Sakit itu, lantaran dia terlalu banyak berlari hingga mengabaikan rasa kantuk dan rasa lapar. Namun, rasa melilit itu tetap dia paksakan hingga mencapai di kilometer ke 240.

Baca Juga :  Cium Cecap Kopi Sensasi Wine

’’Saat itu, tidurnya hanya satu jam. Padahal, normalnya di lomba lari seperti ini adalah 2 sampai 3 jam. Tapi, tetap saya tahan agar menjauh dari peserta lain,’’ tuturnya. Setelah beristirahat beberapa menit, Ari melanjutkan perjalanannya kembali. Namun, tantangan yang tak kalah seru kembali menghampirinya.

Di mana, cuaca terik Pulau Sumbawa cukup menguras energinya. Di sini, dia tak lagi menggeber kecepatan larinya, melainkan memanfaatkan waktu untuk istirahat dan makan. ’’Pukul 09.00 saya lanjut lari lagi, tapi suhu 35 derajat nggak bisa ditolerir. Karena kantrack yang dilalui sebagian besar adalah kawasan Padang Savana,’’ imbuh anggota Komunitas Majapahit Runner ini.

Namun, lagi-lagi tekad dan keyakinan yang bulat membuatnya tak berhenti berlari hingga tiba di kilometer 300, Sabtu (7/4) pagi pukul 06.30. Di sini, dia menghela napas lagi dengan istirahat dan makan roti agar perut dan tenaga tetap terisi. Kondisi yang membuat kesehatannya mulai membaik. Hingga kembali memutuskan lari kembali sampai di kilometer 310 untuk memangkas waktu.

Di sini, dia kembali istirahat beberapa menit untuk makan buah sambil bilas badan. Kurang 10 kilometer lagi, cuaca panas kembali menghantuinya. Beruntung, keputusannya bilas badan sangat tepat, sehingga dehidrasi tak sampai menyelimuti dirinya.

Di 7 kilometer jelang finis, Ari sudah kehabisan tenaga hingga membuatnya harus berjalan pelan-pelan. Selain menahan rasa lemas, seluruh badannya sudah mulai bergetar akibat asam lambung yang tak kunjung membaik.

Hingga pada pukul 9.30, Ari akhirnya tiba di finis meninggalkan puluhan sprinter lain. ’’Intinya seberat apa pun tantangannya, jangan menyerah sampai titik darah penghabisan,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/