alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

KONI Khawatir Terdiskualifikasi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Regulasi ketat tentang batasan mutasi domisili atlet Porprov juga menjadi kekhawatiran KONI Kabupaten Mojokerto saat ini. Bahkan, KONI meminta semua cabor secepatnya menyelesaikan proses mutasi atletnya agar tidak terdiskualifikasi sebelum bertanding. Sehingga saat diberangkatkan ke Lumajang, Juli nanti, atlet yang masuk dalam kontingen Kabupaten Mojokerto bisa fokus pada pertandingan untuk merebut medali.

Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto, Suher Didieanto mengatakan, sesuai regulasi KONI Jatim, batas mutasi atlet sejatinya sudah berlaku sejak tiga tahun lalu atau setelah Porprov 2019 berlangsung. Artinya, atlet yang turun di Porprov 2022 nanti, benar-benar berasal dari daerah yang dibelanya, bukan atlet naturalisasi yang didapat secara instan. Hanya saja, di perjalanan regulasi, sejumlah cabor juga memiliki aturan batasan mutasi masing-masing.

Baca Juga :  Tuntut Pembubaran Negara Jawa Timur

’’Sebenarnya kalau mengacu pada aturan KONI, setelah porprov 2019 sudah tidak ada lagi atlet yang mutasi, sehingga yang turun di Porprov 2022 nanti benar-benar murni dari pembinaan daerah asal. Namun ternyata banyak cabor yang justru menerapkan toleransi karena alasan tidak semua pembinaan merata di daerah-daerah,’’ terangnya.

Ia lantas mencontohkan cabor balap sepeda yang sampai saat ini masih membebaskan atlet keluar masuk daerah yang akan dibela. Bahkan, di Mojokerto sendiri, 4 dari 6 pembalap binannya berasal dari Sidoarjo. Namun oleh Pengkab ISSI Mojokerto tetap didapuk sebagai calon atlet yang akan diturunkan di Porprov 2022. Hanya saja, toleransi tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. KONI tetap meminta Pengkab ISSI agar mengurus proses mutasi domisili atlet menjadi warga Kabupaten Mojokerto jika ingin turun di Porprov Juli nanti. Cara ini untuk mengantisipasi jika ada perubahan regulasi di kemudian hari.

Baca Juga :  Sempat Gemetar saat Perform di Depan Teman Sekolah

’’Memang balap sepeda kan tidak semua daerah pembinaannya bagus. Bahkan, di Malang saja didominasi pembalap domisili Sidoarjo. Tapi kami sudah meminta setiap cabor agar mengurus administrasi atlet sesuai alamat Mojokerto. Agar dikemudian hari tidak ada kendala ataupun terdiskualifikasi sebelum turun,’’ pungkasnya. (far/ron)

 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Regulasi ketat tentang batasan mutasi domisili atlet Porprov juga menjadi kekhawatiran KONI Kabupaten Mojokerto saat ini. Bahkan, KONI meminta semua cabor secepatnya menyelesaikan proses mutasi atletnya agar tidak terdiskualifikasi sebelum bertanding. Sehingga saat diberangkatkan ke Lumajang, Juli nanti, atlet yang masuk dalam kontingen Kabupaten Mojokerto bisa fokus pada pertandingan untuk merebut medali.

Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto, Suher Didieanto mengatakan, sesuai regulasi KONI Jatim, batas mutasi atlet sejatinya sudah berlaku sejak tiga tahun lalu atau setelah Porprov 2019 berlangsung. Artinya, atlet yang turun di Porprov 2022 nanti, benar-benar berasal dari daerah yang dibelanya, bukan atlet naturalisasi yang didapat secara instan. Hanya saja, di perjalanan regulasi, sejumlah cabor juga memiliki aturan batasan mutasi masing-masing.

Baca Juga :  Tuntut Pembubaran Negara Jawa Timur

’’Sebenarnya kalau mengacu pada aturan KONI, setelah porprov 2019 sudah tidak ada lagi atlet yang mutasi, sehingga yang turun di Porprov 2022 nanti benar-benar murni dari pembinaan daerah asal. Namun ternyata banyak cabor yang justru menerapkan toleransi karena alasan tidak semua pembinaan merata di daerah-daerah,’’ terangnya.

Ia lantas mencontohkan cabor balap sepeda yang sampai saat ini masih membebaskan atlet keluar masuk daerah yang akan dibela. Bahkan, di Mojokerto sendiri, 4 dari 6 pembalap binannya berasal dari Sidoarjo. Namun oleh Pengkab ISSI Mojokerto tetap didapuk sebagai calon atlet yang akan diturunkan di Porprov 2022. Hanya saja, toleransi tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. KONI tetap meminta Pengkab ISSI agar mengurus proses mutasi domisili atlet menjadi warga Kabupaten Mojokerto jika ingin turun di Porprov Juli nanti. Cara ini untuk mengantisipasi jika ada perubahan regulasi di kemudian hari.

Baca Juga :  Berjuang Melawan Kanker Tulang, Relakan Satu Kaki Diamputasi

’’Memang balap sepeda kan tidak semua daerah pembinaannya bagus. Bahkan, di Malang saja didominasi pembalap domisili Sidoarjo. Tapi kami sudah meminta setiap cabor agar mengurus administrasi atlet sesuai alamat Mojokerto. Agar dikemudian hari tidak ada kendala ataupun terdiskualifikasi sebelum turun,’’ pungkasnya. (far/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/