alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Lebih Nyaman Pakai Aksesori

Tak ada perempuan yang sanggup menolak pesona dan kilau perhiasan. Ragam perhiasan seperti kalung, anting, cincin, dan juga gelang yang berbahan emas dan berlian memang terlihat indah. Namun, kini tren penggunaan emas tak semarak seperti dulu. Emas yang biasanya dipakai dan dipamerkan oleh perempuan, kini mulai ditinggalkan.

Seperti yang dilakukan Dian Ayu Permata Sandi. Perempuan akrab disapa Dian ini menuturkan sekitar tahun 2000-an, tren pemakaian emas di kalangan perempuan masih cukup populer. Terutama, ketika Hari Raya Idul Fitri atau kondangan.”Saya juga dulu sempat pakai, itu waktu masih SMA. Mulai kalung, anting, dan gelang kaki. Rasanya ada kebanggaan tersendiri ketika pakai emas,” ujarnya.

Namun, ketika masuk kuliah sekitar tahun 2004, Dian tak lagi rutin memakai perhiasan emas. Paling mentok, hanya menggunakan anting. Karena Dian menyadari, mengenakan emas secara berlebihan memicu timbulnya kejahatan. ”Selain itu, saya nyadari juga saya ceroboh orangnya. Pernah dua kali beli cincin karena setiap pakai selalu hilang akibat sembrono. Akhirnya saya nggak pernah pakai lagi sampai sekarang,” ucap guru salah satu TK swasta Kota Mojokerto ini.

Baca Juga :  Skuad AC Majapahit Dipertahankan

Warga asal Dusun Kedung Sumur, Desa Canggu, Kecamatan Jetis ini memaparkan, tren perhiasan tak lagi menarik seperti dulu. Di samping butuh kehati-hatian saat menggunakannya, emas juga belum tentu cocok di semua jenis kulit. ”Kalau saya pilih aksesori saja. Misal, jam tangan gitu, soalnya lebih praktis dan tidak menimbulkan alergi. Saya pernah beli cincin itu nggak betah pakai sehari, gatal-gatal. Tidak semua perhiasan cocok di kulit,’’ ungkapnya.

Berbeda lagi dengan Muhsinati Alawiyah. Semasa kuliah, perempuan akrab dipanggil Nana tersebut mengatakan sempat tergila-gila dengan cincin. Namun, karena dia memiliki ukuran jari yang mungil, harus memesan terlebih dahulu. ”Pernah juga suka modelnya dan dipaksakan beli. Tetap dipakai meski longgar akhirnya hilang. Akhirnya jadi malas mau pakai perhiasan,” tutur dia.

Baca Juga :  Maling Satroni Rumah Anggota TNI AU

Alasan lain yang dilontarkan Nana tak lagi memakai perhiasan, lantaran dirinya tidak telaten. Perempuan 32 tahun ini mengaku sempat mengenakan kalung, gelang dan anting. Namun, semuanya selalu rusak ketika dikenakan. Bahkan, kalung dan gelang yang dipakainya selalu putus. ”Biasanya nyangkut di handuk. Pakai anting juga pasti hilang sebelah, jadi terbiasa nggak pakai perhiasan. Sekarang yang wajib dipakai malah jam tangan saja, sudah cukup,” singkatnya. (oce/fen)

 

Tak ada perempuan yang sanggup menolak pesona dan kilau perhiasan. Ragam perhiasan seperti kalung, anting, cincin, dan juga gelang yang berbahan emas dan berlian memang terlihat indah. Namun, kini tren penggunaan emas tak semarak seperti dulu. Emas yang biasanya dipakai dan dipamerkan oleh perempuan, kini mulai ditinggalkan.

Seperti yang dilakukan Dian Ayu Permata Sandi. Perempuan akrab disapa Dian ini menuturkan sekitar tahun 2000-an, tren pemakaian emas di kalangan perempuan masih cukup populer. Terutama, ketika Hari Raya Idul Fitri atau kondangan.”Saya juga dulu sempat pakai, itu waktu masih SMA. Mulai kalung, anting, dan gelang kaki. Rasanya ada kebanggaan tersendiri ketika pakai emas,” ujarnya.

Namun, ketika masuk kuliah sekitar tahun 2004, Dian tak lagi rutin memakai perhiasan emas. Paling mentok, hanya menggunakan anting. Karena Dian menyadari, mengenakan emas secara berlebihan memicu timbulnya kejahatan. ”Selain itu, saya nyadari juga saya ceroboh orangnya. Pernah dua kali beli cincin karena setiap pakai selalu hilang akibat sembrono. Akhirnya saya nggak pernah pakai lagi sampai sekarang,” ucap guru salah satu TK swasta Kota Mojokerto ini.

Baca Juga :  Proses Coblosan Sangat Ketat

Warga asal Dusun Kedung Sumur, Desa Canggu, Kecamatan Jetis ini memaparkan, tren perhiasan tak lagi menarik seperti dulu. Di samping butuh kehati-hatian saat menggunakannya, emas juga belum tentu cocok di semua jenis kulit. ”Kalau saya pilih aksesori saja. Misal, jam tangan gitu, soalnya lebih praktis dan tidak menimbulkan alergi. Saya pernah beli cincin itu nggak betah pakai sehari, gatal-gatal. Tidak semua perhiasan cocok di kulit,’’ ungkapnya.

Berbeda lagi dengan Muhsinati Alawiyah. Semasa kuliah, perempuan akrab dipanggil Nana tersebut mengatakan sempat tergila-gila dengan cincin. Namun, karena dia memiliki ukuran jari yang mungil, harus memesan terlebih dahulu. ”Pernah juga suka modelnya dan dipaksakan beli. Tetap dipakai meski longgar akhirnya hilang. Akhirnya jadi malas mau pakai perhiasan,” tutur dia.

Baca Juga :  Empat Poros Siap Bertarung di Pilkada Kota Mojokerto

Alasan lain yang dilontarkan Nana tak lagi memakai perhiasan, lantaran dirinya tidak telaten. Perempuan 32 tahun ini mengaku sempat mengenakan kalung, gelang dan anting. Namun, semuanya selalu rusak ketika dikenakan. Bahkan, kalung dan gelang yang dipakainya selalu putus. ”Biasanya nyangkut di handuk. Pakai anting juga pasti hilang sebelah, jadi terbiasa nggak pakai perhiasan. Sekarang yang wajib dipakai malah jam tangan saja, sudah cukup,” singkatnya. (oce/fen)

- Advertisement -

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/