alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Tanpa Efek Samping, Manfaatkan Air Sirih, Belerang, dan Tembakau

Sejumlah anak muda yang tergabung dalam komunitas Trawas Remen Berdikari (TRB) mamanfaatkan bahan alami untuk membuat cairan disinfektan. Cairan itu diyakini memiliki manfaat yang sama dengan cairan disinfektan pada umumnya. Bahkan, hasil kreativitas mereka ini tidak ada efek samping.

SETIDAKNYA ada tiga bahan utama. Di antaranya, air sirih, air belerang, dan air tembakau yang kelola di Desa/Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto untuk menghasilkan cairan disinfektan organik.

Ketua Komunitas TRB Wahyu Satriyo Auliya menceritakan, ketiga bahan utama itu dicampur menjadi satu kesatuan dengan takaran yang sudah ditentukan.  Dipilihnya beberapa bahan ini lantaran memiliki kegunaan masing-masing. Ai siri, misalnya. Keguanaannya, kata dia, bisa membunuh kuman.

Kemudian, tembakau mempunyai manfaat untuk mengikis lapisan lemak. Sebab, virus itu mengandung lapisan lemak atau asam amino yang membuat virus itu bisa kebal. ”Nah gunanya tembakau ini untuk membunuh itu,” katanya.

Baca Juga :  Surga Kecil di Selat Bali

Sementara air belerang, lanjut pria berusia 26 tahun itu, sudah jelas bisa membunuh kuman atau penyakit. Seperti di pemandian Wanawisata Air Panas Padusan Pacet yang biasa dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

Namun, sebagian kecil untuk mengobati penyakit gatal-katal dan beberapa penyakit kulit lainnya. ”Untuk menjadikan tiga unsur itu agar menjadi satu, kami menambahkan nutrisi. Namanya, Eco Enzim yang bahannya dari beberapa jenis empon-empon,” jelasnya.

Menurut Wahyu, penggunaan disinfektan organik buatannya sama dengan disinfektan yang dikeluarkan oleh medis dan disarankan pemerintah. Manfaatnya pun sama. Untuk membunuh virus atau untuk mensterilkan tempat yang berpotensi terjadinya penyebaran virus.

Bahkan, dipastikan tidak memiliki efek samping terhadap lingkungan. Tak tanggung-tanggung, selama masa pandemi Covid-19 ini pihaknya pun sudah membuat ribuan liter cairan disinfektan. ”Jumlahnya yang kami rekap 19 ribu disinfektan siap semprot,” bebernya.

Baca Juga :  Fraksi Gemuk Berpotensi Koalisi di Ajang Kontestasi Pilkada Mojokerto

Meski demikian, ribuan liter cairan disinfektan yang  yang telah dibuat itu bukan untuk diperjual belikan. Melainkan untuk ikut andil dalam memerangi Covid-19 ini. Bahkan, ribuan liter ciran pembunuh virus itu sudah menyebar dan disemprotkan ke berbagai desa di wilayah Mojokerto.

Mulai dari Kecamatan Trawas, Gondang, Dlanggu, dan Pungging. ”Pionernya ini ada di Trawas. Jadi awal mulanya penyemprotan di Desa Trawas,” tandasnya.  (shalihin)

 

 

 

Sejumlah anak muda yang tergabung dalam komunitas Trawas Remen Berdikari (TRB) mamanfaatkan bahan alami untuk membuat cairan disinfektan. Cairan itu diyakini memiliki manfaat yang sama dengan cairan disinfektan pada umumnya. Bahkan, hasil kreativitas mereka ini tidak ada efek samping.

SETIDAKNYA ada tiga bahan utama. Di antaranya, air sirih, air belerang, dan air tembakau yang kelola di Desa/Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto untuk menghasilkan cairan disinfektan organik.

Ketua Komunitas TRB Wahyu Satriyo Auliya menceritakan, ketiga bahan utama itu dicampur menjadi satu kesatuan dengan takaran yang sudah ditentukan.  Dipilihnya beberapa bahan ini lantaran memiliki kegunaan masing-masing. Ai siri, misalnya. Keguanaannya, kata dia, bisa membunuh kuman.

Kemudian, tembakau mempunyai manfaat untuk mengikis lapisan lemak. Sebab, virus itu mengandung lapisan lemak atau asam amino yang membuat virus itu bisa kebal. ”Nah gunanya tembakau ini untuk membunuh itu,” katanya.

Baca Juga :  Pilox Kamera, Pelaku Perusak ATM Bank Mandiri Terekam CCTV

Sementara air belerang, lanjut pria berusia 26 tahun itu, sudah jelas bisa membunuh kuman atau penyakit. Seperti di pemandian Wanawisata Air Panas Padusan Pacet yang biasa dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

Namun, sebagian kecil untuk mengobati penyakit gatal-katal dan beberapa penyakit kulit lainnya. ”Untuk menjadikan tiga unsur itu agar menjadi satu, kami menambahkan nutrisi. Namanya, Eco Enzim yang bahannya dari beberapa jenis empon-empon,” jelasnya.

- Advertisement -

Menurut Wahyu, penggunaan disinfektan organik buatannya sama dengan disinfektan yang dikeluarkan oleh medis dan disarankan pemerintah. Manfaatnya pun sama. Untuk membunuh virus atau untuk mensterilkan tempat yang berpotensi terjadinya penyebaran virus.

Bahkan, dipastikan tidak memiliki efek samping terhadap lingkungan. Tak tanggung-tanggung, selama masa pandemi Covid-19 ini pihaknya pun sudah membuat ribuan liter cairan disinfektan. ”Jumlahnya yang kami rekap 19 ribu disinfektan siap semprot,” bebernya.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Selama Ramadan, Kegiatan di Rumah Ibadah Diperbolehkan

Meski demikian, ribuan liter cairan disinfektan yang  yang telah dibuat itu bukan untuk diperjual belikan. Melainkan untuk ikut andil dalam memerangi Covid-19 ini. Bahkan, ribuan liter ciran pembunuh virus itu sudah menyebar dan disemprotkan ke berbagai desa di wilayah Mojokerto.

Mulai dari Kecamatan Trawas, Gondang, Dlanggu, dan Pungging. ”Pionernya ini ada di Trawas. Jadi awal mulanya penyemprotan di Desa Trawas,” tandasnya.  (shalihin)

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/