alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Omzet Anjlok 90 Persen, Bangkit lewat Marketplace

Pandemi Covid-19 yang hampir setahun benar-benar menjadi mimpi buruk bagi para perajin. Tak terkecuali perajin miniatur kapal. Sepinya kunjungan wisatawan membuat permintaan kerajinan tangan khas Mojokerto ini merosot tajam.

 

FARISMA ROMAWAN, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

Seperti yang dialami Sunali, perajin miniatur kapal asal Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Pria 42 tahun ini mengaku usahanya sangat terpuruk selama tujuh bulan belakangan atau sejak pandemi Covid-19 kali pertama melanda Indonesia, Maret silam.

Saat itu, Sunali mengaku tak bisa berbuat banyak setelah pemerintah melakukan pembatasan aktivitas demi bisa menghindari meluasnya angka penularan virus jenis SARS-CoV-2 itu. ’’Kalau dikira-kira, ya sudah tujuh bulan nggak produksi. Karena memang pasar dan permintaan sepi,’’ tandasnya.

Kemerosotan pesanan dan penjualan miniatur, diakui suami Anik Zulaikah, ini tak lepas dari ditutupnya hampir objek wisata selama masa pembatasan. Khususnya di daerah-daerah yang menjadi primadona atau jujukan favorit para pelancong baik domestik maupun dari luar negeri. Hal ini yang berdampak besar terhadap angka kunjungan yang juga anjlok tajam. Sehingga memengaruhi permintaan kerajinan tangan sebagai buah tangan. ’’Karena wisata sepi, maka penjualan kerajinan juga ikut sepi. Siapa yang beli kalau tidak ada pengunjung,’’ terangnya.

Baca Juga :  Gantikan Tatok Setjadi, Santoso Bekti Jadi Ketua KONI

Padahal, jauh sebelum pandemi, pria yang sudah bergelut di dunia miniatur sejak tahun 1998 ini bisa memproduksi dan memasarkan lebih dari 200 sampai 250 unit miniatur selama sebulan. Dengan total omzet hingga mencapai Rp 10 juta sampai Rp 12 juta.

Namun, sejak virus asal Wuhan itu menyerang Indonesia, praktis omzet usaha kerajinannya terjun bebas hingga 90 persen lebih. Atau hanya mampu menjual barang kurang dari 20 unit miniatur per bulan. ’’Wah, selama tujuh bulan dulu omzet kami malah nggak ada Rp 1 juta. Otomatis produksi ikut berhenti karena memang nggak ada permintaan barang sama sekali,’’ tambahnya.

Sunali pun terpaksa tidak menggaji enam pekerjanya karena memang tidak ada produksi sama sekali. Bahkan, ia juga sempat beralih pekerjaan sebagai pekerja proyek demi dapur agar tetap mengepul. Namun, situasi krisis kini lambat laun mulai bangkit. Pesanan miniatur kapal mulai datang meski tidak dalam jumlah besar seperti kondisi normal. ’’Sejak Desember kemarin sudah mulai ada pesanan 10 sampai 30 unit dari beberapa galeri setiap kali order. Dari situ kami mencoba untuk memproduksi lagi miniatur kapal,’’ tambah Sunali.

Nah, agar pesanannya  meningkat, ia juga mencoba memasarkan karyanya lewat marketplace.  Meski baru memulai, setidaknya satu atau dua order sudah mampu ia raup setiap minggunya. Termasuk juga mengandalkan order dari galeri seni yang biasa mendapat pesanan dari wisatawan asing. ’’Ya meskipun tidak banyak, paling tidak 1 atau dua pesanan masih nyantol di marketplace. Tapi order tetap masih mengandalkan pesanan dari galeri dan toko oleh-oleh,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Membaca Buku Ibarat Bernafas

Produksi miniatur kapal berbagai model. Mulai kapal pinisi, kapal Mojopahit, kapal Dewa Ruci, hingga kapal perang. Untuk proses pembuatan, hampir seratus persen hasil pekerjaan tangan dengan mengandalkan peralatan dan bahan sederhana. Untuk badan hingga tiang kapal, ia menggunakan limbah kayu mahoni dari pabrik yang digergaji dan dipoles menyerupai bentuk kapal sebenarnya. Sementara untuk layar ia biasa memakai bahan baku sepatu. Sunali mengaku mampu membuat kapal dengan berbagai macam ukuran. Mulai terkecil 18 sentimeter sampai yang berukuran lebih dari 1 meter.

Sedangkan, untuk pasar, produk buatannya bisa menembus hingga kawasan Eropa. Seperti Jerman, Belanda, hingga Prancis. Skala nasional, produknya biasa dipasok pemilik galeri asal Makasar, Bali, Jogja, hingga Tangerang. ’’Kami berharapnya sih wisata sudah bisa dibuka agar wisatawan bisa berkunjung sehingga pesanan bisa lebih banyak lagi,’’ pungkasnya. (abi)

Pandemi Covid-19 yang hampir setahun benar-benar menjadi mimpi buruk bagi para perajin. Tak terkecuali perajin miniatur kapal. Sepinya kunjungan wisatawan membuat permintaan kerajinan tangan khas Mojokerto ini merosot tajam.

 

FARISMA ROMAWAN, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

Seperti yang dialami Sunali, perajin miniatur kapal asal Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Pria 42 tahun ini mengaku usahanya sangat terpuruk selama tujuh bulan belakangan atau sejak pandemi Covid-19 kali pertama melanda Indonesia, Maret silam.

Saat itu, Sunali mengaku tak bisa berbuat banyak setelah pemerintah melakukan pembatasan aktivitas demi bisa menghindari meluasnya angka penularan virus jenis SARS-CoV-2 itu. ’’Kalau dikira-kira, ya sudah tujuh bulan nggak produksi. Karena memang pasar dan permintaan sepi,’’ tandasnya.

- Advertisement -

Kemerosotan pesanan dan penjualan miniatur, diakui suami Anik Zulaikah, ini tak lepas dari ditutupnya hampir objek wisata selama masa pembatasan. Khususnya di daerah-daerah yang menjadi primadona atau jujukan favorit para pelancong baik domestik maupun dari luar negeri. Hal ini yang berdampak besar terhadap angka kunjungan yang juga anjlok tajam. Sehingga memengaruhi permintaan kerajinan tangan sebagai buah tangan. ’’Karena wisata sepi, maka penjualan kerajinan juga ikut sepi. Siapa yang beli kalau tidak ada pengunjung,’’ terangnya.

Baca Juga :  Bupati Terakhir di Masa Orde Lama, Galakkan Operasi Gerakan Makmur

Padahal, jauh sebelum pandemi, pria yang sudah bergelut di dunia miniatur sejak tahun 1998 ini bisa memproduksi dan memasarkan lebih dari 200 sampai 250 unit miniatur selama sebulan. Dengan total omzet hingga mencapai Rp 10 juta sampai Rp 12 juta.

Namun, sejak virus asal Wuhan itu menyerang Indonesia, praktis omzet usaha kerajinannya terjun bebas hingga 90 persen lebih. Atau hanya mampu menjual barang kurang dari 20 unit miniatur per bulan. ’’Wah, selama tujuh bulan dulu omzet kami malah nggak ada Rp 1 juta. Otomatis produksi ikut berhenti karena memang nggak ada permintaan barang sama sekali,’’ tambahnya.

Sunali pun terpaksa tidak menggaji enam pekerjanya karena memang tidak ada produksi sama sekali. Bahkan, ia juga sempat beralih pekerjaan sebagai pekerja proyek demi dapur agar tetap mengepul. Namun, situasi krisis kini lambat laun mulai bangkit. Pesanan miniatur kapal mulai datang meski tidak dalam jumlah besar seperti kondisi normal. ’’Sejak Desember kemarin sudah mulai ada pesanan 10 sampai 30 unit dari beberapa galeri setiap kali order. Dari situ kami mencoba untuk memproduksi lagi miniatur kapal,’’ tambah Sunali.

Nah, agar pesanannya  meningkat, ia juga mencoba memasarkan karyanya lewat marketplace.  Meski baru memulai, setidaknya satu atau dua order sudah mampu ia raup setiap minggunya. Termasuk juga mengandalkan order dari galeri seni yang biasa mendapat pesanan dari wisatawan asing. ’’Ya meskipun tidak banyak, paling tidak 1 atau dua pesanan masih nyantol di marketplace. Tapi order tetap masih mengandalkan pesanan dari galeri dan toko oleh-oleh,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Gantikan Tatok Setjadi, Santoso Bekti Jadi Ketua KONI

Produksi miniatur kapal berbagai model. Mulai kapal pinisi, kapal Mojopahit, kapal Dewa Ruci, hingga kapal perang. Untuk proses pembuatan, hampir seratus persen hasil pekerjaan tangan dengan mengandalkan peralatan dan bahan sederhana. Untuk badan hingga tiang kapal, ia menggunakan limbah kayu mahoni dari pabrik yang digergaji dan dipoles menyerupai bentuk kapal sebenarnya. Sementara untuk layar ia biasa memakai bahan baku sepatu. Sunali mengaku mampu membuat kapal dengan berbagai macam ukuran. Mulai terkecil 18 sentimeter sampai yang berukuran lebih dari 1 meter.

Sedangkan, untuk pasar, produk buatannya bisa menembus hingga kawasan Eropa. Seperti Jerman, Belanda, hingga Prancis. Skala nasional, produknya biasa dipasok pemilik galeri asal Makasar, Bali, Jogja, hingga Tangerang. ’’Kami berharapnya sih wisata sudah bisa dibuka agar wisatawan bisa berkunjung sehingga pesanan bisa lebih banyak lagi,’’ pungkasnya. (abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/