alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Mayor Djarot, Komandan Pertama Yonif Pararaider 503/Mayangkara

HARI ini Batalyon Infantri (Yonif) Para Raider 503/Mayangkara genap menapaki usia 76 tahun. Kesatuan pasukan tempur yang memiliki semboyan ’’Bersama Tuhan Kami Menyerang dari Langit’’ ini resmi terbentuk 9 Desember 1945 silam. Terbentuknya pasukan lintas udara (linud) ini tidak lepas dari peran sepak terjang Djarot Soebiantoro yang didapuk menjadi komandan yonif (danyon) pertama pasukan berlambang kuda putih.

Sejarahan Ayuhanafiq mengungkapkan, Raden Djarot Subiantoro adalah putra asli Mojokerto. Namun, tokoh kelahiran 11 Desember 1919 ini menyandang gelar Raden karena memiliki hubungan darah dengan Sri Sultan Hamengkubuwono III dari Kesultanan Yogyakarta.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, trah priyayi mengantarkan Djarot mampu mengenyam pendidikan hingga lulus dari Algemeene Midlebare School (AMS) atau setara jenjang SMA di Surabaya. ’’Setelah lulus sekolah, kemudian tentara Jepang datang,’’ terangnya.

Di masa pendudukan Jepang itu, tentara Nippon melakukan perekrutan kepada penduduk setempat untuk masuk dalam militer. Jepang membuka pelatihan pasukan khusus untuk dipersiapkan sebagai calon pasukan Jibakutai. ’’Kesatuan baru itu dikenal sebagai pasukan berani mati karena menerapkan strategi bunuh diri dalam perang,’’ ulas Yuhan.

Dia mengatakan, nama Djarot masuk salah satu pendaftar dalam pelatihan pasukan perang tersebut. Karena sebelumnya Djarot telah tergabung dalam Seinendan atau organisasi barisan pemuda bentukan Jepang.

Baca Juga :  Nasib PS Mojokerto Ada di Tangan Pengurus

Yuhan mengatakan, tak butuh waktu lama bagi Djarot muda untuk menyerap ilmu kemiliteran. Bahkan, putra Kartowardojo ini langsung dipercaya untuk mengisi posisi setingkat komandan kompi atau Shudanco dalam Jibakutai. ’’Saat pertempuran Surabaya tahun 1945, para anggota Jibakutai kemudian menjelma menjadi barisan berani mati (BBM),’’ ujar Penulis buku Garis Depan Pertempuran, Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.

Berbekal pengalaman militer di masa pendudukan Jepang, Djarot kemudian ikut bergabung bersama pejuang lainnya bertempur mengusir tentara sekutu. Namun, saat Kota Pahlawan gagal dipertahankan, Djarot sempat mundur dan membuat garis pertahanan di Mojokerto. ’’Selama di Mojokerto, Djarot bermarkas di wilayah Kecamatan Jetis,’’ tuturnya.

Pejuang berpangkat Mayor itu kemudian menempati bekas bangunan Pabrik Gula (PG) Perning. Bersama pasukannya, Djarot memegang kendali penuh pertahanan di sektor Surabaya barat. Akibatnya, tentara Sekutu kesulitan menembus Mojokerto melalui jalur Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Kekuatan pasukan pimpinan Djarot semakin lengkap dengan bergabungnya Kompi Haiho. Dan, pasukan tersebut ditetapkan sebagai kesatuan setingkat batalyon pada  tanggal 9 Desember 1945 dengan nama Batalyon Djarot.

Dengan persenjataan yang lebih memadai, garis pertahanan makin susah untuk ditembus musuh di awal tahun 1946. Namun, pada 1947, pasukan Djarot terpaksa mundur hingga perbatasan Mojokerto-Lamongan setelah bertempur dengan marinir Belanda di sektor Kemlagi.

Baca Juga :  Off-Road-Ngetrail, Puas Itu Tak Harus Mahal

Yuhan melanjutkan, Batalyon Djarot kemudian sempat bergabung dalam Komando Wingate Brawidjaja untuk merebut kembali Kota Surabaya. Pada Juni 1949, pasukan Djarot berhasil menembus pertahanan musuh. ’’Namun, saat melakukan penyusupan itu Mayor Djarot tertangkap dan kemudian ditahan di Surabaya,’’ imbuhnya.

Namun, setelah adanya gencatan senjata jelang pengakuan kedaulatan kemerdekaan RI pada pengujung 1949, Djarot dibebaskan. Tokoh asal Mojokerto itu lalu ditunjuk sebagai Komandan Distrik Militer (KDM) Kota Surabaya di awal 1950.

Mayor Djarot lalu ditarik ke markas besar TNI AD di Jakarta. Sementara itu, mantan pasukan yang sebelumnya dipimpin ditempatkan di Kota Mojokerto. Batayon Djarot menempati eks kantor Asisten Residen atau kini Makorem 082/CPYJ. Lalu markas batalyon tersebut diboyong ke Desa Mojosulur, Kecamatan Mojosari, sekitar tahun 1967.

Untuk mengabadikan perjuangan Mayor Djarot, pasukan tempur tersebut kemudian bertransformasi menjadi Yonif Para Raider 503/Mayangkara. ’’Mayangkara diambil dari nama kuda putih tunggangan Mayor Djarot yang sekaligus jadi lambang pasukan Yonif 503/Mayangkara,’’ pungkasnya. (ram/abi)

 

HARI ini Batalyon Infantri (Yonif) Para Raider 503/Mayangkara genap menapaki usia 76 tahun. Kesatuan pasukan tempur yang memiliki semboyan ’’Bersama Tuhan Kami Menyerang dari Langit’’ ini resmi terbentuk 9 Desember 1945 silam. Terbentuknya pasukan lintas udara (linud) ini tidak lepas dari peran sepak terjang Djarot Soebiantoro yang didapuk menjadi komandan yonif (danyon) pertama pasukan berlambang kuda putih.

Sejarahan Ayuhanafiq mengungkapkan, Raden Djarot Subiantoro adalah putra asli Mojokerto. Namun, tokoh kelahiran 11 Desember 1919 ini menyandang gelar Raden karena memiliki hubungan darah dengan Sri Sultan Hamengkubuwono III dari Kesultanan Yogyakarta.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, trah priyayi mengantarkan Djarot mampu mengenyam pendidikan hingga lulus dari Algemeene Midlebare School (AMS) atau setara jenjang SMA di Surabaya. ’’Setelah lulus sekolah, kemudian tentara Jepang datang,’’ terangnya.

Di masa pendudukan Jepang itu, tentara Nippon melakukan perekrutan kepada penduduk setempat untuk masuk dalam militer. Jepang membuka pelatihan pasukan khusus untuk dipersiapkan sebagai calon pasukan Jibakutai. ’’Kesatuan baru itu dikenal sebagai pasukan berani mati karena menerapkan strategi bunuh diri dalam perang,’’ ulas Yuhan.

Dia mengatakan, nama Djarot masuk salah satu pendaftar dalam pelatihan pasukan perang tersebut. Karena sebelumnya Djarot telah tergabung dalam Seinendan atau organisasi barisan pemuda bentukan Jepang.

Baca Juga :  Santap yang Bergizi dan Menyehatkan

Yuhan mengatakan, tak butuh waktu lama bagi Djarot muda untuk menyerap ilmu kemiliteran. Bahkan, putra Kartowardojo ini langsung dipercaya untuk mengisi posisi setingkat komandan kompi atau Shudanco dalam Jibakutai. ’’Saat pertempuran Surabaya tahun 1945, para anggota Jibakutai kemudian menjelma menjadi barisan berani mati (BBM),’’ ujar Penulis buku Garis Depan Pertempuran, Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.

- Advertisement -

Berbekal pengalaman militer di masa pendudukan Jepang, Djarot kemudian ikut bergabung bersama pejuang lainnya bertempur mengusir tentara sekutu. Namun, saat Kota Pahlawan gagal dipertahankan, Djarot sempat mundur dan membuat garis pertahanan di Mojokerto. ’’Selama di Mojokerto, Djarot bermarkas di wilayah Kecamatan Jetis,’’ tuturnya.

Pejuang berpangkat Mayor itu kemudian menempati bekas bangunan Pabrik Gula (PG) Perning. Bersama pasukannya, Djarot memegang kendali penuh pertahanan di sektor Surabaya barat. Akibatnya, tentara Sekutu kesulitan menembus Mojokerto melalui jalur Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Kekuatan pasukan pimpinan Djarot semakin lengkap dengan bergabungnya Kompi Haiho. Dan, pasukan tersebut ditetapkan sebagai kesatuan setingkat batalyon pada  tanggal 9 Desember 1945 dengan nama Batalyon Djarot.

Dengan persenjataan yang lebih memadai, garis pertahanan makin susah untuk ditembus musuh di awal tahun 1946. Namun, pada 1947, pasukan Djarot terpaksa mundur hingga perbatasan Mojokerto-Lamongan setelah bertempur dengan marinir Belanda di sektor Kemlagi.

Baca Juga :  Mimpi Buruk Itu Berlanjut

Yuhan melanjutkan, Batalyon Djarot kemudian sempat bergabung dalam Komando Wingate Brawidjaja untuk merebut kembali Kota Surabaya. Pada Juni 1949, pasukan Djarot berhasil menembus pertahanan musuh. ’’Namun, saat melakukan penyusupan itu Mayor Djarot tertangkap dan kemudian ditahan di Surabaya,’’ imbuhnya.

Namun, setelah adanya gencatan senjata jelang pengakuan kedaulatan kemerdekaan RI pada pengujung 1949, Djarot dibebaskan. Tokoh asal Mojokerto itu lalu ditunjuk sebagai Komandan Distrik Militer (KDM) Kota Surabaya di awal 1950.

Mayor Djarot lalu ditarik ke markas besar TNI AD di Jakarta. Sementara itu, mantan pasukan yang sebelumnya dipimpin ditempatkan di Kota Mojokerto. Batayon Djarot menempati eks kantor Asisten Residen atau kini Makorem 082/CPYJ. Lalu markas batalyon tersebut diboyong ke Desa Mojosulur, Kecamatan Mojosari, sekitar tahun 1967.

Untuk mengabadikan perjuangan Mayor Djarot, pasukan tempur tersebut kemudian bertransformasi menjadi Yonif Para Raider 503/Mayangkara. ’’Mayangkara diambil dari nama kuda putih tunggangan Mayor Djarot yang sekaligus jadi lambang pasukan Yonif 503/Mayangkara,’’ pungkasnya. (ram/abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/