alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Ukuran Lebih Besar, Daging Buahnya Juga Lebih Tebal

Salak Kebontunggul tak sepopuler salak pondoh Jogjakarta. Tapi, soal rasa, salak hasil persialangan ini tak minder saat bersaing. Selain ukuran lebih besar, ketebalan daging buahnya juga lebih tebal.

KHUDORI ALIANDU, Gondang, Jawa Pos Radar Mojokerto

SALAK asli Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto ini banyak diburu masyarakat. Rasanya yang manis, petik salak yang menjadi objek wisata baru ini juga kerap diserbu wisatawan lokal atau pun luar daerah.

Menurut Ikhsan, 55, varietas salak miliknya ini dikembangkannya sendiri dari hasil persilangan antara salak pondoh Jawa Tengah dengan salak lokal Mojokerto. ’’Awalnya kita beli bibit salak pondoh Jogjakarta 300 batang. Lalu, kita kawinkan hingga beranak bibit baru. Bibit yang sudah dewasa kita ambil batang tunasnya lalu kita setek dengan bibit asli pondoh,’’ katanya.

Eksperimen yang dilakukan tak mudah. Beberapa kali persilangan itu gagal. Hasil setek tak sukses berkembang. Atau, ada yang berhasil tumbuh, namun cita rasa salaknya tak berhasil memanjakan lidah. Ada yang asam, ada juga yang sepat. ’’Tapi terus kami kreasikan sesuai dengan kontur tanah Mojokerto. Akhirnya membuahkan hasil juga,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Majapahit Culture Festival, Magnet Pariwisata Budaya

Hasil eksperimen ini memiliki rasa tak kalah manis dan renyah dengan salak pondoh atau varietas asalnya. Kini, dia mengembangkan ribuan bibit baru hasil risetnya di tanah seluas 3 hektar. Salak miliknya kini mampu dipanen sebanyak 100 kilogram per hari. ’’Kalau panen raya, Desember dan Januari, hasilnya malah bisa berlipat ganda dari hari biasanya,’’ tuturnya.

Selama ini, Ikhsan tak pernah kesulitan menjual hasil panennya. Banyak pengunjung yang datang sendiri. ’’’Saya tidak pernah melayani tengkulak partai besar. Karena melayani pengunjung saja kadang masih kurang-kurang. Mereka ini adalah warga sekitar atau warga luar Mojokerto. Kebanyakan mereka penasaran membeli salak langsung dari kebunnya dengan memetik sendiri,’’ paparnya.

Pengunjung yang mampir di kebun salaknya juga tamasya sembari menggelar tikar di kebun. Ibaratnya wisata petik salak. Warga bisa masuk ke kebun dan memilih sendiri buah dari pohonnya. ’’Namun tetap kita dampingi, lantaran untuk memetik salak tak semudah seperti buah lainnya. Banyak durinya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Obat Rindu Keluarga, Ketagihan Latihan Setiap Hari

Pengelola Lahan Salak Kebontunggul Samiaji, 50, menambahkan, selain  salak, pengunjung juga dapat membeli buah durian dan petai asli dari kebun. Tanaman ini juga berada di kebun belakang rumahnya. ’’Ternyata upaya coba-coba ini juga sukses. Dua tanaman itu juga tumbuh subur bersanding dengan salak di lahan kita,’’ ungkapnya.

Sebelum ditanami salak, lahan tiga hektar itu pernah ditanami cengkeh, mangga dan pisang. Namun, hasilnya tak menguntungkan. Akhir 2005 lalu, dialihkan menanam salak. Usia pohon salak juga lebih lama ketimbang buah lainnya. Hasil panennya pun lebih banyak dibanding buah pisang dan mangga. ’’Jadi, lebih menguntungkan dari segi bisnis,’’ tandasnya. (ron)

 

Salak Kebontunggul tak sepopuler salak pondoh Jogjakarta. Tapi, soal rasa, salak hasil persialangan ini tak minder saat bersaing. Selain ukuran lebih besar, ketebalan daging buahnya juga lebih tebal.

KHUDORI ALIANDU, Gondang, Jawa Pos Radar Mojokerto

SALAK asli Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto ini banyak diburu masyarakat. Rasanya yang manis, petik salak yang menjadi objek wisata baru ini juga kerap diserbu wisatawan lokal atau pun luar daerah.

Menurut Ikhsan, 55, varietas salak miliknya ini dikembangkannya sendiri dari hasil persilangan antara salak pondoh Jawa Tengah dengan salak lokal Mojokerto. ’’Awalnya kita beli bibit salak pondoh Jogjakarta 300 batang. Lalu, kita kawinkan hingga beranak bibit baru. Bibit yang sudah dewasa kita ambil batang tunasnya lalu kita setek dengan bibit asli pondoh,’’ katanya.

Eksperimen yang dilakukan tak mudah. Beberapa kali persilangan itu gagal. Hasil setek tak sukses berkembang. Atau, ada yang berhasil tumbuh, namun cita rasa salaknya tak berhasil memanjakan lidah. Ada yang asam, ada juga yang sepat. ’’Tapi terus kami kreasikan sesuai dengan kontur tanah Mojokerto. Akhirnya membuahkan hasil juga,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Putus Sekolah karena Kasihan Ortu Harus Menanggung Biaya

Hasil eksperimen ini memiliki rasa tak kalah manis dan renyah dengan salak pondoh atau varietas asalnya. Kini, dia mengembangkan ribuan bibit baru hasil risetnya di tanah seluas 3 hektar. Salak miliknya kini mampu dipanen sebanyak 100 kilogram per hari. ’’Kalau panen raya, Desember dan Januari, hasilnya malah bisa berlipat ganda dari hari biasanya,’’ tuturnya.

- Advertisement -

Selama ini, Ikhsan tak pernah kesulitan menjual hasil panennya. Banyak pengunjung yang datang sendiri. ’’’Saya tidak pernah melayani tengkulak partai besar. Karena melayani pengunjung saja kadang masih kurang-kurang. Mereka ini adalah warga sekitar atau warga luar Mojokerto. Kebanyakan mereka penasaran membeli salak langsung dari kebunnya dengan memetik sendiri,’’ paparnya.

Pengunjung yang mampir di kebun salaknya juga tamasya sembari menggelar tikar di kebun. Ibaratnya wisata petik salak. Warga bisa masuk ke kebun dan memilih sendiri buah dari pohonnya. ’’Namun tetap kita dampingi, lantaran untuk memetik salak tak semudah seperti buah lainnya. Banyak durinya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Taman Ghanjaran Trawas Dibuka Lagi, Sajikan Ragam Wahana Baru

Pengelola Lahan Salak Kebontunggul Samiaji, 50, menambahkan, selain  salak, pengunjung juga dapat membeli buah durian dan petai asli dari kebun. Tanaman ini juga berada di kebun belakang rumahnya. ’’Ternyata upaya coba-coba ini juga sukses. Dua tanaman itu juga tumbuh subur bersanding dengan salak di lahan kita,’’ ungkapnya.

Sebelum ditanami salak, lahan tiga hektar itu pernah ditanami cengkeh, mangga dan pisang. Namun, hasilnya tak menguntungkan. Akhir 2005 lalu, dialihkan menanam salak. Usia pohon salak juga lebih lama ketimbang buah lainnya. Hasil panennya pun lebih banyak dibanding buah pisang dan mangga. ’’Jadi, lebih menguntungkan dari segi bisnis,’’ tandasnya. (ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/