alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Didirikan sebagai Tempat Bermukim Ahli Agama

Di Mojokerto terdapat perkampungan yang dinamakan Kauman. Lokasi pemukiman itu tersebar di empat titik arah mata angin. Keberadaannya mewakili pembagian empat wilayah kawedanan di masa Pemerintahan Kabupaten Mojokerto dulu.

Penyematan nama Kauman sebagai penanda bahwa kampung tersebut merupakan tempat tinggal yang dikhususkan bagi orang-orang yang ahli di bidang keagamaan.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, keberadaan kampung Kauman telah lama ada. Tepatnya sejak masuknya kerajaan Islam di era Kesultanan Demak pada periode akhir abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16.

Sejak saat itu, kampung Kauman selalu melekat dalam strutkur tata kelola kota di Pulau Jawa. Menurutnya, asal usul nama tersebut diserap dari bahasa Arab, yaitu qaum atau kaum yang berarti kelompok.

Kelompok yang dimaksud adalah orang-orang yang menguasai ilmu agama Islam atau qaumuddin. ”Sehingga, Kauman dapat diartikan sebagai kawasan tempat tinggal para qaumuddin atau lebih dikenal dengan sebutan mudin,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, pada masa lalu mudin menjadi orang dekat pemimpin daerah. Sebab, mudin memiliki peran dalam memberi pertimbangan sebelum pemimpin mengambil kebijakan.

Baca Juga :  Diberi Tugas untuk Menjaga Kemakmuran Masjid

Khususnya, dalam memutuskan hal yang menyangkut masalah sosial keagamaan. ”Jadi, bisa dikatakan mudin adalah penasihat penguasa,” ujarnya. Oleh karena itu, seorang mudin diberikan fasilitas untuk tinggal tidak jauh dari kantor atau kediaman pemimpin daerah.

Sehingga, sebut Yuhan, dipilihlah sebuah kawasan pemukiman yang disebut sebagai kampung Kauman. Pada umumnya, kampung Kauman di dalam struktur tata kota Jawa berada di pusat kota. Pola tersebut tidak hanya diterapkan di tingkat kadipaten atau kabupaten/kota, tetapi juga diaplikasikan hingga di tingkat kawedanan.

Sebagaimana pembentukan kampung Kauman yang diterapkan di Kabupaten Mojokerto. Pada masa lalu, jumlah kawedanan di wilayah Mojokerto terbagi menjadi empat wilayah. Antara lain, di wilayah utara Sungai Brantas terdapat Kawedanan Mojokasri, di sisi barat ada Kawedanan Mojokerto, sementara di wilayah timur berdiri Kawedanan Mojosari, serta di sebelah selatan adalah Kawedanan Jabung.

”Di empat wilayah kawedanan ini masing-masing memiliki kampung Kauman,” tandas Yuhan. Dia merinci, kampung Kauman di Kawedanan Mojokasri berada di Desa/Kecamatan Gedeg. Sedangkan di Kawedanan Mojokerto tepat di barat Alun-Alun Kota Mojokerto saat ini.

Baca Juga :  Dipanggil Bawaslu, Yoko-Kusnan Siap Mundur dari ASN

Sementara di Kawedanan Mojosari berada di ruas Jalan Airlangga, Kecamatan Mojosari. Sedangkan area kampung Kauman di Kawedanan Jabung terdapat di Desa/Kecamatan Jatirejo. Penulis buku Revolusi di Pinggir Kali Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini menambahkan, salah satu ciri khas dari perkampungan Kauman adalah terdapat masjid.

Di samping sebagai sarana ibadah, Masjid Kauman tersebut juga difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Bentuk bangunan masjid di kampung Kauman hampir seragam. Rata-rata dibangun dengan gaya arsitektur Masjid Demak.

Termasuk empat Masjid Kauman yang tersebar di wilayah Mojokerto. Beberapa keaslian bangunan masih dipertahankan meski telah beberapa kali dilakukan renovasi. ”Hampir semua Masjid Kauman memiliki model yang sama. Yaitu, memiliki atap tiga susun yang melambangkan tiga fase keimanan,” imbuhnya. 

 

 

Di Mojokerto terdapat perkampungan yang dinamakan Kauman. Lokasi pemukiman itu tersebar di empat titik arah mata angin. Keberadaannya mewakili pembagian empat wilayah kawedanan di masa Pemerintahan Kabupaten Mojokerto dulu.

Penyematan nama Kauman sebagai penanda bahwa kampung tersebut merupakan tempat tinggal yang dikhususkan bagi orang-orang yang ahli di bidang keagamaan.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, keberadaan kampung Kauman telah lama ada. Tepatnya sejak masuknya kerajaan Islam di era Kesultanan Demak pada periode akhir abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16.

Sejak saat itu, kampung Kauman selalu melekat dalam strutkur tata kelola kota di Pulau Jawa. Menurutnya, asal usul nama tersebut diserap dari bahasa Arab, yaitu qaum atau kaum yang berarti kelompok.

Kelompok yang dimaksud adalah orang-orang yang menguasai ilmu agama Islam atau qaumuddin. ”Sehingga, Kauman dapat diartikan sebagai kawasan tempat tinggal para qaumuddin atau lebih dikenal dengan sebutan mudin,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, pada masa lalu mudin menjadi orang dekat pemimpin daerah. Sebab, mudin memiliki peran dalam memberi pertimbangan sebelum pemimpin mengambil kebijakan.

Baca Juga :  Sanggar Genjah Arum, Surganya Penikmat Kopi
- Advertisement -

Khususnya, dalam memutuskan hal yang menyangkut masalah sosial keagamaan. ”Jadi, bisa dikatakan mudin adalah penasihat penguasa,” ujarnya. Oleh karena itu, seorang mudin diberikan fasilitas untuk tinggal tidak jauh dari kantor atau kediaman pemimpin daerah.

Sehingga, sebut Yuhan, dipilihlah sebuah kawasan pemukiman yang disebut sebagai kampung Kauman. Pada umumnya, kampung Kauman di dalam struktur tata kota Jawa berada di pusat kota. Pola tersebut tidak hanya diterapkan di tingkat kadipaten atau kabupaten/kota, tetapi juga diaplikasikan hingga di tingkat kawedanan.

Sebagaimana pembentukan kampung Kauman yang diterapkan di Kabupaten Mojokerto. Pada masa lalu, jumlah kawedanan di wilayah Mojokerto terbagi menjadi empat wilayah. Antara lain, di wilayah utara Sungai Brantas terdapat Kawedanan Mojokasri, di sisi barat ada Kawedanan Mojokerto, sementara di wilayah timur berdiri Kawedanan Mojosari, serta di sebelah selatan adalah Kawedanan Jabung.

”Di empat wilayah kawedanan ini masing-masing memiliki kampung Kauman,” tandas Yuhan. Dia merinci, kampung Kauman di Kawedanan Mojokasri berada di Desa/Kecamatan Gedeg. Sedangkan di Kawedanan Mojokerto tepat di barat Alun-Alun Kota Mojokerto saat ini.

Baca Juga :  Ditata agar Tambah Mood saat Menyantap

Sementara di Kawedanan Mojosari berada di ruas Jalan Airlangga, Kecamatan Mojosari. Sedangkan area kampung Kauman di Kawedanan Jabung terdapat di Desa/Kecamatan Jatirejo. Penulis buku Revolusi di Pinggir Kali Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini menambahkan, salah satu ciri khas dari perkampungan Kauman adalah terdapat masjid.

Di samping sebagai sarana ibadah, Masjid Kauman tersebut juga difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Bentuk bangunan masjid di kampung Kauman hampir seragam. Rata-rata dibangun dengan gaya arsitektur Masjid Demak.

Termasuk empat Masjid Kauman yang tersebar di wilayah Mojokerto. Beberapa keaslian bangunan masih dipertahankan meski telah beberapa kali dilakukan renovasi. ”Hampir semua Masjid Kauman memiliki model yang sama. Yaitu, memiliki atap tiga susun yang melambangkan tiga fase keimanan,” imbuhnya. 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/