alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Angkat Tema Kebangsaan, Sembunyikan Lagu untuk Mojokerto

ADA banyak cara untuk menyuarakan spirit perjuangan melawan korupsi. Berkarya lewat musik dan lagu adalah salah satu bentuk perlawanan paling rasional dalam memberantas korupsi sebagai bahaya laten. Setidaknya ini telah dibuktikan Uniku, salah satu band asal Mojokerto yang sukses menyabet juara Festival Suara Antikorupsi yang digagas KPK.

Tidak pernah terbersit sekalipun dalam benak dua pemuda asli Mojokerto ini bisa menginjakkan kaki di kantor KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Jumat (3/11) pekan lalu. Yang mereka tahu, KPK adalah pelabuhan terakhir para tersangka yang dengan tega mengambil uang rakyat.

Namun, kehadiran Widya Bagus Budhi Septiawan dan Angger Sapto Cahyo hari itu rupanya sudah ’’disambut’’ sejumlah pihak, termasuk Saut Sitomorang, salah satu pimpinan KPK yang hadir dalam acara Festival Suara Antikorupsi 2017. Momen yang digagas lembaga antirasuah itu memang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh dua pemuda yang tergabung dalam grup band Uniku (Untuk Indonesia Ku) ini.

Mereka sama sekali tak menyangka jika penampilannya di Plaza Festival Jakarta malam itu cukup menyita perhatian tiga juri, Saut Situmorang, Oppie Andaresta, dan Sandy Canester. Hingga akhirnya label juara pantas disematkan kepada mereka sebagai grup band terfavorit sekaligus grup band terbaik di festival yang kali pertama digelar itu.

Ya, kisah perjalanan Uniku mulai awal hingga sukses menyabet dua gelar sekaligus memang tidak mudah. Mereka harus berjuang dari awal seleksi regional Surabaya bertempur bersama puluhan band asal Jatim dan Jateng hingga menyabet 5 besar. Dari 5 besar itu, Uniku terpilih kembali sebagai juara pertama dan berhak mewakili satu dari 5 regional untuk bertarung di Jakarta. Di sana, mereka dihadapkan bersama empat band lain berasal dari Medan, Bandung, Jakarta dan Makasar.

Baca Juga :  Gaji Dewan Dipotong, lalu Didonasikan

Tidak hanya itu, sebelum bertarung, selama empat bulan, mulai April sampai Agustus 2017, baik Bagus maupun Angger juga harus berjibaku dan kompromi atas kesibukan masing-masing. Baik sebagai pemusik maupun pekerja karir. Maklum, hobi sebagai pemusik belum cukup mampu menjamin kehidupan layak bagi kedua personel dan tiga additional player.

Namun, semangat dan jiwa nasionalisme yang membara tak cukup menghentikan langkah mereka untuk terus berkarya demi bangsa. Termasuk menyerukan antikorupsi sebagai tindak kejahatan paling berbahaya di Indonesia. ’’Karena rasa mencintai tanah air dan ingin berbakti saja. Kebetulan ada festival yang digagas KPK dan kita sambut baik.

Banyak aspek yang diperjuangan, waktu, tenaga dan tabungan pun di perjuangkan. Tapi, tidak dipertaruhkan. Total kira-kira kita sudah habis Rp 30 juta-an untuk menggarap lagu ini,’’ ungkap Landy, manajer Uniku kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin.

Baca Juga :  Muncul Tiga Paslon, Hari Pertama Pendaftaran Pilwali Masih Sepi

Kemenangan Uniku sendiri tak bisa lepas dari sebuah lagu berjudul: Semangat Pancasila, yang mereka ciptakan dan aransemen sejak Agustus 2016 lalu, atau bertepatan dengan perayaan HUT Ke-71 Kemerdekaan RI.

Tercetusnya lagu tersebut awalnya dilatarbelakangi oleh rasa kejumutan yang dirasakan Bagus dan Angger selama bermusik. Di mana lagu-lagu bertemakan romansa percintaan masa kini cukup mainstream di telinga masyarakat hingga kurang memiliki value istimewa.

Hingga akhirnya kedua remaja asal Mojosari dan Puri ini sepakat membentuk sebuah band dengan inspirasi atas semangat kebangsaan. ’’Landasan berdirinya bangsa Indonesia ini ya dari lima sila yang tersusun dalam Pancasila. Korupsi di Indonesia tidak akan terjadi bilamana rakyat paham benar akan isi dan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Spirit kita adalah mengajak masyarakat untuk ikut memberantas korupsi dengan berbagai cara,’’ imbuhnya.

Sukses dengan dua gelar juara, perjalanan Uniku tidak akan berhenti begitu saja. Dalam waktu dekat, mereka akan kembali berkarya dengan tema semangat kepahlawanan ala pemuda Mojokerto.

Lagu yang rencananya bakal dipersembahkan kepada Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa ini menjadi bukti dedikasi mereka yang ikut dalam memajukan Mojokerto sebagai kota berbudaya. ’’Sementara masih kita sembunyikan dulu aransemen dan judul lagunya. Tapi, yang jelas jika Pak Bupati berkenan, akan kami serahkan kepada beliau,’’ pungkasnya. 

ADA banyak cara untuk menyuarakan spirit perjuangan melawan korupsi. Berkarya lewat musik dan lagu adalah salah satu bentuk perlawanan paling rasional dalam memberantas korupsi sebagai bahaya laten. Setidaknya ini telah dibuktikan Uniku, salah satu band asal Mojokerto yang sukses menyabet juara Festival Suara Antikorupsi yang digagas KPK.

Tidak pernah terbersit sekalipun dalam benak dua pemuda asli Mojokerto ini bisa menginjakkan kaki di kantor KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Jumat (3/11) pekan lalu. Yang mereka tahu, KPK adalah pelabuhan terakhir para tersangka yang dengan tega mengambil uang rakyat.

Namun, kehadiran Widya Bagus Budhi Septiawan dan Angger Sapto Cahyo hari itu rupanya sudah ’’disambut’’ sejumlah pihak, termasuk Saut Sitomorang, salah satu pimpinan KPK yang hadir dalam acara Festival Suara Antikorupsi 2017. Momen yang digagas lembaga antirasuah itu memang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh dua pemuda yang tergabung dalam grup band Uniku (Untuk Indonesia Ku) ini.

Mereka sama sekali tak menyangka jika penampilannya di Plaza Festival Jakarta malam itu cukup menyita perhatian tiga juri, Saut Situmorang, Oppie Andaresta, dan Sandy Canester. Hingga akhirnya label juara pantas disematkan kepada mereka sebagai grup band terfavorit sekaligus grup band terbaik di festival yang kali pertama digelar itu.

Ya, kisah perjalanan Uniku mulai awal hingga sukses menyabet dua gelar sekaligus memang tidak mudah. Mereka harus berjuang dari awal seleksi regional Surabaya bertempur bersama puluhan band asal Jatim dan Jateng hingga menyabet 5 besar. Dari 5 besar itu, Uniku terpilih kembali sebagai juara pertama dan berhak mewakili satu dari 5 regional untuk bertarung di Jakarta. Di sana, mereka dihadapkan bersama empat band lain berasal dari Medan, Bandung, Jakarta dan Makasar.

Baca Juga :  Utamakan Kebutuhan Pasokan Dalam Negeri, Larang Ekspor CPO dan Produk Migor

Tidak hanya itu, sebelum bertarung, selama empat bulan, mulai April sampai Agustus 2017, baik Bagus maupun Angger juga harus berjibaku dan kompromi atas kesibukan masing-masing. Baik sebagai pemusik maupun pekerja karir. Maklum, hobi sebagai pemusik belum cukup mampu menjamin kehidupan layak bagi kedua personel dan tiga additional player.

- Advertisement -

Namun, semangat dan jiwa nasionalisme yang membara tak cukup menghentikan langkah mereka untuk terus berkarya demi bangsa. Termasuk menyerukan antikorupsi sebagai tindak kejahatan paling berbahaya di Indonesia. ’’Karena rasa mencintai tanah air dan ingin berbakti saja. Kebetulan ada festival yang digagas KPK dan kita sambut baik.

Banyak aspek yang diperjuangan, waktu, tenaga dan tabungan pun di perjuangkan. Tapi, tidak dipertaruhkan. Total kira-kira kita sudah habis Rp 30 juta-an untuk menggarap lagu ini,’’ ungkap Landy, manajer Uniku kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin.

Baca Juga :  Khusus untuk Napi Pribumi

Kemenangan Uniku sendiri tak bisa lepas dari sebuah lagu berjudul: Semangat Pancasila, yang mereka ciptakan dan aransemen sejak Agustus 2016 lalu, atau bertepatan dengan perayaan HUT Ke-71 Kemerdekaan RI.

Tercetusnya lagu tersebut awalnya dilatarbelakangi oleh rasa kejumutan yang dirasakan Bagus dan Angger selama bermusik. Di mana lagu-lagu bertemakan romansa percintaan masa kini cukup mainstream di telinga masyarakat hingga kurang memiliki value istimewa.

Hingga akhirnya kedua remaja asal Mojosari dan Puri ini sepakat membentuk sebuah band dengan inspirasi atas semangat kebangsaan. ’’Landasan berdirinya bangsa Indonesia ini ya dari lima sila yang tersusun dalam Pancasila. Korupsi di Indonesia tidak akan terjadi bilamana rakyat paham benar akan isi dan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Spirit kita adalah mengajak masyarakat untuk ikut memberantas korupsi dengan berbagai cara,’’ imbuhnya.

Sukses dengan dua gelar juara, perjalanan Uniku tidak akan berhenti begitu saja. Dalam waktu dekat, mereka akan kembali berkarya dengan tema semangat kepahlawanan ala pemuda Mojokerto.

Lagu yang rencananya bakal dipersembahkan kepada Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa ini menjadi bukti dedikasi mereka yang ikut dalam memajukan Mojokerto sebagai kota berbudaya. ’’Sementara masih kita sembunyikan dulu aransemen dan judul lagunya. Tapi, yang jelas jika Pak Bupati berkenan, akan kami serahkan kepada beliau,’’ pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/