alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Sunday, May 22, 2022

Tetap Sakral dan Khidmat

SEBAGIAN besar orang pasti setuju bahwa pernikahan adalah momentum sakral semasa hidupnya. Tak jarang mereka harus menandai momentum ikrar janji sucinya itu dalam bentuk resepsi yang mewah dan unik. Bahkan, untuk bisa menggelar pagelaran bak raja dan ratu sehari, persiapan jauh hari mereka lakukan.

Mulai dari penetapan tanggal, katering, sewa tenda dan sound system, hingga sewa jasa rias pengantin untuk resepsi. Namun, masa pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret lalu sempat menghambat hajatan perkawinan sejumlah pasangan suami-istri (pasutri) baru. Selain harus menunda, mereka juga tidak bisa leluasa menggelar gebyar pesta dengan volume dan tamu undangan yang mewah.

Pembatasan mau tak mau harus dilakukan demi mencegah penularan Covid-19 lebih luas, seperti yang didengungkan pemerintah akhir-akhir ini. Seperti yang sempat dialami pasangan Achmad Yusqi Nuhasim dengan Auliati Dwi Kisandari. Sempat menetapkan jadwal April lalu, resepsi Yusqi dan Aulia terpaksa ditunda selama empat bulan lantaran situasi Covid-19 yang belum mereda.

Baca Juga :  Airlangganomic Antarkan Ketum Golkar di Posisi Teratas Elektabilitas Capres

Jumat (6/7) sepasang kekasih ini akhirnya melangsungkan janji suci dan pesta perkawinan di kediaman Aulia, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, setelah Pemkab Mojokerto mengizinkan hajatan dilaksanakan. Meski harus menjalani rapid test dan menerapkan protokol kesehatan, ikrar janji suci Yusqi kepada Aulia akhirnya bisa terlaksana dengan khidmat di tengah masa pandemi. ’’Kami nggak ngerti pandemi ini kapan berakhir. Yang penting acaranya tetap sakral dan bisa mematuhi protokol kesehatan,’’ tegas Yusqi.

Meski sudah menerapkan protokol kesehatan, tapi pihaknya masih membatasi tamu undangan yang hadir. Dengan menerapkan jadwal kedatangan tamu undangan mulai siang hingga malam hari. Sehingga tidak sampai terjadi kerumunan massa dalam jumlah besar yang dianggap berpotensi bisa menyebarkan Covid-19.

Baca Juga :  Piala Soeratin Kabupaten Diundur

’’Persiapan kami hanya H-10 setelah ada penundaan. Juga membatasi jumlah dan membedakan jam kedatangan tamu,’’ imbuh pengantin baru asal Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini.

SEBAGIAN besar orang pasti setuju bahwa pernikahan adalah momentum sakral semasa hidupnya. Tak jarang mereka harus menandai momentum ikrar janji sucinya itu dalam bentuk resepsi yang mewah dan unik. Bahkan, untuk bisa menggelar pagelaran bak raja dan ratu sehari, persiapan jauh hari mereka lakukan.

Mulai dari penetapan tanggal, katering, sewa tenda dan sound system, hingga sewa jasa rias pengantin untuk resepsi. Namun, masa pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret lalu sempat menghambat hajatan perkawinan sejumlah pasangan suami-istri (pasutri) baru. Selain harus menunda, mereka juga tidak bisa leluasa menggelar gebyar pesta dengan volume dan tamu undangan yang mewah.

Pembatasan mau tak mau harus dilakukan demi mencegah penularan Covid-19 lebih luas, seperti yang didengungkan pemerintah akhir-akhir ini. Seperti yang sempat dialami pasangan Achmad Yusqi Nuhasim dengan Auliati Dwi Kisandari. Sempat menetapkan jadwal April lalu, resepsi Yusqi dan Aulia terpaksa ditunda selama empat bulan lantaran situasi Covid-19 yang belum mereda.

Baca Juga :  Airlangganomic Antarkan Ketum Golkar di Posisi Teratas Elektabilitas Capres

Jumat (6/7) sepasang kekasih ini akhirnya melangsungkan janji suci dan pesta perkawinan di kediaman Aulia, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, setelah Pemkab Mojokerto mengizinkan hajatan dilaksanakan. Meski harus menjalani rapid test dan menerapkan protokol kesehatan, ikrar janji suci Yusqi kepada Aulia akhirnya bisa terlaksana dengan khidmat di tengah masa pandemi. ’’Kami nggak ngerti pandemi ini kapan berakhir. Yang penting acaranya tetap sakral dan bisa mematuhi protokol kesehatan,’’ tegas Yusqi.

Meski sudah menerapkan protokol kesehatan, tapi pihaknya masih membatasi tamu undangan yang hadir. Dengan menerapkan jadwal kedatangan tamu undangan mulai siang hingga malam hari. Sehingga tidak sampai terjadi kerumunan massa dalam jumlah besar yang dianggap berpotensi bisa menyebarkan Covid-19.

Baca Juga :  Maju Jalur Independen, Wajib Kantongi 62.338 Dukungan

’’Persiapan kami hanya H-10 setelah ada penundaan. Juga membatasi jumlah dan membedakan jam kedatangan tamu,’’ imbuh pengantin baru asal Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini.

Artikel Terkait

Most Read

Diperkuat Tiga Pemain Senior

Telur Busuk Beredar Luas

Showroom Mobil Bekas pun Ketir-ketir

Artikel Terbaru


/