alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Kemecer Nasi Pecel

Menjalani ibadah Ramadan jauh dari orang tua bukanlah pilihan. Kala orang-orang di Mojokerto sahur dan berbuka bersama keluarga, saya justru sahur dan berbuka sendiri di tempat kos.

Sekarang tempat kos saya ada di Kelurahan Kebon Baru, Jalan D2 Nomor 23 RT 09, RW 04, Tebet, Jakarta Selatan (Jaksel). Sejak menginjakkan kaki di Ibu Kota Jakarta, tahun 2018, saya pernah tinggal di kawasan Bekasi. Saat itu saya bekerja sebagai staf rekam medis di Rumah Sakit (RS) Tiara, Bekasi.

Tapi hanya selama 1,5 tahun. Habis itu saya berpindah tempat kerja di RS Brawijaya Saharjo. Menjadi tenaga medis selama pandemi Covid-19 ini memang berbeda dari sebelumnya. Setiap masuk kerja, oleh rumah sakit kami semua diminta wajib mengenakan alat pelindung diri. Kecuali hazmat, ya.

Karena kebetulan rumah sakit kami bukan rumah sakit rujukan. Asupan gizi kami juga diperhatikan oleh rumah sakit. Kesehatan kami dipantau. Setiap hari mendapat nutrisi, vitamin, dan buah-buahan. Sampai sekarang seperti itu. Dan, uniknya, kasus pertama Covid-19 di DKI Jakarta, bulan Maret lalu, memang berasal dari wilayah Jakarta Selatan.

Bisa dibilang kasus virus korona di wilayah Jaksel ini kasusnya cukup tinggi. Tentunya, keluarga di rumah, di Dusun Jetak, Desa Balongmojo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, juga menanyakan kondisi saya di sini. Mereka selalu mengingatkan agar menjadi kondisi kesehatan, dan menanyakan kabar saya setiap hari. Lewat WhatsApp, video call, dan telepon langsung.

Baca Juga :  Oase Jelang Puncak Tertinggi Jawa

Rindu, kangen, dan ingin merasakan Ramadan dan Lebaran di kampung halaman itu pasti. Kepingin rasanya segera makan sayur pecel. Jalan-jalan, ngabuburit seperti dulu, sambil nunggu waktu beduk berbuka. Teringat ke Jalan Benteng (Benpas), ke pasar takjil Surodinawan, lalu ngumpul bareng keluarga dan teman.

Seru dan senang. Cuma, kalau soal makanan berbuka dan sahur ya jangan tanya. Apa pun menunya, masakan ibu yang paling enak, hehehe. Apalagi pecel. Bikin kemecer. Di sini saya ngekos sendiri. Kalau sedang tidak malas keluar, terkadang minta tolong bu kos membelikan makanan untuk berbuka, dan sahur.

Memang, kebetulan, walau masa pandemi, di sekitar tempat saya masih menjamur orang berjualan makanan dan takjil. Menunya, macam-macam. Ya seperti Ramadan sebelumnya. Seperti tidak ada apa-apa. Justru, saat ada imbauan untuk tidak melaksanakan salat berjamaah, di masjid dan musala di sini tetap menggelar salat

Magrib dan Isya berjamaah. Anehnya, justru salat tarawih ditiadakan. Ketika orang dilarang berbonceng, di sini tetap seperti biasa. Malah banyak yang berboncengan dua. Seperti tidak ada pandemi.

Yang patut disyukuri, kesadaran warga Jakarta selama pembatasan sosal berskala besar (PSBB) dalam menerapkan protokol kesehatan meningkat. Keluar rumah dan beraktivitas semua memakai masker. Termasuk orang jualan takjil Ramadan tadi.

Dulu saat jam operasional KRL dibatasi, dampaknya justru malah membuat orang-orang berjubel dalam kereta. Saat itu, rata-rata mereka masih masuk kerja. Belum work from home (WFH). Sehingga kerumunan dalam kereta tidak bisa dihindari.

Baca Juga :  Boleh Bagi Takjil, Penyekatan Jalur Wisata Dihapus

Namun, sekarang ini jarak penumpang lebih ditata. Oh, ya, ngomong-ngomong soal kereta api, sebenarnya banyak di antara teman saya asal Mojokerto dan Jatim yang bekerja di Jakarta sudah membeli tiket mudik. Mereka ingin berlebaran di rumah. Kumpul keluarga dan teman di kampung halaman.

Nah, begitu pemerintah melarang untuk mudik, apalagi kami dari kawasan episentrum Covid-19, semua pada mengembalikan tiket. Ya, akhirnya semua membatalkan untuk pulang.  Alhamdulillah, asyiknya di sini kami masih bisa komunikasi dengan sesama alumni SMAN 1 Sooko, yang bekerja di Jakarta.

Karena sama-sama nggak pulang. Dulu, sebelum Covid-19 kami sering ngumpul bareng. Bercanda, tertawa, dan tentunya dengan bahasa Jawa. Tidak lagi pakai lu, gue, kayak orang Jakarta, hehehe. Cuma, sekarang kami tidak bisa seperti itu.

Apalagi, saat Idul Fitri nanti saya tidak pulang. Sudah ada jadwal kerja yang mengatur. Ini artinya, saya tidak bisa berlebaran dua kali di rumah bareng ayah, ibu, adik dan keluarga besar. Meski begitu komunikasi tetap seperti biasa. Setiap hari komunikasi. Justru, saat pamit kerja pun saya pamit bapak dan ibu. Sekaligus ’’sungkem’’ dan mohon doanya. (ris)

*)Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

 

 

 

 

 

 

Menjalani ibadah Ramadan jauh dari orang tua bukanlah pilihan. Kala orang-orang di Mojokerto sahur dan berbuka bersama keluarga, saya justru sahur dan berbuka sendiri di tempat kos.

Sekarang tempat kos saya ada di Kelurahan Kebon Baru, Jalan D2 Nomor 23 RT 09, RW 04, Tebet, Jakarta Selatan (Jaksel). Sejak menginjakkan kaki di Ibu Kota Jakarta, tahun 2018, saya pernah tinggal di kawasan Bekasi. Saat itu saya bekerja sebagai staf rekam medis di Rumah Sakit (RS) Tiara, Bekasi.

Tapi hanya selama 1,5 tahun. Habis itu saya berpindah tempat kerja di RS Brawijaya Saharjo. Menjadi tenaga medis selama pandemi Covid-19 ini memang berbeda dari sebelumnya. Setiap masuk kerja, oleh rumah sakit kami semua diminta wajib mengenakan alat pelindung diri. Kecuali hazmat, ya.

Karena kebetulan rumah sakit kami bukan rumah sakit rujukan. Asupan gizi kami juga diperhatikan oleh rumah sakit. Kesehatan kami dipantau. Setiap hari mendapat nutrisi, vitamin, dan buah-buahan. Sampai sekarang seperti itu. Dan, uniknya, kasus pertama Covid-19 di DKI Jakarta, bulan Maret lalu, memang berasal dari wilayah Jakarta Selatan.

Bisa dibilang kasus virus korona di wilayah Jaksel ini kasusnya cukup tinggi. Tentunya, keluarga di rumah, di Dusun Jetak, Desa Balongmojo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, juga menanyakan kondisi saya di sini. Mereka selalu mengingatkan agar menjadi kondisi kesehatan, dan menanyakan kabar saya setiap hari. Lewat WhatsApp, video call, dan telepon langsung.

Baca Juga :  Boleh Bagi Takjil, Penyekatan Jalur Wisata Dihapus

Rindu, kangen, dan ingin merasakan Ramadan dan Lebaran di kampung halaman itu pasti. Kepingin rasanya segera makan sayur pecel. Jalan-jalan, ngabuburit seperti dulu, sambil nunggu waktu beduk berbuka. Teringat ke Jalan Benteng (Benpas), ke pasar takjil Surodinawan, lalu ngumpul bareng keluarga dan teman.

- Advertisement -

Seru dan senang. Cuma, kalau soal makanan berbuka dan sahur ya jangan tanya. Apa pun menunya, masakan ibu yang paling enak, hehehe. Apalagi pecel. Bikin kemecer. Di sini saya ngekos sendiri. Kalau sedang tidak malas keluar, terkadang minta tolong bu kos membelikan makanan untuk berbuka, dan sahur.

Memang, kebetulan, walau masa pandemi, di sekitar tempat saya masih menjamur orang berjualan makanan dan takjil. Menunya, macam-macam. Ya seperti Ramadan sebelumnya. Seperti tidak ada apa-apa. Justru, saat ada imbauan untuk tidak melaksanakan salat berjamaah, di masjid dan musala di sini tetap menggelar salat

Magrib dan Isya berjamaah. Anehnya, justru salat tarawih ditiadakan. Ketika orang dilarang berbonceng, di sini tetap seperti biasa. Malah banyak yang berboncengan dua. Seperti tidak ada pandemi.

Yang patut disyukuri, kesadaran warga Jakarta selama pembatasan sosal berskala besar (PSBB) dalam menerapkan protokol kesehatan meningkat. Keluar rumah dan beraktivitas semua memakai masker. Termasuk orang jualan takjil Ramadan tadi.

Dulu saat jam operasional KRL dibatasi, dampaknya justru malah membuat orang-orang berjubel dalam kereta. Saat itu, rata-rata mereka masih masuk kerja. Belum work from home (WFH). Sehingga kerumunan dalam kereta tidak bisa dihindari.

Baca Juga :  Wajah Lama Warnai Bursa Seleksi KPU Kabupaten dan Kota Mojokerto

Namun, sekarang ini jarak penumpang lebih ditata. Oh, ya, ngomong-ngomong soal kereta api, sebenarnya banyak di antara teman saya asal Mojokerto dan Jatim yang bekerja di Jakarta sudah membeli tiket mudik. Mereka ingin berlebaran di rumah. Kumpul keluarga dan teman di kampung halaman.

Nah, begitu pemerintah melarang untuk mudik, apalagi kami dari kawasan episentrum Covid-19, semua pada mengembalikan tiket. Ya, akhirnya semua membatalkan untuk pulang.  Alhamdulillah, asyiknya di sini kami masih bisa komunikasi dengan sesama alumni SMAN 1 Sooko, yang bekerja di Jakarta.

Karena sama-sama nggak pulang. Dulu, sebelum Covid-19 kami sering ngumpul bareng. Bercanda, tertawa, dan tentunya dengan bahasa Jawa. Tidak lagi pakai lu, gue, kayak orang Jakarta, hehehe. Cuma, sekarang kami tidak bisa seperti itu.

Apalagi, saat Idul Fitri nanti saya tidak pulang. Sudah ada jadwal kerja yang mengatur. Ini artinya, saya tidak bisa berlebaran dua kali di rumah bareng ayah, ibu, adik dan keluarga besar. Meski begitu komunikasi tetap seperti biasa. Setiap hari komunikasi. Justru, saat pamit kerja pun saya pamit bapak dan ibu. Sekaligus ’’sungkem’’ dan mohon doanya. (ris)

*)Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/