alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Koin Uang Tertua Buatan Tahun 1862

BERAWAL dari hobi mengoleksi barang antik, kini rumah Rudi Makruf sudah dipenuhi ratusan jenis barang-barang kuno. Mulai dari berbahan kayu, logam, hingga keramik. Sebagian didapat dari barang temuan, dan sebagian lagi hasil buruan di luar kota. 

Tak sulit menemukan rumah Rudi Makruf. Lokasinya berada di seberang Jalan Brawijaya Nomor 298, Lingkungan Kedungkwali, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Rumah berpagar besi itu tidak seperti tempat hunian, melainkan tempat galeri barang-barang antik.

Pasalnya, hampir seluruh halamannya dipenuhi tumpukan berbagai jenis barang kuno. Kebanyakan merupakan mebel kayu zaman dulu. Di antaranya, gebyok ukir, pintu, meja, kursi dan berbagai barang lawas lainnya. Menurut Rudi, ada mebel dengan corak khas Eropa, dan ada juga bergaya budaya Jawa.

”Kalau Eropa biasanya ukurannya lebih simpel, tapi kalau Jawa ukirannya lebih banyak motifnya,” ungkapnya. Hampir semuanya merupakan produksi tahun 1960 ke bawah, dan didapat dari kawasan Gresik, Pasuruan, dan Jombang.

Tak hanya itu, di ruang tamu jauh lebih lengkap lagi. Ada sejumlah koleksi dari bahan keramik yang identik peninggalan peradaban etnis Tionghoa. Beberapa ada yang tertata berjajar di almari kaca. Mulai dari guci, piring, mangkuk, maupun teko. Beberapa di antaranya berupa barang tembikar terbuat dari tanah liat. ”Sebagian saya peroleh dari temuan warga,” terangnya.

Baca Juga :  Jamin Kenyamanan Mudik, Jaringan BNI Siaga

Di salah satu sudut ada berbagai jenis keris, tombak, lampu tempel, jam dinding kuno, hingga strika lawas menggunakan pemanas arang. Bapak dua anak ini lantas menunjukkan koleksi uang koin miliknya. Rudi menunjukkan mata uang gulden yang dipergunakan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Koin yang paling tua adalah buatan tahun 1862, berbahan perak.

Selain itu, ada koin Cina gobok dengan ciri khas terdapat lubang di tengah. Dia mengatakan, sebagian besar uang tersebut didapat dari temuan warga di wilayah sungai. ”Kalau zaman Majapahit ke bawah, uang dibuat dari bahan perunggu,” paparnya.

Namun, dewasa ini, telah banyak barang-barang antik yang diduplikatkan. Dia selalu memastikan keaslian barang sebelum membeli. Sebab, Rudi sudah mengetahui betul ciri-ciri barang yang asli dan palsu. ”Untuk koin misalnya, bisa dilakukan dengan cara mendengar bunyi ketika dijatuhkan ke lantai. Kalau barang palsu bunyinya lain,” jelasnya.

Baca Juga :  Gerimis Melodi Syahdu Penanggungan

Pria kelahiran 7 Juni 1967 ini menceritakan, hobi mengoleksi barang sudah dilakoni kurang lebih sejak 20 tahun. Dimulai ketika sedang bekerja di Jakarta. Dia rela menyisihkan sebagian uangnya untuk sekadar memburu barang antik.

Kemudian, dia memutuskan kembali ke Mojokerto dan melanjutkan hobinya tersebut. Hingga akhirnya, rumahnya pun tak cukup lagi untuk menyimpan koleksi pribadinya itu. Meski tidak ada papan nama apa pun, tapi tak jarang rumahnya menjadi jujukan pecinta barang antik. ”Awalnya memang hobi, karena barang sudah terlalu banyak. Akhirnya, kalau ada yang tawar saya jual juga,” paparnya.

Pada akhirnya, sejak 2005 silam, dia menjadikan jual-beli barang antik sebagai usaha tambahanya. Selain berjualan di toko plastik. Meski demikian, dia tidak sembarangan menjual koleksinya.

Rudi selalu memiliki pertimbangan, bahwa barang tersebut harus jatuh di tangan yang tepat. ”Barang antik ini kan istilahnya sudah tidak ada pabriknya. Jadi, sayang kalau rusak, karena tidak bisa diproduksi lagi,” tandasnya.

 

 

BERAWAL dari hobi mengoleksi barang antik, kini rumah Rudi Makruf sudah dipenuhi ratusan jenis barang-barang kuno. Mulai dari berbahan kayu, logam, hingga keramik. Sebagian didapat dari barang temuan, dan sebagian lagi hasil buruan di luar kota. 

Tak sulit menemukan rumah Rudi Makruf. Lokasinya berada di seberang Jalan Brawijaya Nomor 298, Lingkungan Kedungkwali, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Rumah berpagar besi itu tidak seperti tempat hunian, melainkan tempat galeri barang-barang antik.

Pasalnya, hampir seluruh halamannya dipenuhi tumpukan berbagai jenis barang kuno. Kebanyakan merupakan mebel kayu zaman dulu. Di antaranya, gebyok ukir, pintu, meja, kursi dan berbagai barang lawas lainnya. Menurut Rudi, ada mebel dengan corak khas Eropa, dan ada juga bergaya budaya Jawa.

”Kalau Eropa biasanya ukurannya lebih simpel, tapi kalau Jawa ukirannya lebih banyak motifnya,” ungkapnya. Hampir semuanya merupakan produksi tahun 1960 ke bawah, dan didapat dari kawasan Gresik, Pasuruan, dan Jombang.

- Advertisement -

Tak hanya itu, di ruang tamu jauh lebih lengkap lagi. Ada sejumlah koleksi dari bahan keramik yang identik peninggalan peradaban etnis Tionghoa. Beberapa ada yang tertata berjajar di almari kaca. Mulai dari guci, piring, mangkuk, maupun teko. Beberapa di antaranya berupa barang tembikar terbuat dari tanah liat. ”Sebagian saya peroleh dari temuan warga,” terangnya.

Baca Juga :  Nyaman, Serasa di Pelukan

Di salah satu sudut ada berbagai jenis keris, tombak, lampu tempel, jam dinding kuno, hingga strika lawas menggunakan pemanas arang. Bapak dua anak ini lantas menunjukkan koleksi uang koin miliknya. Rudi menunjukkan mata uang gulden yang dipergunakan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Koin yang paling tua adalah buatan tahun 1862, berbahan perak.

Selain itu, ada koin Cina gobok dengan ciri khas terdapat lubang di tengah. Dia mengatakan, sebagian besar uang tersebut didapat dari temuan warga di wilayah sungai. ”Kalau zaman Majapahit ke bawah, uang dibuat dari bahan perunggu,” paparnya.

Namun, dewasa ini, telah banyak barang-barang antik yang diduplikatkan. Dia selalu memastikan keaslian barang sebelum membeli. Sebab, Rudi sudah mengetahui betul ciri-ciri barang yang asli dan palsu. ”Untuk koin misalnya, bisa dilakukan dengan cara mendengar bunyi ketika dijatuhkan ke lantai. Kalau barang palsu bunyinya lain,” jelasnya.

Baca Juga :  Lembutnya Pasir dan Sapaan Manja Ombak Pantai Pangubungan

Pria kelahiran 7 Juni 1967 ini menceritakan, hobi mengoleksi barang sudah dilakoni kurang lebih sejak 20 tahun. Dimulai ketika sedang bekerja di Jakarta. Dia rela menyisihkan sebagian uangnya untuk sekadar memburu barang antik.

Kemudian, dia memutuskan kembali ke Mojokerto dan melanjutkan hobinya tersebut. Hingga akhirnya, rumahnya pun tak cukup lagi untuk menyimpan koleksi pribadinya itu. Meski tidak ada papan nama apa pun, tapi tak jarang rumahnya menjadi jujukan pecinta barang antik. ”Awalnya memang hobi, karena barang sudah terlalu banyak. Akhirnya, kalau ada yang tawar saya jual juga,” paparnya.

Pada akhirnya, sejak 2005 silam, dia menjadikan jual-beli barang antik sebagai usaha tambahanya. Selain berjualan di toko plastik. Meski demikian, dia tidak sembarangan menjual koleksinya.

Rudi selalu memiliki pertimbangan, bahwa barang tersebut harus jatuh di tangan yang tepat. ”Barang antik ini kan istilahnya sudah tidak ada pabriknya. Jadi, sayang kalau rusak, karena tidak bisa diproduksi lagi,” tandasnya.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/