alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Lebaran di Tapal Batas

MENJADI guru garis depan (GGD) membuat saya harus rela hidup berjauhan dengan orang tua dan sanak saudara, untuk mendidik anak bangsa di tapal batas NKRI.

Sudah tiga tahun ini saya mengabdi di tempat rantau. Di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Di sini pula saya bertemu dengan pujaan hati, dan membangun rumah tangga, hingga kami dikaruniai seorang buah hati.

Istri saya sama-sama GGD yang kebetulan juga mengikuti program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebelumnya, di tahun yang sama.

Dengan begitu, dari tiga kali Lebaran yang saya lakukan sejak ditugaskan di Kabupaten Ketapang, dapat dipastikan tahun ini akan terasa berbeda dengan dua tahun sebelumnya. Tahun ini saya harus melangsungkan Hari Raya Idul Fitri tidak di tempat kelahiran saya.

Yakni, di Desa Kalen, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah kali ini saya bersama istri dan anak harus tetap berada di perantauan atau di tempat tugas menjadi seorang pendidik. Memang, ada kesedihan dalam benak saya.

Bahwa, kami akan melewati Lebaran kali ini tanpa orang tua dan sanak saudara. Alasannya satu, karena pandemi Covid-19. Namun, saya sempat berpikir, jika memaksa pulang, meski kondisi tubuh sehat tidak mengalami gejala Covid-19.

Baca Juga :  Tahapan Dihentikan, KPU Tetap Lantik PPS

Apalagi, sekolah tempat saya dan istri ditugaskan menerapkan sistem kerja atau work from home (WFH) dari rumah. Sehingga kami bisa dengan mudah mengajar peserta didik dari kejahuan dengan memanfaatkan informasi teknologi.

Namun, niat itu kami urungkan. Setelah banyaknya pemberitaan terkait orang tanpa gejala (OTG) yang bisa menjadi pembawa virus atau carrier dan menularkan virus kepada orang lain. Terutama, pada yang lebih rentan seperti lansia.

Sehingga demi kebaikan bersama, saya tak memboyong keluarga kecil saya ke tempat asal kelahiran di Bumi Majapahit. Pertimbangan lain terkait anak kami yang belum genap setahun. Kami khawatir ia rentan terpapar virus selama perjalanan. Meki berat, keputusan ini menjadi pilihan terbaik.

Setidaknya dengan tidak mudik saya bisa ikut ambil peran bersama pemerintah melakukan percepatan penanganan persebaran Covid-19 yang belakangan diketahui angkanya terus meningkat setiap harinya di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah, yang mengumumkan larangan mudik, khususnya bagi ASN. Terhitung mulai Jumat (24/4) lalu hingga Juni mendatang. Semua transportasi darat, laut, maupun udara, dilarang mengangkut penumpang komersial selama periode tersebut.

Baca Juga :  Hadiri Pertemuan Akbar sejak Cabang Organisasi Berdiri 1929

Rasa gundah, kecewa, dan sedih, pasti ada. Karena tahun ini tidak dapat berlebaran di kampung halaman. Terutama, momen sakral sungkem dan nyekar ke makam yang begitu ditunggu-tunggu oleh perantau. Seperti saya ini ketika pulang ke kampung halaman.

Selain itu, momen kumpul bersama teman dan bepergian ke tempat-tempat nostalgia menjadi sangat dinanti ketika Lebaran tiba. Mempertimbangkan banyaknya mudarat jika kami sekeluarga nekat mudik, kami pun mengikhlaskan untuk tidak pulang kampung tahun ini.

Sebagai gantinya kami bisa memanfaatkan teknologi informasi yang ada untuk bertukar kabar dan melepas kangen dengan orang tua, sanak saudara, dan teman-teman satu kampung, melalui video call. Namun, tentunya hal ini akan jauh berbeda saat kita bisa langsung bertemu.

Semoga pandemi ini segera berakhir. Sehingga semua aktivitas kita dapat kembali seperti sedia kala. Dan, untuk semua perantau yang ada di seluruh penjuru negeri seperti saya, semoga kita tetap kuat dan tabah dalam menghadapi situasi ini. 

Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

MENJADI guru garis depan (GGD) membuat saya harus rela hidup berjauhan dengan orang tua dan sanak saudara, untuk mendidik anak bangsa di tapal batas NKRI.

Sudah tiga tahun ini saya mengabdi di tempat rantau. Di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Di sini pula saya bertemu dengan pujaan hati, dan membangun rumah tangga, hingga kami dikaruniai seorang buah hati.

Istri saya sama-sama GGD yang kebetulan juga mengikuti program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebelumnya, di tahun yang sama.

Dengan begitu, dari tiga kali Lebaran yang saya lakukan sejak ditugaskan di Kabupaten Ketapang, dapat dipastikan tahun ini akan terasa berbeda dengan dua tahun sebelumnya. Tahun ini saya harus melangsungkan Hari Raya Idul Fitri tidak di tempat kelahiran saya.

Yakni, di Desa Kalen, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah kali ini saya bersama istri dan anak harus tetap berada di perantauan atau di tempat tugas menjadi seorang pendidik. Memang, ada kesedihan dalam benak saya.

Bahwa, kami akan melewati Lebaran kali ini tanpa orang tua dan sanak saudara. Alasannya satu, karena pandemi Covid-19. Namun, saya sempat berpikir, jika memaksa pulang, meski kondisi tubuh sehat tidak mengalami gejala Covid-19.

Baca Juga :  Yoko Komitmen Tidak Akan Jual Beli Jabatan
- Advertisement -

Apalagi, sekolah tempat saya dan istri ditugaskan menerapkan sistem kerja atau work from home (WFH) dari rumah. Sehingga kami bisa dengan mudah mengajar peserta didik dari kejahuan dengan memanfaatkan informasi teknologi.

Namun, niat itu kami urungkan. Setelah banyaknya pemberitaan terkait orang tanpa gejala (OTG) yang bisa menjadi pembawa virus atau carrier dan menularkan virus kepada orang lain. Terutama, pada yang lebih rentan seperti lansia.

Sehingga demi kebaikan bersama, saya tak memboyong keluarga kecil saya ke tempat asal kelahiran di Bumi Majapahit. Pertimbangan lain terkait anak kami yang belum genap setahun. Kami khawatir ia rentan terpapar virus selama perjalanan. Meki berat, keputusan ini menjadi pilihan terbaik.

Setidaknya dengan tidak mudik saya bisa ikut ambil peran bersama pemerintah melakukan percepatan penanganan persebaran Covid-19 yang belakangan diketahui angkanya terus meningkat setiap harinya di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah, yang mengumumkan larangan mudik, khususnya bagi ASN. Terhitung mulai Jumat (24/4) lalu hingga Juni mendatang. Semua transportasi darat, laut, maupun udara, dilarang mengangkut penumpang komersial selama periode tersebut.

Baca Juga :  Hikmah di Tengah Ketidakbiasaan

Rasa gundah, kecewa, dan sedih, pasti ada. Karena tahun ini tidak dapat berlebaran di kampung halaman. Terutama, momen sakral sungkem dan nyekar ke makam yang begitu ditunggu-tunggu oleh perantau. Seperti saya ini ketika pulang ke kampung halaman.

Selain itu, momen kumpul bersama teman dan bepergian ke tempat-tempat nostalgia menjadi sangat dinanti ketika Lebaran tiba. Mempertimbangkan banyaknya mudarat jika kami sekeluarga nekat mudik, kami pun mengikhlaskan untuk tidak pulang kampung tahun ini.

Sebagai gantinya kami bisa memanfaatkan teknologi informasi yang ada untuk bertukar kabar dan melepas kangen dengan orang tua, sanak saudara, dan teman-teman satu kampung, melalui video call. Namun, tentunya hal ini akan jauh berbeda saat kita bisa langsung bertemu.

Semoga pandemi ini segera berakhir. Sehingga semua aktivitas kita dapat kembali seperti sedia kala. Dan, untuk semua perantau yang ada di seluruh penjuru negeri seperti saya, semoga kita tetap kuat dan tabah dalam menghadapi situasi ini. 

Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/