alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Gelar Flashmob Wayang Kulit, Keprihatinan Para Dalang di Era Milenial

Dunia pewayangan mulai banyak ditinggalkan generasi milenial. Untuk itu, para pelaku pewayangan pun, harus pintar-pintar menciptakan kemasan untuk mengkampanyekan budaya khas Jawa Timuran itu.

ANAK muda itu, mengayun-ayunkan wayang di tengah area car free day, Alun-Alun Kota Mojokerto. Dengan diiringi musik tari remo, remaja itu melakukan gerakan khas dalang pada umumnya.

Beberapa detik kemudian, seorang pemuda yang lain menirukan gerakan itu. Dengan memegang wayang di tangannya, ia berdiri berada tepat di belakangnya. Dua orang telah melakukan gerakan yang sama.

Tak lama kemudian beraksi, dari berbagai penjuru, turut berbaris rapi. Terhitung, sudah 25 orang. Mereka melakukan gerakan yang sama dengan masing-masing memegang wayang.

Baca Juga :  Nikmati Suasana Jantung Kota

Mereka adalah Paguyuban Ringgit Purwa Jawa Timuran (Parijati). Perkumpulan para dalang dari berbagai daerah ini melakukan gerakan flashmob dan mengkampanyekan dunia pewayangan di area publik. ’’Kita ingin, mengenalkan ke generasi milenial. Biar kenal dengan wayang,’’ ungkap Didik Sasmito Aji, salah satu dalang yang mencetuskan ide kreatifnya tersebut.

Dulu, wayang menjadi salah satu media strategis dalam menyampaikan pesan-pesan moral, pendidikan, hingga ajang melontarkan kritik ke pemerintah. Namun, itu dulu. Kini, anak muda sudah banyak yang mengabaikannya. ’’Bentuk keprihatinan kita. Pemahaman anak muda terhadap wayang terus terkikis,’’ tambah dia.

Dalang asal Desa Gunungan, Kecamatan Dawarblandong ini, mengaku, dewasa ini wayang kian ditinggalkan. Tak sedikit generasi milenial yang sudah melupakan warisan budaya khas Jawa Timuran ini.

Baca Juga :  Peringati Hari Bumi, Siswa SD Ajak Lestarikan Lingkungan lewat Mural

Untuk mengenalkan dunia wayang ke generasi milenial, pertunjukan pun hanya melibatkan dalang muda. Para dalang itu berusia 6 tahun hingga 39 tahun. Mereka berasal dari Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, Gresik, Lamongan.

Flashmob yang dilakukan kali pertamanya di Mojokerto ini, tegas Didik, bukan yang kali terakhir. Saat ini, ia sudah mengonsep pergelaran yang sama dengan jumlah peserta yang jauh lebih besar.

Lokasinya pun, ia melirik Benteng Pancasila, atau mal yang banyak dihinggapi kalangan milenial. ’’Bisa sampai 50 dalang. Kami  sudah berencana ke arah sana. Biar lebih heboh,’’ pungkas dia. (imron arlado)

 

Dunia pewayangan mulai banyak ditinggalkan generasi milenial. Untuk itu, para pelaku pewayangan pun, harus pintar-pintar menciptakan kemasan untuk mengkampanyekan budaya khas Jawa Timuran itu.

ANAK muda itu, mengayun-ayunkan wayang di tengah area car free day, Alun-Alun Kota Mojokerto. Dengan diiringi musik tari remo, remaja itu melakukan gerakan khas dalang pada umumnya.

Beberapa detik kemudian, seorang pemuda yang lain menirukan gerakan itu. Dengan memegang wayang di tangannya, ia berdiri berada tepat di belakangnya. Dua orang telah melakukan gerakan yang sama.

Tak lama kemudian beraksi, dari berbagai penjuru, turut berbaris rapi. Terhitung, sudah 25 orang. Mereka melakukan gerakan yang sama dengan masing-masing memegang wayang.

Baca Juga :  Peringati Hari Bumi, Siswa SD Ajak Lestarikan Lingkungan lewat Mural

Mereka adalah Paguyuban Ringgit Purwa Jawa Timuran (Parijati). Perkumpulan para dalang dari berbagai daerah ini melakukan gerakan flashmob dan mengkampanyekan dunia pewayangan di area publik. ’’Kita ingin, mengenalkan ke generasi milenial. Biar kenal dengan wayang,’’ ungkap Didik Sasmito Aji, salah satu dalang yang mencetuskan ide kreatifnya tersebut.

Dulu, wayang menjadi salah satu media strategis dalam menyampaikan pesan-pesan moral, pendidikan, hingga ajang melontarkan kritik ke pemerintah. Namun, itu dulu. Kini, anak muda sudah banyak yang mengabaikannya. ’’Bentuk keprihatinan kita. Pemahaman anak muda terhadap wayang terus terkikis,’’ tambah dia.

- Advertisement -

Dalang asal Desa Gunungan, Kecamatan Dawarblandong ini, mengaku, dewasa ini wayang kian ditinggalkan. Tak sedikit generasi milenial yang sudah melupakan warisan budaya khas Jawa Timuran ini.

Baca Juga :  Usir Kejenuhan di Jantung Kota

Untuk mengenalkan dunia wayang ke generasi milenial, pertunjukan pun hanya melibatkan dalang muda. Para dalang itu berusia 6 tahun hingga 39 tahun. Mereka berasal dari Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, Gresik, Lamongan.

Flashmob yang dilakukan kali pertamanya di Mojokerto ini, tegas Didik, bukan yang kali terakhir. Saat ini, ia sudah mengonsep pergelaran yang sama dengan jumlah peserta yang jauh lebih besar.

Lokasinya pun, ia melirik Benteng Pancasila, atau mal yang banyak dihinggapi kalangan milenial. ’’Bisa sampai 50 dalang. Kami  sudah berencana ke arah sana. Biar lebih heboh,’’ pungkas dia. (imron arlado)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/