alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Dewan Tolak Dipindah ke Kedundung

SEMENTARA itu, pemindahan RPH dari Cakarayam ke Kedundung juga tidak berjalan mulus. Sempat muncul pertentangan, khususnya dari anggota dewan kota unsur Belanda yang merasa menguasai lahan. Karena lokasinya berimpitan dengan pemakaman leluhurnya. Mereka menilai tidak etis menyandingkan pemakaman yang seharusnya mempunyai suasana damai dengan tempat penyembelihan hewan yang suaranya tragis.

’’Karena di Pulorejo harus sewa, maka pilihannya hanya bisa menggunakan lahan sendiri. Nah, ketika ada aset di dekat kerkhof alias pemakaman Belanda, justru muncul protes anggota dewan dari unsur Belanda,’’ tambah Yuhan.

Namun keberatan mereka tidak menemukan ujungnya. Pemerintah kota pun sudah tidak mampu menyodorkan alternatif lain. Luasan wilayah kota terhitung sempit dengan populasi yang padat sulit mencari lokasi yang tepat.

Baca Juga :  Jujukan Ritual Umat Hindu dari Pulau Dewata

Hingga akhirnya mau tidak mau RPH Cakarayam dipindah paksa ke Kedundung.

Namun, pasar hewan tidak ikut direlokasi. Sehingga, bangunan RPH Cakarayam tidak lagi digunakan. Walau tidak ikut direlokasi, Pasar Hewan Cakarayam pada akhirnya tutup juga. Tidak ada lagi pedangang sapi atau kambing yang datang ke sana. Di pasar hewan cuma dijadikan pangkalan pedagang unggas. Sehingga lebih tepat disebut pasar ayam.

Belum diketahui pula bagaimana akhirnya pasar Pon turut pindah ke sisi selatan RPH Kedundung sampai saat ini. Yang pasti, saat itu sempat ada protes dari pedagang yang tidak mau proses jual beli hewan dan daging itu harus berjalan panjang baik secara jarak maupun waktu. Karena jarak tempuh antara pasar hewan dengan RPH yang terlampau jauh. ’’Pedagang menilai ada ketimpangan. Karena mereka harus membeli hewan di Cakarayam, sementara menyembelihnya di Kedundung. Tapi juga belum diketahui, kapan akhirnya pasar hewan, khususnya kambing, sapi dan kerbau turut berpindah ke Kedundung,’’ pungkasnya. (far/abi)

Baca Juga :  KPU Mojokerto Siapkan Dana Kematian

 

SEMENTARA itu, pemindahan RPH dari Cakarayam ke Kedundung juga tidak berjalan mulus. Sempat muncul pertentangan, khususnya dari anggota dewan kota unsur Belanda yang merasa menguasai lahan. Karena lokasinya berimpitan dengan pemakaman leluhurnya. Mereka menilai tidak etis menyandingkan pemakaman yang seharusnya mempunyai suasana damai dengan tempat penyembelihan hewan yang suaranya tragis.

’’Karena di Pulorejo harus sewa, maka pilihannya hanya bisa menggunakan lahan sendiri. Nah, ketika ada aset di dekat kerkhof alias pemakaman Belanda, justru muncul protes anggota dewan dari unsur Belanda,’’ tambah Yuhan.

Namun keberatan mereka tidak menemukan ujungnya. Pemerintah kota pun sudah tidak mampu menyodorkan alternatif lain. Luasan wilayah kota terhitung sempit dengan populasi yang padat sulit mencari lokasi yang tepat.

Baca Juga :  Butuh Kejelian untuk Hindari Kekurangan dan Kerusakan Logistik

Hingga akhirnya mau tidak mau RPH Cakarayam dipindah paksa ke Kedundung.

Namun, pasar hewan tidak ikut direlokasi. Sehingga, bangunan RPH Cakarayam tidak lagi digunakan. Walau tidak ikut direlokasi, Pasar Hewan Cakarayam pada akhirnya tutup juga. Tidak ada lagi pedangang sapi atau kambing yang datang ke sana. Di pasar hewan cuma dijadikan pangkalan pedagang unggas. Sehingga lebih tepat disebut pasar ayam.

Belum diketahui pula bagaimana akhirnya pasar Pon turut pindah ke sisi selatan RPH Kedundung sampai saat ini. Yang pasti, saat itu sempat ada protes dari pedagang yang tidak mau proses jual beli hewan dan daging itu harus berjalan panjang baik secara jarak maupun waktu. Karena jarak tempuh antara pasar hewan dengan RPH yang terlampau jauh. ’’Pedagang menilai ada ketimpangan. Karena mereka harus membeli hewan di Cakarayam, sementara menyembelihnya di Kedundung. Tapi juga belum diketahui, kapan akhirnya pasar hewan, khususnya kambing, sapi dan kerbau turut berpindah ke Kedundung,’’ pungkasnya. (far/abi)

Baca Juga :  Tas, Kebutuhan atau Sekadar Penampilan?
- Advertisement -

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/