alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

Dulu Penonton Robohkan Tembok, Sekarang Cuma Kemulan Sarung

Hingar bingar seni tradisi semakin tak terdengar lagi. Ludruk sebagai produk kesenian Jawa Timur pun juga kian tertinggal dengan berbagai jenis hiburan milenial dengan bermacam jenis tampilannya. Lantas seperti apa perbedaan ludruk dulu dengan sekarang?

DIGITALISASI ternyata merubah drastis sifat manusia. Hampir jarang dijumpai heterogenitas manusia yang berkumpul dalam satu titik tertentu. Bahkan, untuk saling tegur sapa saja, orang sudah tak lagi bertatap muka.

Cukup dengan mengoperasikan gadget, orang sudah bisa saling komunikasi meski dipisah jarak hingga ribuan kilometer. Fenomena ini pun dinilai turut memengaruhi eksistensi dan nilai sebuah seni dan budaya.

Salah satunya kesenian ludruk yang dianggap hampir punah dimakan zaman. Ketidakmampuan meng-upgrade atau menyesuaikan zaman membuat ludruk kian ditinggalkan penggemarnya. Termasuk pola regenerasi seniman ludruk sendiri yang seringkali terhambat oleh tingginya kebutuhan.

Kenyataan inilah yang semakin sesak dirasakan Ibnu Sulkan, seniman ludruk senior Kota Mojokerto. Cak Sulkan, sapaan akrabnya, mengaku situasi ludruk saat ini jauh dari keriuhan zaman lampau, khususnya di era kejayaannya tahun 1960 sampai 1970-an.

Baca Juga :  Sasar Warkop di Kawasan Perhutani

Sulkan lantas menceritakan, tentang pengalamannya yang sempat menjadi pimpinan grup ludruk tersohor di Jawa Timur, Bintang Majapahit. ’’Dulu ludruk ibarat hiburan paling digemari masyarakat. Sejak tahun 1976, saya sudah keliling Jawa Timur main ludruk sama Cak Bowo dan Cak Asmani,’’ tuturnya.

Ia juga mengaku sempat beberapa kali menggelar pementasan di gedung pertunjukkan hingga ditonton ribuan orang. Tak jarang, penjualan tiket pentasnya ludes dibeli. Tidak hanya masyarakat biasa, para pejabat berdasi pun juga turut memperhatikan lakon yang ia bawakan.

Hal ini diakuinya tak lepas dari sejumlah lakon-lakon nyeleneh yang ia angkat di setiap pertunjukkan digelar. Salah satunya lakon ’’Berandal Lokajaya’’ yang mengangkat kisah kewalian Sunan Kalijaga dan wali-wali lainnya.

’’Pas jadi pimpinan grup Putra Madya, pernah tembok gedung itu roboh karena banyaknya penonton. Dulu memang jarang yang mengangkat cerita-cerita Islami. Tapi, karena background saya yang santri, mungkin banyak sekali atau ayat yang bisa disampaikan. Berandal Lokajaya itu sampai dua seri. Dan diminta pentas di TVRI sampai 21 kali,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Pesona Negeri di Atas Awan

Namun, sejak tahun 1990-an, keriuhan ludruk lambat lain meredup. Hingga menginjak tahun 2000-an, ludruk semakin tak digemari. Khususnya bagi generasi milenial yang kian jauh dari nilai-nilai tradisi.

Ia pun sempat beberapa kali melihat pementasan ludruk di beberapa lokasi, namun nuansanya jauh dari keramaian era zamannya. ’’Sekarang yang nonton paling orang tua pakai sandar japit dan kemulan sarung. Kebanyakan yang lihat paling bakul di pasar,’’ tambahnya.

Sulkan bukannya tidak pernah berupaya meng-upgrade seni ludruk supaya tetap lestari dan dikenal dari generasi ke generasi. Hanya, kesenjangan peradaban memang tidak bisa ditolak. Beberapa kawula muda yang ia ajak satu persatu menjauh karena minimnya sarana dalam menunjukkan eksistensinya.

’’Meskipun ada yang menawari uang Rp 200 juta untuk mendirikan grup, saya menolaknya. Karena pemain dan kru ludruk juga butuh makan. Segitu belum cukup, untuk panjak saja minimal harus mengajak 12 orang, belum kru lainnya,’’ tandasnya.  

Hingar bingar seni tradisi semakin tak terdengar lagi. Ludruk sebagai produk kesenian Jawa Timur pun juga kian tertinggal dengan berbagai jenis hiburan milenial dengan bermacam jenis tampilannya. Lantas seperti apa perbedaan ludruk dulu dengan sekarang?

DIGITALISASI ternyata merubah drastis sifat manusia. Hampir jarang dijumpai heterogenitas manusia yang berkumpul dalam satu titik tertentu. Bahkan, untuk saling tegur sapa saja, orang sudah tak lagi bertatap muka.

Cukup dengan mengoperasikan gadget, orang sudah bisa saling komunikasi meski dipisah jarak hingga ribuan kilometer. Fenomena ini pun dinilai turut memengaruhi eksistensi dan nilai sebuah seni dan budaya.

Salah satunya kesenian ludruk yang dianggap hampir punah dimakan zaman. Ketidakmampuan meng-upgrade atau menyesuaikan zaman membuat ludruk kian ditinggalkan penggemarnya. Termasuk pola regenerasi seniman ludruk sendiri yang seringkali terhambat oleh tingginya kebutuhan.

Kenyataan inilah yang semakin sesak dirasakan Ibnu Sulkan, seniman ludruk senior Kota Mojokerto. Cak Sulkan, sapaan akrabnya, mengaku situasi ludruk saat ini jauh dari keriuhan zaman lampau, khususnya di era kejayaannya tahun 1960 sampai 1970-an.

Baca Juga :  Pesona Negeri di Atas Awan

Sulkan lantas menceritakan, tentang pengalamannya yang sempat menjadi pimpinan grup ludruk tersohor di Jawa Timur, Bintang Majapahit. ’’Dulu ludruk ibarat hiburan paling digemari masyarakat. Sejak tahun 1976, saya sudah keliling Jawa Timur main ludruk sama Cak Bowo dan Cak Asmani,’’ tuturnya.

- Advertisement -

Ia juga mengaku sempat beberapa kali menggelar pementasan di gedung pertunjukkan hingga ditonton ribuan orang. Tak jarang, penjualan tiket pentasnya ludes dibeli. Tidak hanya masyarakat biasa, para pejabat berdasi pun juga turut memperhatikan lakon yang ia bawakan.

Hal ini diakuinya tak lepas dari sejumlah lakon-lakon nyeleneh yang ia angkat di setiap pertunjukkan digelar. Salah satunya lakon ’’Berandal Lokajaya’’ yang mengangkat kisah kewalian Sunan Kalijaga dan wali-wali lainnya.

’’Pas jadi pimpinan grup Putra Madya, pernah tembok gedung itu roboh karena banyaknya penonton. Dulu memang jarang yang mengangkat cerita-cerita Islami. Tapi, karena background saya yang santri, mungkin banyak sekali atau ayat yang bisa disampaikan. Berandal Lokajaya itu sampai dua seri. Dan diminta pentas di TVRI sampai 21 kali,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Sasar Warkop di Kawasan Perhutani

Namun, sejak tahun 1990-an, keriuhan ludruk lambat lain meredup. Hingga menginjak tahun 2000-an, ludruk semakin tak digemari. Khususnya bagi generasi milenial yang kian jauh dari nilai-nilai tradisi.

Ia pun sempat beberapa kali melihat pementasan ludruk di beberapa lokasi, namun nuansanya jauh dari keramaian era zamannya. ’’Sekarang yang nonton paling orang tua pakai sandar japit dan kemulan sarung. Kebanyakan yang lihat paling bakul di pasar,’’ tambahnya.

Sulkan bukannya tidak pernah berupaya meng-upgrade seni ludruk supaya tetap lestari dan dikenal dari generasi ke generasi. Hanya, kesenjangan peradaban memang tidak bisa ditolak. Beberapa kawula muda yang ia ajak satu persatu menjauh karena minimnya sarana dalam menunjukkan eksistensinya.

’’Meskipun ada yang menawari uang Rp 200 juta untuk mendirikan grup, saya menolaknya. Karena pemain dan kru ludruk juga butuh makan. Segitu belum cukup, untuk panjak saja minimal harus mengajak 12 orang, belum kru lainnya,’’ tandasnya.  

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/