alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Teater Batan Krajan, Usung Kearifan Lokal Desa Produsen Bata Majapahit

Ekspresi dan pesan bisa disalurkan melalui media apa pun. Salah satunya melalui aksi panggung. Seperti yang dilakukan komunitas dan sekelompok pemuda Desa Batan Krajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Mereka memilih teater sebagai media penyalur untuk menyampaikan kearifan lokal.

SABTU (3/8), suasana di Desa Batan Krajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, tampak berbeda dari malam-malam sebelumnya. Di sebuah tanah lapang, terdapat enam gubuk rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Suasananya pun cukup redup. Sumber cahaya hanya terpancar dari obor api kecil yang menyala.

Kediaman tersebut seakan mengingatkan tempat tinggal masyarakat tempo dulu. Ya, lokasi itu memang sengaja dijadikan sebagai panggung bagi pementasan teater pemuda setempat dan Komunitas Persada.

Sebuah pentas teater alam itu dibalut dengan judul Batan Krajan. Sebuah seni pertunjukan yang mengulas terkait asal usul Desa Batan Krajan. Dalam pementasannya, berawal dari tanah kamerdekan hadiah dari Wiro Bastam, salah satu senopati di Kerajaan Mojopahit yang sudah mampu membabat alas di wilayah utara Sungai Brantas.

Kemudian, berkembanglah sebuah wilayah yang hampir seluruh warganya membuat batu bata. Hasil produksi itulah yang nantinnya menjadi andalam Kerajaan Majapahit untuk membangun peradaban. Sehingga, terbentuklah perkampungan yang disebut sebagai Batan Krajan.

Baca Juga :  Tuangkan Ekspresi dengan Quotes Motivasi

’’Batan berasal dari kata bata, Krajan itu kerajaan,’’ terang aktor sekaligus penulis naskah teater, Kukun Triyoga. Pada suatu hari, suasana di lingkungan kerajaan sudah mulai mencekam. Penyebabnya adalah karena munculnya persaingan antara dua kubu; Karso dan Barjo.

Keduanya terlibat bisnis pembuatan batu bata yang disetorkan kerajaan. Pemicu konflik karena adanya permainan harga dan keserakahan. Dalam perannya, Karso adalah sosok orang yang rakus akan harta. Sebaliknya, Barjo merupakan pribadi yang adil.

Seiring berjalannya waktu, Karso dipercaya oleh kerajaan mendapatkan tanah bagian sebelah utara. Sementara Barjo mendapat jatah di sebelah selatan. Konflik memanas saat anak buah Karso setiap malam mencuri batu bata milik Barjo.

Hingga akhirnya perseteruan antara kubu Karso dan Barjo terdengar oleh Nyai Pandansari. Kehadiran seorang perempuan berparas cantik dan bijaksana kepercayaan Wiro Bastam itu akhirnya mampu melerai pertikaian.

Setidaknya alur cerita itulah yang dipentaskan oleh 80 aktor dari pemuda Desa Batan krajan bersama Komitas Persada. Mulai dari usia anak-anak hingga dewasa seluruhnya dilibatkan. Aksi panggung tersebut mampu menyedot ratusan penonton yang hadir.

Baca Juga :  Satu Keluarga Terlindas Truk Trailer, Ibu dan Dua Anaknya Tewas

Kukun menyebutkan, naskah tersebut muncul berdasarkan hasil penelusurannya dengan cara menggali folklor atau cerita rakyat desa setempat. Setidaknya, dia menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 bulan untuk menggali terkait sejarah desa di Kecamatan Gedeg itu.

’’Orang sekitar meyakini bahwa sesepuh desa dulu pengerajin bata untuk disetor ke Kerajaan Majapahit,’’ paparnya. Dari hasil explore tersebut, pria berambut gondrong ini akhirnya menulisnya dalam sebuah naskah dengan kurun waktu dua bulan.

Dalam rentang waktu tersebut dia bersama pemuda yang lain menyiapkan properti untuk setting panggung ala zaman dulu. Hingga akhirnya, Sabtu (3/8) malam jerih payah dan gotong royong mereka menuai hasil yang manis.

Kukun menyebutkan, dari cerita teater yang dibawakan dalam pementasan bertujuan untuk mengenalkan dunia teater kepada generasi mileneal. Di sisi lain, dia juga ingin mengangkat kearifan lokal agar tidak terkubur ditelan zaman.

’’Ingin menggali sejarah saja. Karena banyak yang tidak tahu tentang asal usul desa. Juga biar menanamkan cinta pada anak-anak terhadap kerarifan lokal,’’ pungkasnya.

 

 

Ekspresi dan pesan bisa disalurkan melalui media apa pun. Salah satunya melalui aksi panggung. Seperti yang dilakukan komunitas dan sekelompok pemuda Desa Batan Krajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Mereka memilih teater sebagai media penyalur untuk menyampaikan kearifan lokal.

SABTU (3/8), suasana di Desa Batan Krajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, tampak berbeda dari malam-malam sebelumnya. Di sebuah tanah lapang, terdapat enam gubuk rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Suasananya pun cukup redup. Sumber cahaya hanya terpancar dari obor api kecil yang menyala.

Kediaman tersebut seakan mengingatkan tempat tinggal masyarakat tempo dulu. Ya, lokasi itu memang sengaja dijadikan sebagai panggung bagi pementasan teater pemuda setempat dan Komunitas Persada.

Sebuah pentas teater alam itu dibalut dengan judul Batan Krajan. Sebuah seni pertunjukan yang mengulas terkait asal usul Desa Batan Krajan. Dalam pementasannya, berawal dari tanah kamerdekan hadiah dari Wiro Bastam, salah satu senopati di Kerajaan Mojopahit yang sudah mampu membabat alas di wilayah utara Sungai Brantas.

Kemudian, berkembanglah sebuah wilayah yang hampir seluruh warganya membuat batu bata. Hasil produksi itulah yang nantinnya menjadi andalam Kerajaan Majapahit untuk membangun peradaban. Sehingga, terbentuklah perkampungan yang disebut sebagai Batan Krajan.

Baca Juga :  Dicoret KPU, Kandidat Alami Syok

’’Batan berasal dari kata bata, Krajan itu kerajaan,’’ terang aktor sekaligus penulis naskah teater, Kukun Triyoga. Pada suatu hari, suasana di lingkungan kerajaan sudah mulai mencekam. Penyebabnya adalah karena munculnya persaingan antara dua kubu; Karso dan Barjo.

- Advertisement -

Keduanya terlibat bisnis pembuatan batu bata yang disetorkan kerajaan. Pemicu konflik karena adanya permainan harga dan keserakahan. Dalam perannya, Karso adalah sosok orang yang rakus akan harta. Sebaliknya, Barjo merupakan pribadi yang adil.

Seiring berjalannya waktu, Karso dipercaya oleh kerajaan mendapatkan tanah bagian sebelah utara. Sementara Barjo mendapat jatah di sebelah selatan. Konflik memanas saat anak buah Karso setiap malam mencuri batu bata milik Barjo.

Hingga akhirnya perseteruan antara kubu Karso dan Barjo terdengar oleh Nyai Pandansari. Kehadiran seorang perempuan berparas cantik dan bijaksana kepercayaan Wiro Bastam itu akhirnya mampu melerai pertikaian.

Setidaknya alur cerita itulah yang dipentaskan oleh 80 aktor dari pemuda Desa Batan krajan bersama Komitas Persada. Mulai dari usia anak-anak hingga dewasa seluruhnya dilibatkan. Aksi panggung tersebut mampu menyedot ratusan penonton yang hadir.

Baca Juga :  Alif Akhirnya Mendapat Penanganan Medis

Kukun menyebutkan, naskah tersebut muncul berdasarkan hasil penelusurannya dengan cara menggali folklor atau cerita rakyat desa setempat. Setidaknya, dia menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 bulan untuk menggali terkait sejarah desa di Kecamatan Gedeg itu.

’’Orang sekitar meyakini bahwa sesepuh desa dulu pengerajin bata untuk disetor ke Kerajaan Majapahit,’’ paparnya. Dari hasil explore tersebut, pria berambut gondrong ini akhirnya menulisnya dalam sebuah naskah dengan kurun waktu dua bulan.

Dalam rentang waktu tersebut dia bersama pemuda yang lain menyiapkan properti untuk setting panggung ala zaman dulu. Hingga akhirnya, Sabtu (3/8) malam jerih payah dan gotong royong mereka menuai hasil yang manis.

Kukun menyebutkan, dari cerita teater yang dibawakan dalam pementasan bertujuan untuk mengenalkan dunia teater kepada generasi mileneal. Di sisi lain, dia juga ingin mengangkat kearifan lokal agar tidak terkubur ditelan zaman.

’’Ingin menggali sejarah saja. Karena banyak yang tidak tahu tentang asal usul desa. Juga biar menanamkan cinta pada anak-anak terhadap kerarifan lokal,’’ pungkasnya.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/