alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Sulap Vespa Jadi Gerobak, Hadirkan Sensasi Ngopi ala Malioboro

Kebiasaan menggunakan vespa yang kerap dilakukan Dafa Hilmi Zakariah, memunculkan ide tersendiri. Remaja 19 tahun asal Gedeg ini pun terinspirasi membuka usaha unik berjualan kopi menggunakan motornya.

PADA awalnya ide tersebut sempat ditentang pihak keluarga. Namun, Dafa, begitu Dafa Hilmi Zakariah, akrab disapa, teguh pada pendiriannya dan mulai menjalankan keinginannya berjualan kopi.

Setiap pukul 20.00 WIB, dia bersama rekannya Muhammad Rosyid Nurriza, 21, berangkat menuju Jalan Majapahit Kota Mojokerto. Tutupnya pertokoan di pusat kota tersebut malah menjadi pertanda jam buka usaha kopi mereka hingga menjelang subuh.

Penamaan Beaja Coffee sendiri merupakan plesetan dari pelafalan kata ’’biasa’’. Karena pada awalnya memang yang disasar adalah penikmat kopi biasa dari kalangan biasa. Namun, hal tersebut tidak akan mengurangi kualitas kopi yang disajikan oleh kedua pemuda tersebut.

Baca Juga :  Laskar Damarwulan Puncaki Klasemen Sementara

Kenyamanan serta keramahan pelayanan juga menjadi daya tarik di sini. Dalam waktu singkat nama Beaja Coffee semakin melejit karena sensasi ngopi di pinggir jalan dipadu dengan keunikan gerobak yang diusung menggunakan vespa klasik keluaran tahun 1981.

Lain dari yang lain pada intinya. Disamping itu, kemewahan kopi standart kafe manual brewing juga sanggup disajikan di sini. Tentu saja dengan harga yang lebih terjangkau. 

Racikan kopi vietnam Drip serta red velvet menjadi pilihan favorit para pelanggan setia Beaja Coffee. ”Kami ingin semua masyarakat dapat merasakan kopi enak dan mewah tanpa harus menguras kantong,” tutur Dafa. (dwi)  

 

 

Kebiasaan menggunakan vespa yang kerap dilakukan Dafa Hilmi Zakariah, memunculkan ide tersendiri. Remaja 19 tahun asal Gedeg ini pun terinspirasi membuka usaha unik berjualan kopi menggunakan motornya.

PADA awalnya ide tersebut sempat ditentang pihak keluarga. Namun, Dafa, begitu Dafa Hilmi Zakariah, akrab disapa, teguh pada pendiriannya dan mulai menjalankan keinginannya berjualan kopi.

Setiap pukul 20.00 WIB, dia bersama rekannya Muhammad Rosyid Nurriza, 21, berangkat menuju Jalan Majapahit Kota Mojokerto. Tutupnya pertokoan di pusat kota tersebut malah menjadi pertanda jam buka usaha kopi mereka hingga menjelang subuh.

Penamaan Beaja Coffee sendiri merupakan plesetan dari pelafalan kata ’’biasa’’. Karena pada awalnya memang yang disasar adalah penikmat kopi biasa dari kalangan biasa. Namun, hal tersebut tidak akan mengurangi kualitas kopi yang disajikan oleh kedua pemuda tersebut.

Baca Juga :  Rahasia di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi

Kenyamanan serta keramahan pelayanan juga menjadi daya tarik di sini. Dalam waktu singkat nama Beaja Coffee semakin melejit karena sensasi ngopi di pinggir jalan dipadu dengan keunikan gerobak yang diusung menggunakan vespa klasik keluaran tahun 1981.

Lain dari yang lain pada intinya. Disamping itu, kemewahan kopi standart kafe manual brewing juga sanggup disajikan di sini. Tentu saja dengan harga yang lebih terjangkau. 

- Advertisement -

Racikan kopi vietnam Drip serta red velvet menjadi pilihan favorit para pelanggan setia Beaja Coffee. ”Kami ingin semua masyarakat dapat merasakan kopi enak dan mewah tanpa harus menguras kantong,” tutur Dafa. (dwi)  

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/