alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Redi Terinspirasi Aji Santoso, Siap Hancur jika Gagal

MOJOKERTO – Mojokerto tidak hanya mencetak atlet berprestasi tingkat nasional saja. Pelatih tingkat nasional pun mulai bermunculan seiring perkembangan olahraga yang semakin maju. Salah satunya adalah Redi Suprianto, pelatih PSMP yang kini mengantongi lisensi kepelatihan C tingkat AFC (Asia).

Tahun 2010 silam adalah terakhir kalinya dia melakoni karir sebagai pemain sepak bola profesional di kompetisi sepak bola Indonesia. Setelah itu, pria asli Desa/Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ini pun memutuskan untuk gantung sepatu dari lapangan hijau.

Malang melintang dari satu klub ke klub lain telah dia rasakan sejak pertama kali terjun sebagai pesepak bola di edisi terakhir kompetisi Galatama atau akhir tahun 1990-an. Saat itu, Redi merasa karirnya akan bertahan lama dengan banyak berlatih dan pindah klub.

Akan tetapi, tak kurang dari 15 tahun setelah itu, keputusan pensiun dia anggap sebagai jalan terbaik setelah kalah bersaing dengan pemain-pemain muda. Dan, PSIR Rembang adalah pelabuhan terakhirnya setelah berkiprah di banyak klub, baik di pulau Jawa atau luar Jawa. ’’Saya dulu awalnya di Arema terus pindah di Persebaya. Kemudian Persim Maros, dan kembali ke Mojokerto bersama PSMP. Dan, terakhir di PSIR Rembang. Terakhir kali kalau nggak salah antara 2009 sampai 2010,’’ terang Redi kemarin.

Akan tetapi, kesibukannya selepas gantung sepatu nyatanya tak bisa berpisah jauh dari si kulit bundar. Setahun kemudian, dia mencoba peruntungan menjadi seorang pelatih SSB (sekolah sepak bola) di Desa Menanggal, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Turunkan Pejudo Nasional

Keputusan menjadi pelatih dia bulatkan setelah mendapatkan lisensi kepelatihan saat masih aktif menjadi pemain tahun 2002 lalu. Sebagai penggawa Bajul Ijo Persebaya, saat itu dia sudah bisa melihat jika iklim sepak bola Indonesia akan mengalami peralihan yang cukup luar biasa.

Yang paling menonjol adalah gaya bermain di lapangan hijau hingga tercipta perbedaan besar antara sepak bola modern dengan sepak bola kuno. Hal itu yang kemudian dia terapkan di SSB Menanggal. Meski hanya SSB biasa, namun dia mencoba untuk terus menekuni hobi sekaligus kegiatan yang dia jadikan profesi itu.

Untuk menunjang kepelatihannya, pria kelahiran 27 Mei 1978 ini juga menambah ilmu dengan kuliah S-1 di bidang kelolahragaan selama 4 tahun. ’’Meskipun terlambat kuliah, tapi tidak ada salahnya,’’ tambahnya. Namun, ketekunan Redi sebagai pelatih SSB nampaknya didengar Aji Santoso, mantan penggawa Persebaya dan Arema, tak lain adalah seniornya saat menjadi pemain.

Tahun 2014 lalu, dia didapuk coach Aji sebagai satu dari 4 pelatih yang terpilih menangani akademi sepak bola paling tersohor di Indonesia, ASIFA (Aji Santoso Indonesian Football Academy). Akademi tersebut adalah milik Aji Santoso yang berpusat di Malang. ’’Inspirasi saya memang coach Aji yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Tawarannya mungkin karena dia tahu saya juga melatih klub dan sudah mampu secara akademik,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Jamal Bantah Ada Pengaturan Skor dalam Penalti Janggal

Tiga tahun bersama ASIFA, tawaran menekuni klub profesional pun mulai berdatangan. Tahun 2014, dia sempat menangani tim U-17 PSMP untuk berlaga di Liga Remaja. Dua tahun berselang, tawaran sebagai pelatih kepala pun sampai ditangannya saat PSMP berlaga di ISC B, kompetisi pengganti divisi utama yang dihentikan pemerintah.

Di waktu bersamaan, dia tengah mengambil lisensi kepelatihan C AFC di Sawangan Depok. Bak gayung bersambut, tawaran itupun disanggupi, meski tanpa target yang dibebankan. ’’Saat itu Pak Firman (Firman Effendi, Red) langsung menawari saya, dan saya sanggupi meskipun baru pertama kali menangani tim profesional,’’ tuturnya.

Meski The Lasmojo terseok-seok di papan bawah, namun manajemen memandang progress Redi dalam melatih tim cukup baik. Hingga akhirnya tantangan yang sebenarnya datang saat PSSI menggulirkan kompetisi Liga 2, April lalu. Hanya saja, tantangan kali ini lebih berat dengan target mampu lolos ke babak 16 besar yang dibebankan sejak awal.

Hingga pertaruhan gengsi tak dapat dihindari. ’’Jika PSMP gagal lolos ke 16 besar, pasti karir saya sebagai pelatih juga akan hancur. Itu sudah konsekuensi dan tetap saya ambil,’’ tandasnya. Namun, setelah sukses mengantarkan PSMP menembus babak 16 besar, Redi mengaku belum puas. Sebab, target kembali dibebankan manajemen saat PSMP tengah bertarung untuk bisa lolos di babak 8 besar Liga 2.

MOJOKERTO – Mojokerto tidak hanya mencetak atlet berprestasi tingkat nasional saja. Pelatih tingkat nasional pun mulai bermunculan seiring perkembangan olahraga yang semakin maju. Salah satunya adalah Redi Suprianto, pelatih PSMP yang kini mengantongi lisensi kepelatihan C tingkat AFC (Asia).

Tahun 2010 silam adalah terakhir kalinya dia melakoni karir sebagai pemain sepak bola profesional di kompetisi sepak bola Indonesia. Setelah itu, pria asli Desa/Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ini pun memutuskan untuk gantung sepatu dari lapangan hijau.

Malang melintang dari satu klub ke klub lain telah dia rasakan sejak pertama kali terjun sebagai pesepak bola di edisi terakhir kompetisi Galatama atau akhir tahun 1990-an. Saat itu, Redi merasa karirnya akan bertahan lama dengan banyak berlatih dan pindah klub.

Akan tetapi, tak kurang dari 15 tahun setelah itu, keputusan pensiun dia anggap sebagai jalan terbaik setelah kalah bersaing dengan pemain-pemain muda. Dan, PSIR Rembang adalah pelabuhan terakhirnya setelah berkiprah di banyak klub, baik di pulau Jawa atau luar Jawa. ’’Saya dulu awalnya di Arema terus pindah di Persebaya. Kemudian Persim Maros, dan kembali ke Mojokerto bersama PSMP. Dan, terakhir di PSIR Rembang. Terakhir kali kalau nggak salah antara 2009 sampai 2010,’’ terang Redi kemarin.

- Advertisement -

Akan tetapi, kesibukannya selepas gantung sepatu nyatanya tak bisa berpisah jauh dari si kulit bundar. Setahun kemudian, dia mencoba peruntungan menjadi seorang pelatih SSB (sekolah sepak bola) di Desa Menanggal, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Pung Bongkar Kriteria Pendamping

Keputusan menjadi pelatih dia bulatkan setelah mendapatkan lisensi kepelatihan saat masih aktif menjadi pemain tahun 2002 lalu. Sebagai penggawa Bajul Ijo Persebaya, saat itu dia sudah bisa melihat jika iklim sepak bola Indonesia akan mengalami peralihan yang cukup luar biasa.

Yang paling menonjol adalah gaya bermain di lapangan hijau hingga tercipta perbedaan besar antara sepak bola modern dengan sepak bola kuno. Hal itu yang kemudian dia terapkan di SSB Menanggal. Meski hanya SSB biasa, namun dia mencoba untuk terus menekuni hobi sekaligus kegiatan yang dia jadikan profesi itu.

Untuk menunjang kepelatihannya, pria kelahiran 27 Mei 1978 ini juga menambah ilmu dengan kuliah S-1 di bidang kelolahragaan selama 4 tahun. ’’Meskipun terlambat kuliah, tapi tidak ada salahnya,’’ tambahnya. Namun, ketekunan Redi sebagai pelatih SSB nampaknya didengar Aji Santoso, mantan penggawa Persebaya dan Arema, tak lain adalah seniornya saat menjadi pemain.

Tahun 2014 lalu, dia didapuk coach Aji sebagai satu dari 4 pelatih yang terpilih menangani akademi sepak bola paling tersohor di Indonesia, ASIFA (Aji Santoso Indonesian Football Academy). Akademi tersebut adalah milik Aji Santoso yang berpusat di Malang. ’’Inspirasi saya memang coach Aji yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Tawarannya mungkin karena dia tahu saya juga melatih klub dan sudah mampu secara akademik,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Ruwat Budaya dan Cermin Kebhinnekaan

Tiga tahun bersama ASIFA, tawaran menekuni klub profesional pun mulai berdatangan. Tahun 2014, dia sempat menangani tim U-17 PSMP untuk berlaga di Liga Remaja. Dua tahun berselang, tawaran sebagai pelatih kepala pun sampai ditangannya saat PSMP berlaga di ISC B, kompetisi pengganti divisi utama yang dihentikan pemerintah.

Di waktu bersamaan, dia tengah mengambil lisensi kepelatihan C AFC di Sawangan Depok. Bak gayung bersambut, tawaran itupun disanggupi, meski tanpa target yang dibebankan. ’’Saat itu Pak Firman (Firman Effendi, Red) langsung menawari saya, dan saya sanggupi meskipun baru pertama kali menangani tim profesional,’’ tuturnya.

Meski The Lasmojo terseok-seok di papan bawah, namun manajemen memandang progress Redi dalam melatih tim cukup baik. Hingga akhirnya tantangan yang sebenarnya datang saat PSSI menggulirkan kompetisi Liga 2, April lalu. Hanya saja, tantangan kali ini lebih berat dengan target mampu lolos ke babak 16 besar yang dibebankan sejak awal.

Hingga pertaruhan gengsi tak dapat dihindari. ’’Jika PSMP gagal lolos ke 16 besar, pasti karir saya sebagai pelatih juga akan hancur. Itu sudah konsekuensi dan tetap saya ambil,’’ tandasnya. Namun, setelah sukses mengantarkan PSMP menembus babak 16 besar, Redi mengaku belum puas. Sebab, target kembali dibebankan manajemen saat PSMP tengah bertarung untuk bisa lolos di babak 8 besar Liga 2.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/