alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Cukup Telepon Keluarga untuk Pesan Nasi Bebek

RUANG isolasi khusus Covid-19 di RSUD Prof dr Soekandar rupanya tidak seperti yang banyak dibanyangkan orang awam. Pasalnya, pasien masih bisa melakukan berbagai aktivitas layaknya di rumah.

Baik bercengkrama, beribadah, beristirahat, maupun makan dengan menu kesukaannya. RSUD Prof dr Soekandar Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, menjadi salah satu rumah sakit yang ditunjuk sebagai rujukan pasien Covid-19.

Sejak pertama kali menerima pasien dalam pengawasan (PDP) 4 Maret lalu, ruang isolasi telah beberapa kali di-upgrade untuk menambah kapasitas. Itu seiring penyebaran virus korona yang grafiknya cenderung kian meningkat.

Setidaknya, hingga saat ini rumah sakit pelat merah itu masih merawat 15 pasien di ruang isolasi. Empat orang di antaranya telah dinyatakan terkonfirmasi positif virus Covid-19, sementara 11 orang lainnya berstatus PDP.

Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19 RSUD Prof dr Soekandar dr Gigih Setijawan, mengatakan, kondisi kesehatan pasien di ruang isolasi Covid-19 dalam keadaan baik. Semuanya hampir tidak mengalami gejala klinis berat, hanya tinggal menunggu hasil uji swab.

’’Rata-rata dalam keadaan baik,’’ tandasnya, kemarin. Jika hasil uji melalui metode polymerase chain reaction (PCR) negatif, maka para pasien bisa kembali berkumpul bersama keluarga.

Baca Juga :  Airlangga Sebut Momen Mudik Idul Fitri Menjaga Perekonomian Masyarakat

Namun, sambil menunggu hasil tersebut, pasien masih harus menjalani masa isolasi. Sedangkan masa isolasi tidak sebentar. Bahkan, ada pasien yang telah melewati masa inkubasi virus SARS-CoV-2 selama 14 hari.

Untuk itu, berbagai cara dilakukan untuk mengusir penat di dalam ruang khusus tersebut. Gigih menyebut, ruang isolasi Covid-19 sebenarnya tak jauh berbeda dengan ruang rawat inap pada umumnya.

Pasalnya, tidak ada perlakuan khusus bagi pasien. Hanya saja, para tenaga medis yang bertugas wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Namun, seiring adanya aturan pembatasan penjenguk di rumah sakit, pasien di ruang isolasi lebih banyak menghubungi keluarga menggunakan handphone (HP). Sebab, pasien dibebaskan untuk menggunakan alat komunikasi atau gadget.

’’Ada yang hubungi keluarga lewat video call, telepon, maupun SMS,’’ ujarnya. Dokter spesialis paru ini menyebutkan, ruang isolasi juga tidak seseram yang dibayangkan banyak orang. Sebab, di ruang khusus perawatan pasien terpapar Covid-19 itu, pasien masih tetap bisa melakukan aktivitas seperti di rumah.

Selain itu, sesama pasien juga masih bisa saling bercengkrama satu sama lain. ’’Kebetulan ada suami-istri yang sama-sama positif (Covid-19) yang juga dalam satu ruangan. Ada juga yang satu ruang dengan temannya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Getol Gandeng Stakeholder

Di sisi lain, di sejumlah kamar di ruang isolasi juga telah terpasang televisi sebagai media hiburan dan informasi selama menjalani perawatan. Tak hanya antarpasien, petugas medis pun tak jarang menyempatkan waktu untuk berinteraksi dengan PDP maupun pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Itu dilakukan untuk memberi support kepada pasien maupun mengusir lelah bagi tenaga medis yang seharian bertugas di ruang isolasi. ’’Ya sewajarnya. Kadang kita ngobrol-ngobrol nyantai walaupun kita pakai APD,’’ imbuh warga asal Kabupaten Jombang ini.

Bahkan, selama puasa ini, pasien juga masih bisa berbuka dengan menu favoritnya. Meski belum boleh dijenguk, tetapi keluarga masih bisa menitipkan bingkisan makanan kepada petugas rumah sakit untuk diberikan kepada pasien di ruang isolasi.

’’Mereka kayak tinggal di hotel. Karena tinggal telepon keluarga, bisa pesan nasi bebek. Tidak ada yang beban, semuanya dijalani dengan santai,’’ celetuk Gigih. (abi)

 

RUANG isolasi khusus Covid-19 di RSUD Prof dr Soekandar rupanya tidak seperti yang banyak dibanyangkan orang awam. Pasalnya, pasien masih bisa melakukan berbagai aktivitas layaknya di rumah.

Baik bercengkrama, beribadah, beristirahat, maupun makan dengan menu kesukaannya. RSUD Prof dr Soekandar Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, menjadi salah satu rumah sakit yang ditunjuk sebagai rujukan pasien Covid-19.

Sejak pertama kali menerima pasien dalam pengawasan (PDP) 4 Maret lalu, ruang isolasi telah beberapa kali di-upgrade untuk menambah kapasitas. Itu seiring penyebaran virus korona yang grafiknya cenderung kian meningkat.

Setidaknya, hingga saat ini rumah sakit pelat merah itu masih merawat 15 pasien di ruang isolasi. Empat orang di antaranya telah dinyatakan terkonfirmasi positif virus Covid-19, sementara 11 orang lainnya berstatus PDP.

Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19 RSUD Prof dr Soekandar dr Gigih Setijawan, mengatakan, kondisi kesehatan pasien di ruang isolasi Covid-19 dalam keadaan baik. Semuanya hampir tidak mengalami gejala klinis berat, hanya tinggal menunggu hasil uji swab.

’’Rata-rata dalam keadaan baik,’’ tandasnya, kemarin. Jika hasil uji melalui metode polymerase chain reaction (PCR) negatif, maka para pasien bisa kembali berkumpul bersama keluarga.

Baca Juga :  RSUD Prof dr Soekandar: Normal Baru, Jangan Takut ke Rumah Sakit
- Advertisement -

Namun, sambil menunggu hasil tersebut, pasien masih harus menjalani masa isolasi. Sedangkan masa isolasi tidak sebentar. Bahkan, ada pasien yang telah melewati masa inkubasi virus SARS-CoV-2 selama 14 hari.

Untuk itu, berbagai cara dilakukan untuk mengusir penat di dalam ruang khusus tersebut. Gigih menyebut, ruang isolasi Covid-19 sebenarnya tak jauh berbeda dengan ruang rawat inap pada umumnya.

Pasalnya, tidak ada perlakuan khusus bagi pasien. Hanya saja, para tenaga medis yang bertugas wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Namun, seiring adanya aturan pembatasan penjenguk di rumah sakit, pasien di ruang isolasi lebih banyak menghubungi keluarga menggunakan handphone (HP). Sebab, pasien dibebaskan untuk menggunakan alat komunikasi atau gadget.

’’Ada yang hubungi keluarga lewat video call, telepon, maupun SMS,’’ ujarnya. Dokter spesialis paru ini menyebutkan, ruang isolasi juga tidak seseram yang dibayangkan banyak orang. Sebab, di ruang khusus perawatan pasien terpapar Covid-19 itu, pasien masih tetap bisa melakukan aktivitas seperti di rumah.

Selain itu, sesama pasien juga masih bisa saling bercengkrama satu sama lain. ’’Kebetulan ada suami-istri yang sama-sama positif (Covid-19) yang juga dalam satu ruangan. Ada juga yang satu ruang dengan temannya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Kesenian Bantengan Angkat Cerita Geger Alas Purwo

Di sisi lain, di sejumlah kamar di ruang isolasi juga telah terpasang televisi sebagai media hiburan dan informasi selama menjalani perawatan. Tak hanya antarpasien, petugas medis pun tak jarang menyempatkan waktu untuk berinteraksi dengan PDP maupun pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Itu dilakukan untuk memberi support kepada pasien maupun mengusir lelah bagi tenaga medis yang seharian bertugas di ruang isolasi. ’’Ya sewajarnya. Kadang kita ngobrol-ngobrol nyantai walaupun kita pakai APD,’’ imbuh warga asal Kabupaten Jombang ini.

Bahkan, selama puasa ini, pasien juga masih bisa berbuka dengan menu favoritnya. Meski belum boleh dijenguk, tetapi keluarga masih bisa menitipkan bingkisan makanan kepada petugas rumah sakit untuk diberikan kepada pasien di ruang isolasi.

’’Mereka kayak tinggal di hotel. Karena tinggal telepon keluarga, bisa pesan nasi bebek. Tidak ada yang beban, semuanya dijalani dengan santai,’’ celetuk Gigih. (abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Peserta Antusias Serap Ilmu Baru

Racikan Kafein dari Negeri Para Nguyen

Keindahan Cahaya

Artikel Terbaru


/