alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Rayahan Jumat Legi, Siasat Kuasai Barang Asing

Menyerahnya penjajah Belanda tidak lantas membuat warga bersuka cita. Sebab, tidak lama setelah tunduknya kolonial, pasukan Jepang mengambil alih menduduki Tanah Air.

Pada awal kedatangan pasukan tentara Nippon di Mojokerto, mereka memiliki siasat licik demi mendapatkan barang-barang kebutuhan. Rakyat disuruh menjarah barang milik asing yang ujung-ujungnya diminta kembali oleh Jepang. Peristiwa itu dikenal dengan Rayahan Jumat legi.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, Jepang menginjakkan kaki pertama kali di Mojokerto pada awal Maret 1942. Sebelumnya, tentara Nippon telah berhasil menguasai Kota Santri, Jombang setelah memenangkan pertempuran dengan Belanda di Kertosono. ”Saat itu, suasana di Mojokerto terlihat sibuk karena menanti giliran kedatangan Jepang,” terangnya.

Tepat pada 6 Maret 1942, sejak pagi, pasukan serdadu Hindia Belanda atau KNIL di Mojokerto berkumpul di sejumlah titik. Salah satunya di Jalan Stasiun atau kini berganti nama menjadi Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto. Menurutnya, pasukan kolonial tersebut hendak meninggalkan Mojokerto menggunakan moda transportasi kereta api. Kepergian serdadu Belanda itu tak lain demi mengantisipasi serangan Jepang.

Baca Juga :  Handphone Disita Ibu, Disanksi Menggambar Vignette

Terbukti, Kota Onde-Onde kemudian digemparkan dengan serangan udara oleh pesawat dari tentara Negeri Matahari Terbit. ”Pesawat menuju ke arah markas detasemen KNIL Mojokerto berada,” paparnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, meski sempat mendapat serangan senapan dari serdadu Belanda, namun upaya itu tak menghentikan pesawat Jepang. Beberapa tempat menjadi luluh lantak akibat menjadi sasaran bom dari udara.

Sementara di jalur darat, sejumlah truk militer dengan tanda bendera Hinomaru dilengkapi lingkaran merah di tengahnya merangsek masuk ke tengah kota. Yuhan memaparkan, di dalam truk tersebut terdapat personel Jepang. ”Tidak ada orang yang berani keluar dari  rumah. Hampir semua kediaman di kawasan elite Kota Mojokerto tertutup rapat,” paparnya.

Yuhan menjelaskan, ketika berhasil menginjakkan kaki di Mojokerto, serdadu Jepang kemudian menghampiri sejumlah rumah untuk mendata penghuninya. Saat matahari terbenam, Kota Mojokerto telah sepenuhnya jatuh di bawah kendali tentara Jepang.

Baca Juga :  Tan Malaka Ditangkap di Stasiun Besar Mojokerto

Menurutnya, saat itu, Jepang hendak bermalam di Mojokerto untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Surabaya. Beberapa serdadu memilih bersiaga di pelataran rumah warga. Tidak sedikit pula yang memaksa menginap di dalam rumah. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, saat menduduki Kota Onde-Onde, Jepang membebaskan rakyat untuk menjarah barang milik asing.

Kala itu, kota kecil bentukan pemerintah Hindia-Belanda memang banyak warga asing yang tinggal. Baik dari warga Eropa maupun Asia. Perintah yang dikeluarkan serdadu Nippon itu pun segera menyebar luas. Hingga akhirnya, suasana Kota Mojokerto terlihat kacau karena terjadi penjarahan besar-besaran pada hari berikutnya, 7 Maret 1942.

”Karena perintah menjarah itu dikeluarkan pada hari Jumat Legi (kalender Jawa), maka peristiwa itu dinamakan Rayahan Jumat Legi,” tandasnya.

Menyerahnya penjajah Belanda tidak lantas membuat warga bersuka cita. Sebab, tidak lama setelah tunduknya kolonial, pasukan Jepang mengambil alih menduduki Tanah Air.

Pada awal kedatangan pasukan tentara Nippon di Mojokerto, mereka memiliki siasat licik demi mendapatkan barang-barang kebutuhan. Rakyat disuruh menjarah barang milik asing yang ujung-ujungnya diminta kembali oleh Jepang. Peristiwa itu dikenal dengan Rayahan Jumat legi.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, Jepang menginjakkan kaki pertama kali di Mojokerto pada awal Maret 1942. Sebelumnya, tentara Nippon telah berhasil menguasai Kota Santri, Jombang setelah memenangkan pertempuran dengan Belanda di Kertosono. ”Saat itu, suasana di Mojokerto terlihat sibuk karena menanti giliran kedatangan Jepang,” terangnya.

Tepat pada 6 Maret 1942, sejak pagi, pasukan serdadu Hindia Belanda atau KNIL di Mojokerto berkumpul di sejumlah titik. Salah satunya di Jalan Stasiun atau kini berganti nama menjadi Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto. Menurutnya, pasukan kolonial tersebut hendak meninggalkan Mojokerto menggunakan moda transportasi kereta api. Kepergian serdadu Belanda itu tak lain demi mengantisipasi serangan Jepang.

Baca Juga :  Tiket Lebaran Dijual sejak H-90

Terbukti, Kota Onde-Onde kemudian digemparkan dengan serangan udara oleh pesawat dari tentara Negeri Matahari Terbit. ”Pesawat menuju ke arah markas detasemen KNIL Mojokerto berada,” paparnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, meski sempat mendapat serangan senapan dari serdadu Belanda, namun upaya itu tak menghentikan pesawat Jepang. Beberapa tempat menjadi luluh lantak akibat menjadi sasaran bom dari udara.

Sementara di jalur darat, sejumlah truk militer dengan tanda bendera Hinomaru dilengkapi lingkaran merah di tengahnya merangsek masuk ke tengah kota. Yuhan memaparkan, di dalam truk tersebut terdapat personel Jepang. ”Tidak ada orang yang berani keluar dari  rumah. Hampir semua kediaman di kawasan elite Kota Mojokerto tertutup rapat,” paparnya.

- Advertisement -

Yuhan menjelaskan, ketika berhasil menginjakkan kaki di Mojokerto, serdadu Jepang kemudian menghampiri sejumlah rumah untuk mendata penghuninya. Saat matahari terbenam, Kota Mojokerto telah sepenuhnya jatuh di bawah kendali tentara Jepang.

Baca Juga :  Menko Airlangga Buka Peluang Kolaborasi dengan International Energy Agency

Menurutnya, saat itu, Jepang hendak bermalam di Mojokerto untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Surabaya. Beberapa serdadu memilih bersiaga di pelataran rumah warga. Tidak sedikit pula yang memaksa menginap di dalam rumah. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, saat menduduki Kota Onde-Onde, Jepang membebaskan rakyat untuk menjarah barang milik asing.

Kala itu, kota kecil bentukan pemerintah Hindia-Belanda memang banyak warga asing yang tinggal. Baik dari warga Eropa maupun Asia. Perintah yang dikeluarkan serdadu Nippon itu pun segera menyebar luas. Hingga akhirnya, suasana Kota Mojokerto terlihat kacau karena terjadi penjarahan besar-besaran pada hari berikutnya, 7 Maret 1942.

”Karena perintah menjarah itu dikeluarkan pada hari Jumat Legi (kalender Jawa), maka peristiwa itu dinamakan Rayahan Jumat Legi,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/