alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Berawal dari Hobi, Tembus Pasar Antarpulau

Sepatu high heels dari rajutan dewasa ini cukup digandrungi kalangan muda. Selain bernilai seni, juga elegan saat dipakai hangout. Peluang menjanjikan ini diambil Muslikah 41, warga Kalimati, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Magersari untuk meraup rupiah.

SINTIYA SAFIRA, MAGERSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto

DITEMUI di rumahnya, perempuan berhijab itu sedang membuat kerajinan high heels. Jemari tangannya terlihat sudah cukup terlatih membuat kerajinan dari kain rajut.

Ibu tiga anak ini mengaku sudah memulai bisnisnya sejak 2016 silam. Dia diajak salah satu temannya untuk membuat high heels dari benang rajut. Berawal dari hobi merajut sejak kecil yang diwarisi sang ibu, membuatnya tak asing lagi dengan kerajinan ini. Dia pun mengaku tak kesulitan. ’’Ternyata salah satu teman saya tertarik dengan hasil kerajinan saya, dan waktu itu dibeli Rp 250 ribu. Katanya nyaman dan elegan saat dipakai hangout,’’ ungkapnya.

Bak gayung bersambut, dia akhirnya membuatnya terinspirasi ingin membuka bisnis sepatu rajut hingga akhirnya kebanjiran orderan. Dengan modal Rp 5 juta, Muslikah berhasil menyelesaikan 40 pasang sepatu high heels dengan berbagai model sesuai permintaan konsumennya.

Baca Juga :  Terkendala Lapangan, Tim Sepak Bola Gagal Gelar Uji Coba

Kian kemari, kerajinan tangannya itu kian digandrungi kalangan muda. Peluang itu mengharuskan dia mengembangkan bisnisnya dengan membuat banyak inovasi. Meliputi; tas, dompet, baju, sepatu kets, ikat pinggang dan topi. ’’Tetapi yang paling diminati tetap high heels dan sepatu kets, tidak norak, mengikuti perkembangan kebutuhan anak muda sekarang,’’ ujarnya.

Per hari dia bisa membuat satu pasang satu produk. Bukan hal mudah mengembangkan bisnis rajutan, harus dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam pengerjaannya. Termasuk mood juga harus baik. Sebab, mood akan mempengaruhi hasil karyanya.

Untuk menjaga mood-nya selalu baik, Muslikah mensiasatinya dengan mengerjakan kerajinan yang mudah seperti dompet. ’’Karena jika mood kita kurang baik hasilnya akan jelek,’’ tuturnya.

Tiap pembuatan satu pasang high heels, dia butuh dua gulung benang rajut. Sebaliknya untuk dompet dan tas menghabiskan satu gulung benang rajut. Satu pasang sepatu high heels dibandrol Rp 350 ribu. Sedangkan dompet dijual Rp 35 ribu dan tas Rp 95 ribu. ’’Kalau baju biasanya Rp 150 ribu, tergantung permintaan konsumen mau pesen seperti apa,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Arak 14 Ancak Hasil Bumi, Dibentuk Pesawat Tempur hingga Masjid

Berbagai cara dilakukan Muslikah agar produknya laris. Salah satunya dia biasanya memasarkan hasil poduksinya lewat sosial media seperti Instagram dan Facebook. Alhasil, barang dagangannya pun sampai menembus kebeberapa daerah. Di antaranya, Papua, Ternate, Kalimantan, Sumatra, Jakarta, dan Bandung. Sejauh ini sedikitnya ada sekitar 50 pekerja yang digandengnya jika orderan banyak. Keuntungan yang didapat pun bisa tembus Rp 6 juta per bulan.

Hanya saja, semenjak Covid-19 merebak dua tahun terakhir ini membuat Muslikah mengalami penurunan omset hingga diangka Rp 2 juta. ’’Walaupun penghasilan dari bisnis saya turun, saya tetap mengerjakannya demi menutupi kebutuhan rumah,’’ ungkapnya.(fen)

Sepatu high heels dari rajutan dewasa ini cukup digandrungi kalangan muda. Selain bernilai seni, juga elegan saat dipakai hangout. Peluang menjanjikan ini diambil Muslikah 41, warga Kalimati, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Magersari untuk meraup rupiah.

SINTIYA SAFIRA, MAGERSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto

DITEMUI di rumahnya, perempuan berhijab itu sedang membuat kerajinan high heels. Jemari tangannya terlihat sudah cukup terlatih membuat kerajinan dari kain rajut.

Ibu tiga anak ini mengaku sudah memulai bisnisnya sejak 2016 silam. Dia diajak salah satu temannya untuk membuat high heels dari benang rajut. Berawal dari hobi merajut sejak kecil yang diwarisi sang ibu, membuatnya tak asing lagi dengan kerajinan ini. Dia pun mengaku tak kesulitan. ’’Ternyata salah satu teman saya tertarik dengan hasil kerajinan saya, dan waktu itu dibeli Rp 250 ribu. Katanya nyaman dan elegan saat dipakai hangout,’’ ungkapnya.

Bak gayung bersambut, dia akhirnya membuatnya terinspirasi ingin membuka bisnis sepatu rajut hingga akhirnya kebanjiran orderan. Dengan modal Rp 5 juta, Muslikah berhasil menyelesaikan 40 pasang sepatu high heels dengan berbagai model sesuai permintaan konsumennya.

Baca Juga :  Kerap Bersua, Paslon Pilwali pun Gemar Wefie

Kian kemari, kerajinan tangannya itu kian digandrungi kalangan muda. Peluang itu mengharuskan dia mengembangkan bisnisnya dengan membuat banyak inovasi. Meliputi; tas, dompet, baju, sepatu kets, ikat pinggang dan topi. ’’Tetapi yang paling diminati tetap high heels dan sepatu kets, tidak norak, mengikuti perkembangan kebutuhan anak muda sekarang,’’ ujarnya.

- Advertisement -

Per hari dia bisa membuat satu pasang satu produk. Bukan hal mudah mengembangkan bisnis rajutan, harus dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam pengerjaannya. Termasuk mood juga harus baik. Sebab, mood akan mempengaruhi hasil karyanya.

Untuk menjaga mood-nya selalu baik, Muslikah mensiasatinya dengan mengerjakan kerajinan yang mudah seperti dompet. ’’Karena jika mood kita kurang baik hasilnya akan jelek,’’ tuturnya.

Tiap pembuatan satu pasang high heels, dia butuh dua gulung benang rajut. Sebaliknya untuk dompet dan tas menghabiskan satu gulung benang rajut. Satu pasang sepatu high heels dibandrol Rp 350 ribu. Sedangkan dompet dijual Rp 35 ribu dan tas Rp 95 ribu. ’’Kalau baju biasanya Rp 150 ribu, tergantung permintaan konsumen mau pesen seperti apa,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Ikfina-Barra Optimis Hanya Lawan Independen

Berbagai cara dilakukan Muslikah agar produknya laris. Salah satunya dia biasanya memasarkan hasil poduksinya lewat sosial media seperti Instagram dan Facebook. Alhasil, barang dagangannya pun sampai menembus kebeberapa daerah. Di antaranya, Papua, Ternate, Kalimantan, Sumatra, Jakarta, dan Bandung. Sejauh ini sedikitnya ada sekitar 50 pekerja yang digandengnya jika orderan banyak. Keuntungan yang didapat pun bisa tembus Rp 6 juta per bulan.

Hanya saja, semenjak Covid-19 merebak dua tahun terakhir ini membuat Muslikah mengalami penurunan omset hingga diangka Rp 2 juta. ’’Walaupun penghasilan dari bisnis saya turun, saya tetap mengerjakannya demi menutupi kebutuhan rumah,’’ ungkapnya.(fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/