alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Tokoh Wartawan Dirikan Perusahaan Media Cetak

SETIAP 9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Peringatan ini bertepatan dengan berdirinya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 1946 silam. Namun, geliat jurnalistik sebenarnya sudah ada sejak era pemerintahan kolonial.

Di sejumlah wilayah, terdapat media massa lokal yang menjadi corong gerakan perjuangan. Mojokerto juga menjadi salah satu daerah yang memiliki peranan sejarah dalam lahirnya dunia pers. Karena, di masa prakemerdekaan pernah berdiri kantor redaksi dan percetakan media surat kabar.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, produk jusnalistik yang tercacat pernah terbit di Mojokerto adalah koran Kemadjoean Hindia. Media cetak tersebut resmi didirikan pada Januari 1923. ”Kemadjoean Hindia saat itu merupakan koran baru yang terbit dari Mojokerto,” ucapnya.

Diperkirakan, dapur redaksi Kemadjoean Hindia berkantor di wilayah Kota Mojokerto. Berdirinya perusahaan surat kabar lokal tersebut tidak lepas dari peran Raden Panji Soeroso. Tokoh pergerakan yang berdomisili di Mojokerto itu kemudian didapuk menjadi pemimpin redaksi (pemred).

Baca Juga :  Masih Membandel, Pemasang APK Sesuai Selera Dipreteli

Dalam kegiatan jurnalistik, Soeroso dibantu tokoh pers nasional R.M Bintarti sebagai redaktur pelaksana (redpel). Pria yang akrab disapa Yuhan ini menmaparkan, tidak butuh waktu lama bagi koran Kemadjoean Hindia untuk bisa diterima pembaca. Bahkan, surat kabar yang awalnya terbit tiap pekan itu mampu bertransformasi menjadi media cetak harian. ”Kemadjoean Hindia mengalami kemajuan di awal penerbitannya di Mojokerto,” ujar Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Bahkan, ulas dia, media Kemadjoean Hindia lalu melebarkan sayap dengan menggandeng Ong Lin Giok. Seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Mojokerto itu dirangkul untuk membentuk kongsi usaha. Sehingga, kolaborasi antara insan pers bumiputera dan pengusaha Tionghoa tersebut berhasil mendirikan perusahaan percetakan yang diberi nama Indische Snelpersdrukkeri.

Baca Juga :  Bawaslu Tunda Bimtek dan MoU

Perusahaan ini, imbuh Yuhan, yang menyokong penerbitan koran Kemadjoean Hindia. Namun, masa keemasan Kemadjoan Hindia di Mojokerto tak berlangsung lama. Karena seluruh kegiatan jusnalistik maupun percetakan diboyong ke Surabaya di tahun 1924. Di Kota Pahlawan, surat kabar tetap diterbitkan dengan label yang sama.

Disebutkan Yuhan, salah satu alasan pemindahan kantor Kemadjoean Hindia karena kesibukan masing-masing pengelola. Itu menyusul terpilihnya Soeroso sebagai anggota volksraad atau dewan rakyat yang memaksanya untuk menghabiskan banyak waktu di luar Mojokerto.

Begitupun R.M Bintarti yang juga lebih sering berada di Surabaya. Praktis, proses produksi surat kabar di Mojokerto hanya digawangi anggota dewan redaksi yang saat itu dipercayakan pada Wardikoen. ”Setelah pindah ke Surabaya, kiprah koran Kemadjoean Hindia semakin berkibar hingga akhir 1925,” tandasnya. (ram/ron)

 

SETIAP 9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Peringatan ini bertepatan dengan berdirinya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 1946 silam. Namun, geliat jurnalistik sebenarnya sudah ada sejak era pemerintahan kolonial.

Di sejumlah wilayah, terdapat media massa lokal yang menjadi corong gerakan perjuangan. Mojokerto juga menjadi salah satu daerah yang memiliki peranan sejarah dalam lahirnya dunia pers. Karena, di masa prakemerdekaan pernah berdiri kantor redaksi dan percetakan media surat kabar.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, produk jusnalistik yang tercacat pernah terbit di Mojokerto adalah koran Kemadjoean Hindia. Media cetak tersebut resmi didirikan pada Januari 1923. ”Kemadjoean Hindia saat itu merupakan koran baru yang terbit dari Mojokerto,” ucapnya.

Diperkirakan, dapur redaksi Kemadjoean Hindia berkantor di wilayah Kota Mojokerto. Berdirinya perusahaan surat kabar lokal tersebut tidak lepas dari peran Raden Panji Soeroso. Tokoh pergerakan yang berdomisili di Mojokerto itu kemudian didapuk menjadi pemimpin redaksi (pemred).

Baca Juga :  Pandemi, Angka Perceraian Naik

Dalam kegiatan jurnalistik, Soeroso dibantu tokoh pers nasional R.M Bintarti sebagai redaktur pelaksana (redpel). Pria yang akrab disapa Yuhan ini menmaparkan, tidak butuh waktu lama bagi koran Kemadjoean Hindia untuk bisa diterima pembaca. Bahkan, surat kabar yang awalnya terbit tiap pekan itu mampu bertransformasi menjadi media cetak harian. ”Kemadjoean Hindia mengalami kemajuan di awal penerbitannya di Mojokerto,” ujar Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Bahkan, ulas dia, media Kemadjoean Hindia lalu melebarkan sayap dengan menggandeng Ong Lin Giok. Seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Mojokerto itu dirangkul untuk membentuk kongsi usaha. Sehingga, kolaborasi antara insan pers bumiputera dan pengusaha Tionghoa tersebut berhasil mendirikan perusahaan percetakan yang diberi nama Indische Snelpersdrukkeri.

Baca Juga :  Latih Sulam Ibu-Ibu dan Difabel, Sisihkan Keuntungan untuk Pelatihan
- Advertisement -

Perusahaan ini, imbuh Yuhan, yang menyokong penerbitan koran Kemadjoean Hindia. Namun, masa keemasan Kemadjoan Hindia di Mojokerto tak berlangsung lama. Karena seluruh kegiatan jusnalistik maupun percetakan diboyong ke Surabaya di tahun 1924. Di Kota Pahlawan, surat kabar tetap diterbitkan dengan label yang sama.

Disebutkan Yuhan, salah satu alasan pemindahan kantor Kemadjoean Hindia karena kesibukan masing-masing pengelola. Itu menyusul terpilihnya Soeroso sebagai anggota volksraad atau dewan rakyat yang memaksanya untuk menghabiskan banyak waktu di luar Mojokerto.

Begitupun R.M Bintarti yang juga lebih sering berada di Surabaya. Praktis, proses produksi surat kabar di Mojokerto hanya digawangi anggota dewan redaksi yang saat itu dipercayakan pada Wardikoen. ”Setelah pindah ke Surabaya, kiprah koran Kemadjoean Hindia semakin berkibar hingga akhir 1925,” tandasnya. (ram/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Polisi Bongkar Arena Sabung Ayam

Eks Kades Mengadu Ke Polisi

Pemkab Bakal Gunakan BTT

PSMTI Berbagi dan Hibur Lansia

/