alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Usung Potensi Kopi Lokal, Angkat Kesejahteraan Petani

SETIAP tanggal 1 Oktober diperingati sebagai International Coffee Day atau Hari Kopi Internasional. Minggu (1/10), puluhan pencinta kopi, barista dan petani kopi memperingatinya dengan cara mengenalkan kopi lokal. Seperti apa? 

Siapa yang tak kenal kopi, minuman yang identik berwarna hitam ini hampir tersedia di setiap warung maupun kafe dan dipercaya untuk mengusir rasa kantuk. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa tepat pada 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kopi Internasional.

Minggu (1/10) kemarin,  bertempat di Wisata Air Terjun Dlundung Trawas, puluhan pencinta kopi dan juru racik kopi atau yang disebut sebagai barista berkumpul dalam rangka memperingati International Coffee Day. Mereka datang dari berbagai daerah. Mulai Jombang, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Malang dan Kediri. Mereka secara khusus untuk mengenalkan potensi kopi lokal Mojokerto

Karena itu, dalam kesempatan tersebut mereka mengusung tema Mojokerto Punya Kopi. Ya, sesuai dengan namanya, kopi yang dijadikan bahan seduhan berasal dari biji kopi asli yang dipetik dari perkebunan kopi di Mojokerto, khususnya di wilayah Trawas.

Ada dua jenis kopi hasil Bumi Trawas. Yakni, kopi Robusta Trawas dan Kopi Arabica Dlundung. Dalam peringatan itu dikemas dengan pembagian minuman kopi gratis kepada setiap pengunjung Air Terjun Dlundung. Sedikitnya 30 barista yang hadir melakukan unjuk gigi untuk menyajikan racikan kopi terbaiknya.

Setiap barista memiliki teknik dan karakter tersendiri. Seperti yang dilakukan oleh salah barista, Andi Restanto, asal Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Dia membuat seduhan kopi menggunakan metode V60. V60 merupakan alat seduh kopi yang cukup populer dengan cara penyeduhan saring yang menggunakan kertas khusus.

Baca Juga :  Ubah Mental Napi lewat Sentuhan Salawat Nabi

’’Dengan menggunakan cara V60 akan memunculkan rasa kopi yang lebih maksimal,’’ jelasnya. Namun, kata Andi, setiap barista juga memiliki cara dan penyajian yang berbeda. Hal itu sesuai denan kreatifitas masing-masing barista. Sehingga, meski menggunakan metode yang sama, bisa jadi rasa yang dihasilkan akan berbeda.

Seperti yang dilakukan oleh Mudji Harmanto. Barista asal Surabaya ini, memiliki cara unik dalam menyeduh kopi. Meski sama-sama menggunakan metode V60, namun media yang digunakan lebih bersifat tradisional. Pasalnya, alat yang digunakannya merupakan terbuat dari bahan alam. ’’Karena outdoor, saya memanfaatkan bahan di alam,’’ ujarnya.

Mudji menggunakan teko yang terbuat dari batok kelapa, kemudian saringan dari sesek bambu, dan corong sebagai wadah kertas filter menggunkan daun pisang yang dibentuk kerucut. Oleh sebab itu dia menamakannya sebagai kopi pincuk (kopincuk) karena wadahnya mirip wadah yang biasa digunakan pedagang nasi pecel pincuk. ’’Kreatifitas pembuat dan media yang digunakan itu yang akan membedakan cita rasa kopi. Kalau kopincuk hasilnya akan lebih clean dan aftertaste-nya lebih keluar,’’ ulasnya.

Dia mengaku baru pertama kali ini meramu kopi asli Mojokerto. Dia menilai, baik kopi Robusta Trawas maupun Arabica Dlundung sudah memiliki karakter dan cita rasa sendiri dibandingkan dengan kopi daerah lain. ’’Ke depan, kopi Trawas pasti punya karakter tersendiri,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  Perseorangan Keluhkan Sistem KPU

Achmad Ari Fibrianto, salah satu anggota Komunitas Kopi Trawas, mengungkapkan, Trawas memiliki potensi kopi yang tak kalah dibanding perkebunan kopi di daerah lain. Khususnya dari jenis kopi Arabica maupun Robusta. Terbukti, kedua jenis kopi tersebut tumbuh subur di lereng Gunung Welirang dan di lereng Gunung Penanggungan. ’’Semakin kita kenalkan kopi lokal, harapanya ke depan, para petani kopi lebih sejahtera,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, salah satu keunggulan kopi Trawas adalah cita rasa yang dihasilkan. Menurut Ari, kopi Arabica Dlundung cenderung mengeluarkan aroma gula Jawa, fruity dan aroma kecutnya lebih kuat dibanding jenis kopi Arabica daerah lain. Pun demikian dengan Robusta Trawas yang rasa lebih kompleks, dengan aroma yang condong teh hitam, cokelat, dan aroma rempah yang kuat. ’’Kopi Arabica ditanam di ketinggian sekitar 1.300 mdpl. Sedangkan, Robusta di ketinggian 900-1.100 mdpl,’’ ungkap petani kopi ini.

Dia mengungkapkkan, saat ini, dari 100 petani kopi yang tersebar di Trawas, hasil produksinya sudah mencapai sekitar 50 ton pet tahun. Hasil dari komoditas tersebut kebanyakan didistribusikan di daerah wilayah Jatim dan sebagaian lainnya ke Jakarta, Bali dan Sumatera.

Dia berharap, ke depan kopi Trawas bisa dikenal di daerah-daerah yang lebih luas di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan dia optimistis mampu menembus pasar luar negeri. ’’Terbarui kitasudah kirim sampel kopi jenis Arabica dan Robusta dari Trawas ke Jerman. Miasalkan di Jerman nanti memakai kopi dari Trawas kan kita bisa lebih bangga lagi,’’ pungkasnya.

SETIAP tanggal 1 Oktober diperingati sebagai International Coffee Day atau Hari Kopi Internasional. Minggu (1/10), puluhan pencinta kopi, barista dan petani kopi memperingatinya dengan cara mengenalkan kopi lokal. Seperti apa? 

Siapa yang tak kenal kopi, minuman yang identik berwarna hitam ini hampir tersedia di setiap warung maupun kafe dan dipercaya untuk mengusir rasa kantuk. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa tepat pada 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kopi Internasional.

Minggu (1/10) kemarin,  bertempat di Wisata Air Terjun Dlundung Trawas, puluhan pencinta kopi dan juru racik kopi atau yang disebut sebagai barista berkumpul dalam rangka memperingati International Coffee Day. Mereka datang dari berbagai daerah. Mulai Jombang, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Malang dan Kediri. Mereka secara khusus untuk mengenalkan potensi kopi lokal Mojokerto

Karena itu, dalam kesempatan tersebut mereka mengusung tema Mojokerto Punya Kopi. Ya, sesuai dengan namanya, kopi yang dijadikan bahan seduhan berasal dari biji kopi asli yang dipetik dari perkebunan kopi di Mojokerto, khususnya di wilayah Trawas.

- Advertisement -

Ada dua jenis kopi hasil Bumi Trawas. Yakni, kopi Robusta Trawas dan Kopi Arabica Dlundung. Dalam peringatan itu dikemas dengan pembagian minuman kopi gratis kepada setiap pengunjung Air Terjun Dlundung. Sedikitnya 30 barista yang hadir melakukan unjuk gigi untuk menyajikan racikan kopi terbaiknya.

Setiap barista memiliki teknik dan karakter tersendiri. Seperti yang dilakukan oleh salah barista, Andi Restanto, asal Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Dia membuat seduhan kopi menggunakan metode V60. V60 merupakan alat seduh kopi yang cukup populer dengan cara penyeduhan saring yang menggunakan kertas khusus.

Baca Juga :  Bupati Peringati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

’’Dengan menggunakan cara V60 akan memunculkan rasa kopi yang lebih maksimal,’’ jelasnya. Namun, kata Andi, setiap barista juga memiliki cara dan penyajian yang berbeda. Hal itu sesuai denan kreatifitas masing-masing barista. Sehingga, meski menggunakan metode yang sama, bisa jadi rasa yang dihasilkan akan berbeda.

Seperti yang dilakukan oleh Mudji Harmanto. Barista asal Surabaya ini, memiliki cara unik dalam menyeduh kopi. Meski sama-sama menggunakan metode V60, namun media yang digunakan lebih bersifat tradisional. Pasalnya, alat yang digunakannya merupakan terbuat dari bahan alam. ’’Karena outdoor, saya memanfaatkan bahan di alam,’’ ujarnya.

Mudji menggunakan teko yang terbuat dari batok kelapa, kemudian saringan dari sesek bambu, dan corong sebagai wadah kertas filter menggunkan daun pisang yang dibentuk kerucut. Oleh sebab itu dia menamakannya sebagai kopi pincuk (kopincuk) karena wadahnya mirip wadah yang biasa digunakan pedagang nasi pecel pincuk. ’’Kreatifitas pembuat dan media yang digunakan itu yang akan membedakan cita rasa kopi. Kalau kopincuk hasilnya akan lebih clean dan aftertaste-nya lebih keluar,’’ ulasnya.

Dia mengaku baru pertama kali ini meramu kopi asli Mojokerto. Dia menilai, baik kopi Robusta Trawas maupun Arabica Dlundung sudah memiliki karakter dan cita rasa sendiri dibandingkan dengan kopi daerah lain. ’’Ke depan, kopi Trawas pasti punya karakter tersendiri,’’ pungkasnya.

Baca Juga :  Sudah Koleksi 40 Lukisan, Berencana Bikin Pameran Tunggal

Achmad Ari Fibrianto, salah satu anggota Komunitas Kopi Trawas, mengungkapkan, Trawas memiliki potensi kopi yang tak kalah dibanding perkebunan kopi di daerah lain. Khususnya dari jenis kopi Arabica maupun Robusta. Terbukti, kedua jenis kopi tersebut tumbuh subur di lereng Gunung Welirang dan di lereng Gunung Penanggungan. ’’Semakin kita kenalkan kopi lokal, harapanya ke depan, para petani kopi lebih sejahtera,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, salah satu keunggulan kopi Trawas adalah cita rasa yang dihasilkan. Menurut Ari, kopi Arabica Dlundung cenderung mengeluarkan aroma gula Jawa, fruity dan aroma kecutnya lebih kuat dibanding jenis kopi Arabica daerah lain. Pun demikian dengan Robusta Trawas yang rasa lebih kompleks, dengan aroma yang condong teh hitam, cokelat, dan aroma rempah yang kuat. ’’Kopi Arabica ditanam di ketinggian sekitar 1.300 mdpl. Sedangkan, Robusta di ketinggian 900-1.100 mdpl,’’ ungkap petani kopi ini.

Dia mengungkapkkan, saat ini, dari 100 petani kopi yang tersebar di Trawas, hasil produksinya sudah mencapai sekitar 50 ton pet tahun. Hasil dari komoditas tersebut kebanyakan didistribusikan di daerah wilayah Jatim dan sebagaian lainnya ke Jakarta, Bali dan Sumatera.

Dia berharap, ke depan kopi Trawas bisa dikenal di daerah-daerah yang lebih luas di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan dia optimistis mampu menembus pasar luar negeri. ’’Terbarui kitasudah kirim sampel kopi jenis Arabica dan Robusta dari Trawas ke Jerman. Miasalkan di Jerman nanti memakai kopi dari Trawas kan kita bisa lebih bangga lagi,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/