alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Tak Ada Agenda Show, Hanya Andalkan Hajatan

Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, turut mempengaruhi jadwal pertunjukan kesenian Barongsai. Khususnya ketika perayaan tahun baru imlek. Jadwal show yang seharusnya banjir, kini kian sepi.

FARISMA ROMAWAN, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto

Indetitas Barongsai sebagai kesenian tradisi China, tak bisa dipisahkan dengan perayaan tahun baru imlek. Tidak sekadar dinikmati kalangan Etnis Tionghoa, kehadiran kesenian ini juga selalu dinanti masyarakat umum tanpa terkecuali.

Arak-arakan yang mempertontonkan kelincahan barongsai bahkan sudah menjadi tradisi dalam menghibur masyarakat Kota Mojokerto. Bisa dipastikan, jalanan mulai dari Klenteng Hok Sian Kiong-Jalan A Yani-jalan Majapahit-jalan Bhayangkara hingga jalan PB Sudirman selalu dipadati warga kala imlek tiba.

Akan tetapi, situasi tersebut berubah drastis sejak dua tahun terakhir. Pandemi Covid-19, memaksa semua pertunjukan seni dibatasi. Hal ini pun mempengaruhi eksitensi Young Lion Mojokerto, grup seni barongsai asli Kota Mojokerto.

Beranggotakan para pelajar tingkat SMP dan SMA yang berdomisili di kota, Young Lion Mojokerto terus bertahan dari minimnya show. Penurunan jadwal show hingga 90 persen dari kondisi normal tak dipungkiri menjadi tantangan mereka dalam mengembangkan seni tradisi ini. ’’Sebelum pandemi, ketika imlek kami bisa 15 kali tampil baik itu di klenteng, pusat perbelanjaan, atau tempat wisata. Tapi saat pandemi, kami sama sekali tidak bisa tampil karena persoalan ijin dari pihak keamanan. Tahun ini hanya satu kali jadwal show, itupun di mal di Surabaya Senin (31/1) kemarin. Tahun lalu bahkan tidak sama sekali,’’ ujar koordinator Young Lion Mojokerto, Albert Supardi kemarin.

Baca Juga :  Petugas Coklit Pilbup Mojokerto Wajib Pakai APD

Meski turun, namun eksistensi grup yang berdiri sejak tahun 2017 ini tak luntur sedikitpun. Mereka tetap berlatih rutin di home base-nya, di halaman Pasar Kliwon.

Setiap tiga kali seminggu, 25 anggota tetap giat berlatih maupun sekadar kumpul-kumpul. Albert menilai, ajang ini tidak untuk meraup penghasilan sebagai target utama mereka eksis. Melainkan hanya untuk melestarikan seni dan tradisi yang sudah berkembang. Mengingat kesenian barongsai juga tidak mudah dipelajari. Namun karena ketertarikan akan seni, maka mereka terus gigih berlatih dan belajar. ’’Karena anak-anak ini kan rata-rata tertarik karena unsur seninya. Jadi apapun kondisinya tetap loyal latihan,’’ tambah pria asal Kelurahan Gedongan, Kecamatan Magersari ini.

Baca Juga :  Buket Uang Paling Diburu

Meski begitu, sebagai pimpinan, Albert tak diam begitu saja. Dirinya tetap mengusahakan jadwal show agar skill anak asuhnya tetap bisa eksis. Salah satu momentum yang bisa dimanfaatkan adalah hari-hari besar di musim hajatan. Yakni saat lebaran, besaran dan ruwah menurut penanggalan Jawa. ’’Justru saat besaran dan ruwah itu banyak yang minta show di hajatan sunatan dan nikahan. Biasanya dua kali sebulan masih ada yang minta,’’ tambahnya.

Young Lion Mojokerto sendiri berisi 25 anggota. Terdiri dari 5 pasang (10 orang) pemain barongsai, 6 orang pemain musik, 9 orang pemain naga. Sisanya masuk cadangan. Mereka semua adalah warga Kota Mojokerto yang berdomisili di Kelurahan Purwotengah, Mentikan, dan Meri. Untuk budget sekali show, mereka tak mematok harga tinggi, yakni antara Rp 3,5 juta hingga Rp 6 juta. (ron)

 

Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, turut mempengaruhi jadwal pertunjukan kesenian Barongsai. Khususnya ketika perayaan tahun baru imlek. Jadwal show yang seharusnya banjir, kini kian sepi.

FARISMA ROMAWAN, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto

Indetitas Barongsai sebagai kesenian tradisi China, tak bisa dipisahkan dengan perayaan tahun baru imlek. Tidak sekadar dinikmati kalangan Etnis Tionghoa, kehadiran kesenian ini juga selalu dinanti masyarakat umum tanpa terkecuali.

Arak-arakan yang mempertontonkan kelincahan barongsai bahkan sudah menjadi tradisi dalam menghibur masyarakat Kota Mojokerto. Bisa dipastikan, jalanan mulai dari Klenteng Hok Sian Kiong-Jalan A Yani-jalan Majapahit-jalan Bhayangkara hingga jalan PB Sudirman selalu dipadati warga kala imlek tiba.

Akan tetapi, situasi tersebut berubah drastis sejak dua tahun terakhir. Pandemi Covid-19, memaksa semua pertunjukan seni dibatasi. Hal ini pun mempengaruhi eksitensi Young Lion Mojokerto, grup seni barongsai asli Kota Mojokerto.

Beranggotakan para pelajar tingkat SMP dan SMA yang berdomisili di kota, Young Lion Mojokerto terus bertahan dari minimnya show. Penurunan jadwal show hingga 90 persen dari kondisi normal tak dipungkiri menjadi tantangan mereka dalam mengembangkan seni tradisi ini. ’’Sebelum pandemi, ketika imlek kami bisa 15 kali tampil baik itu di klenteng, pusat perbelanjaan, atau tempat wisata. Tapi saat pandemi, kami sama sekali tidak bisa tampil karena persoalan ijin dari pihak keamanan. Tahun ini hanya satu kali jadwal show, itupun di mal di Surabaya Senin (31/1) kemarin. Tahun lalu bahkan tidak sama sekali,’’ ujar koordinator Young Lion Mojokerto, Albert Supardi kemarin.

Baca Juga :  Bantah Tutup Akses, Jalan Yang Digali Hanya Untuk Normalisasi
- Advertisement -

Meski turun, namun eksistensi grup yang berdiri sejak tahun 2017 ini tak luntur sedikitpun. Mereka tetap berlatih rutin di home base-nya, di halaman Pasar Kliwon.

Setiap tiga kali seminggu, 25 anggota tetap giat berlatih maupun sekadar kumpul-kumpul. Albert menilai, ajang ini tidak untuk meraup penghasilan sebagai target utama mereka eksis. Melainkan hanya untuk melestarikan seni dan tradisi yang sudah berkembang. Mengingat kesenian barongsai juga tidak mudah dipelajari. Namun karena ketertarikan akan seni, maka mereka terus gigih berlatih dan belajar. ’’Karena anak-anak ini kan rata-rata tertarik karena unsur seninya. Jadi apapun kondisinya tetap loyal latihan,’’ tambah pria asal Kelurahan Gedongan, Kecamatan Magersari ini.

Baca Juga :  Penuh Pesona dan Menyimpan Makna

Meski begitu, sebagai pimpinan, Albert tak diam begitu saja. Dirinya tetap mengusahakan jadwal show agar skill anak asuhnya tetap bisa eksis. Salah satu momentum yang bisa dimanfaatkan adalah hari-hari besar di musim hajatan. Yakni saat lebaran, besaran dan ruwah menurut penanggalan Jawa. ’’Justru saat besaran dan ruwah itu banyak yang minta show di hajatan sunatan dan nikahan. Biasanya dua kali sebulan masih ada yang minta,’’ tambahnya.

Young Lion Mojokerto sendiri berisi 25 anggota. Terdiri dari 5 pasang (10 orang) pemain barongsai, 6 orang pemain musik, 9 orang pemain naga. Sisanya masuk cadangan. Mereka semua adalah warga Kota Mojokerto yang berdomisili di Kelurahan Purwotengah, Mentikan, dan Meri. Untuk budget sekali show, mereka tak mematok harga tinggi, yakni antara Rp 3,5 juta hingga Rp 6 juta. (ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/