alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Rindu Pedasnya Sambel Wader

MENJALANI ibadah Ramadan bersama keluarga di kejauhan dari rumah asal memang ada perbedaan. Kami rindu tradisi. Budaya. Toleransi. Kebersamaan. Kemajemukan. Gema suara azan, pujian, tadarus, takbir, tahmid, bermaafan, dan berbagi rezeki atau angpao saat Lebaran.

Sudah hampir setahun saya dan keluarga tinggal di Aceh. Tepatnya, di Jalan Rama Setia, Desa Deah Gelumpang, Kota Banda Aceh. Saya di sini tidak sendirian. Melainkan turut memboyong semua keluarga saya yang tinggal di Jalan Residen Site III Nomor 35, Perum CSE Surodinawan, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Belum lama memang kami tinggal di sini. Tetapi kerinduan salat jamaah di masjid, menjalani Ramadan bersama lingkungan, dan yang paling menarik adalah kemajemukan warga. Di saat sedang tugas ronda. Cangkrukan kecil atau saat melewati kebersamaan di momen liwetan.

Jujur saya dan keluarga rindu kesempatan itu. Bukan rasa masakannya, tapi kebersamaannya itu yang bermakna silaturahmi. Di Banda Aceh, jarang sekali kami menemukan tradisi seperti itu. Karena perbedaan budaya dan tradisi masing-masing daerah. Namun, kami sekeluarga,

Fatmawati (istri), M Faza Adha (anak pertama), M Fahresa Ramadhana (anak kedua), M Fathan Zain (anak ketiga), dan M Irfan Faizan (anak keempat), tetap bersyukur. Kehangatan warga di sini juga sangat terasa. Kami mendapat sambutan luar biasa. Apalagi, sejak lama banyak keluarga saya yang memang tinggal di sekitar kota yang kami tempati.

Baca Juga :  Rindu Tradisi Ramadan di Kota Onde-Onde

Masa pandemi Covid-19 bersamaan dengan bulan suci di sini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan di Kota Mojokerto. Di Kota Banda Aceh, pemerintah juga mengeluarkan maklumat menghadapi persebaran dan penularan virus korona.

Seperti social distancing maupun physical distancing. Bedanya, mungkin data orang terpapar Covid-19 di Kota Onde-Onde baru satu. Di sini update terbaru sudah 6 orang dinyatakan positif. Sebelum tren kasusnya meningkat, maklumat pemerintah daerah di sini langsung disikapi masyarakat.

Kota yang dulu padat dengan hiruk pikuk perekonomian, sekarang sudah sangat sepi. Warung, kafe, depot, dan pertokoan dibatasi jam operasinya. Bahkan, pernah empat hari kampung kami ditutup total. Gang-gang sempit diportal dan dijaga.

Sampai-sampai saya kebingungan tidak bisa pulang di rumah sendiri. Ya, terpaksa lewat jalan tikus biar bisa sampai rumah, hehehe. Suasana Ramadan di sini berbeda dengan di Jawa Timur, khususnya Kota Mojokerto.

Di sini, kami bersama warga masih diperbolehkan menjalankan salat berjamaah, tarawih, bahkan anak-anak tadarus sampai menjelang sahur di masjid atau musala. Satu membaca menggunakan pengeras suara, lainnya membaca sendiri atau menyimak.

Cuma yang tidak bisa kami temui di sini adalah tradisi takjil di tempat ibadah. Hampir tidak ada musala atau masjid yang menyediakan takjil berbuka. Baik oleh takmir maupun takjil yang dibuat warga secara sukarela.

Kalau di Jawa, mungkin sampai sekarang masih ada. Selain sudha tradisi, di Jawa Timur, sosial warganya memang sangat tinggi. Masih ada takjil di musala atau masjid. Ada kegiatan Nuzulul Quran, sampai berbagi santunan anak yatim dan zakat fitrah.

Baca Juga :  Jajal Seleksi Pelatnas

Nuansa itu yang kami dan keluarga sangat rindukan. Memang, di sini masih ada beberapa wilayah yang menyediakan takjil berbuka, tapi itu tidak banyak. Tidak seperti di Kota Mojokerto. Kehidupan sosial inilah mendorong keinginan kami untuk kembali sambang ke rumah asal.

Guyonan bersama warga. Bisa memahami satu sama lain. Suka membantu dan berbagi, seakan tidak mampu membendung keinginan hati kami untuk segera sambang rumah. Ya kami berdoa, pandemi ini segera berakhir. Semua keluarga dan warga di Kota Mojokerto selalu sehat wal afiat dan dalam lindungan Allah SWT.

Sama seperti kami di sini. Satu lagi yang membuat saya dan keluarga memendam keinginan untuk segera berkunjung ke Trowulan. Di Bumi Majapahit itu, saya, istri, dan anak-anak sudah sangat ingin mencicipi kembali sambel wader.

Sambel yang tidak ada di sini. Atau tidak tersedia di tempat lain. Rasa wader yang gurih dan khas. Sambel trasi dan tomat yang pedas dan segar. Sungguh menggoda selera. Semoga bencana nonalam ini segera berakhir. Amin. (ris)

*)Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

MENJALANI ibadah Ramadan bersama keluarga di kejauhan dari rumah asal memang ada perbedaan. Kami rindu tradisi. Budaya. Toleransi. Kebersamaan. Kemajemukan. Gema suara azan, pujian, tadarus, takbir, tahmid, bermaafan, dan berbagi rezeki atau angpao saat Lebaran.

Sudah hampir setahun saya dan keluarga tinggal di Aceh. Tepatnya, di Jalan Rama Setia, Desa Deah Gelumpang, Kota Banda Aceh. Saya di sini tidak sendirian. Melainkan turut memboyong semua keluarga saya yang tinggal di Jalan Residen Site III Nomor 35, Perum CSE Surodinawan, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Belum lama memang kami tinggal di sini. Tetapi kerinduan salat jamaah di masjid, menjalani Ramadan bersama lingkungan, dan yang paling menarik adalah kemajemukan warga. Di saat sedang tugas ronda. Cangkrukan kecil atau saat melewati kebersamaan di momen liwetan.

Jujur saya dan keluarga rindu kesempatan itu. Bukan rasa masakannya, tapi kebersamaannya itu yang bermakna silaturahmi. Di Banda Aceh, jarang sekali kami menemukan tradisi seperti itu. Karena perbedaan budaya dan tradisi masing-masing daerah. Namun, kami sekeluarga,

Fatmawati (istri), M Faza Adha (anak pertama), M Fahresa Ramadhana (anak kedua), M Fathan Zain (anak ketiga), dan M Irfan Faizan (anak keempat), tetap bersyukur. Kehangatan warga di sini juga sangat terasa. Kami mendapat sambutan luar biasa. Apalagi, sejak lama banyak keluarga saya yang memang tinggal di sekitar kota yang kami tempati.

Baca Juga :  Merasakan Perintah Kawalan Pergerakan di Malaysia

Masa pandemi Covid-19 bersamaan dengan bulan suci di sini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan di Kota Mojokerto. Di Kota Banda Aceh, pemerintah juga mengeluarkan maklumat menghadapi persebaran dan penularan virus korona.

- Advertisement -

Seperti social distancing maupun physical distancing. Bedanya, mungkin data orang terpapar Covid-19 di Kota Onde-Onde baru satu. Di sini update terbaru sudah 6 orang dinyatakan positif. Sebelum tren kasusnya meningkat, maklumat pemerintah daerah di sini langsung disikapi masyarakat.

Kota yang dulu padat dengan hiruk pikuk perekonomian, sekarang sudah sangat sepi. Warung, kafe, depot, dan pertokoan dibatasi jam operasinya. Bahkan, pernah empat hari kampung kami ditutup total. Gang-gang sempit diportal dan dijaga.

Sampai-sampai saya kebingungan tidak bisa pulang di rumah sendiri. Ya, terpaksa lewat jalan tikus biar bisa sampai rumah, hehehe. Suasana Ramadan di sini berbeda dengan di Jawa Timur, khususnya Kota Mojokerto.

Di sini, kami bersama warga masih diperbolehkan menjalankan salat berjamaah, tarawih, bahkan anak-anak tadarus sampai menjelang sahur di masjid atau musala. Satu membaca menggunakan pengeras suara, lainnya membaca sendiri atau menyimak.

Cuma yang tidak bisa kami temui di sini adalah tradisi takjil di tempat ibadah. Hampir tidak ada musala atau masjid yang menyediakan takjil berbuka. Baik oleh takmir maupun takjil yang dibuat warga secara sukarela.

Kalau di Jawa, mungkin sampai sekarang masih ada. Selain sudha tradisi, di Jawa Timur, sosial warganya memang sangat tinggi. Masih ada takjil di musala atau masjid. Ada kegiatan Nuzulul Quran, sampai berbagi santunan anak yatim dan zakat fitrah.

Baca Juga :  Tak Mudik, Takut Denda Rp 100 Juta

Nuansa itu yang kami dan keluarga sangat rindukan. Memang, di sini masih ada beberapa wilayah yang menyediakan takjil berbuka, tapi itu tidak banyak. Tidak seperti di Kota Mojokerto. Kehidupan sosial inilah mendorong keinginan kami untuk kembali sambang ke rumah asal.

Guyonan bersama warga. Bisa memahami satu sama lain. Suka membantu dan berbagi, seakan tidak mampu membendung keinginan hati kami untuk segera sambang rumah. Ya kami berdoa, pandemi ini segera berakhir. Semua keluarga dan warga di Kota Mojokerto selalu sehat wal afiat dan dalam lindungan Allah SWT.

Sama seperti kami di sini. Satu lagi yang membuat saya dan keluarga memendam keinginan untuk segera berkunjung ke Trowulan. Di Bumi Majapahit itu, saya, istri, dan anak-anak sudah sangat ingin mencicipi kembali sambel wader.

Sambel yang tidak ada di sini. Atau tidak tersedia di tempat lain. Rasa wader yang gurih dan khas. Sambel trasi dan tomat yang pedas dan segar. Sungguh menggoda selera. Semoga bencana nonalam ini segera berakhir. Amin. (ris)

*)Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/