alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Kobarkan Semangat Pejuang Pertahankan Kemerdekaan

Ramadan di Masa Perjuangan

SAAT perang kemerdekaan 1946, Ramadan menjadi bulan penuh perjuangan. Saat itu, Mojokerto menjadi basis pejuang kemerdekaan pasca Kota Surabaya jatuh ke tangan pasukan sekutu. Meski sedang menjalankan ibadah puasa, gelora memperjuangkan kemerdekaan tetap berkobar untuk mengusir pasukan Britania Raya dan tentara kolonial dari Kota Pahlawan.

Sejarawan Mojokerto Ayuhahanafiq mengungkapkan, pasca meletusnya Peristiwa 10 November 1945, gelombang pengungsi berdatangan dari Surabaya ke Mojokerto. Tak hanya warga sipil, para pejuang juga turut memindahkan pusat komando di Mojokerto. ”Pengungsian berlangsung hingga 1946. Karena Kota Surabaya sudah dikuasai tentara sekutu dan Belanda,” paparnya.

Bahkan, jelang peringatan kemerdekaan RI yang pertama pada 17 Agustus 1946, masyarakat masih belum bisa kembali ke kampung halaman.Terlebih, di bulan tersebut juga bertepatan dengan Ramadan 1365 H.

Baca Juga :  Pedagang Jalanan Tawarkan Desain Buatan Tangan

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, meski sedang menjalankan ibadah puasa, namun semangat perjuangan di Mojokerto tak padam. Hal itu ditandai dengan digelarnya rapat umum yang dipusatkan di Alun-Alun Kota Mojokerto. ”Jumlah yang hadir pada waktu itu juga mencapai ribuan orang,” paparnya.

Menurutnya, rapat terbuka di alun-alun itu digelar untuk menyusun strategi dalam mempertahankan kemerdekaan. Di antaranya rencana merebut kembali Kota Surabaya dari tangan musuh.

Dikatakannya, salah satu yang turut membakar api semangat perjuangan di bulan Ramadan itu adalah Sutomo. Di atas podium, orator yang dikenal dengan Bung Tomo ini mengajak para pejuang mengusir tentara sekutu dan kolonial dari Kota Pahlawan.

Pidato Bung Tomo pun langsung diamini para pejuang. Yuhan mengatakan, ribuan pemuda bersama kesatuan perjuangan bergegas mempersiapkan diri untuk terjun ke garis depan pertempuran di Surabaya.

Baca Juga :  Mojotirto Festival 2022, Dijadikan sebagai Muatan Lokal

Selain bertekat mempertahankan kemerdekaan, perjuangan ke Surabaya juga didasari keinginan para pejuang untuk kembali menjalankan ibadah di kampung halaman. Seperti yang dirasakan saat awal kemerdekaan 1945. ”Karena para pejuang sudah terlalu lama dalam pengungsian,” tandasnya.

Sayangnya, pasukan musuh mengendus rencana para pejuang tersebut. Pasukan kolonial menghadang serangan para pejuang. Pintu masuk Surabaya di Driyorejo, Gresik diperketat dengan senjata lengkap.

Kedatangan pejuang dari Mojokerto langsung disambut dengan hujan tembakan yang dilancarkan tentara Belanda. Akibatnya, banyak nyawa pejuang gugur di bulan suci. Beberapa juga tertangkap dan ditahan oleh kolonial. ”Para pejuang yang gugur kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Gajah Mada,” tandas Yuhan. (ram/ron)

Ramadan di Masa Perjuangan

SAAT perang kemerdekaan 1946, Ramadan menjadi bulan penuh perjuangan. Saat itu, Mojokerto menjadi basis pejuang kemerdekaan pasca Kota Surabaya jatuh ke tangan pasukan sekutu. Meski sedang menjalankan ibadah puasa, gelora memperjuangkan kemerdekaan tetap berkobar untuk mengusir pasukan Britania Raya dan tentara kolonial dari Kota Pahlawan.

Sejarawan Mojokerto Ayuhahanafiq mengungkapkan, pasca meletusnya Peristiwa 10 November 1945, gelombang pengungsi berdatangan dari Surabaya ke Mojokerto. Tak hanya warga sipil, para pejuang juga turut memindahkan pusat komando di Mojokerto. ”Pengungsian berlangsung hingga 1946. Karena Kota Surabaya sudah dikuasai tentara sekutu dan Belanda,” paparnya.

Bahkan, jelang peringatan kemerdekaan RI yang pertama pada 17 Agustus 1946, masyarakat masih belum bisa kembali ke kampung halaman.Terlebih, di bulan tersebut juga bertepatan dengan Ramadan 1365 H.

Baca Juga :  Fenomena Gadaikan Barang untuk Penuhi Kebutuhan

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, meski sedang menjalankan ibadah puasa, namun semangat perjuangan di Mojokerto tak padam. Hal itu ditandai dengan digelarnya rapat umum yang dipusatkan di Alun-Alun Kota Mojokerto. ”Jumlah yang hadir pada waktu itu juga mencapai ribuan orang,” paparnya.

Menurutnya, rapat terbuka di alun-alun itu digelar untuk menyusun strategi dalam mempertahankan kemerdekaan. Di antaranya rencana merebut kembali Kota Surabaya dari tangan musuh.

- Advertisement -

Dikatakannya, salah satu yang turut membakar api semangat perjuangan di bulan Ramadan itu adalah Sutomo. Di atas podium, orator yang dikenal dengan Bung Tomo ini mengajak para pejuang mengusir tentara sekutu dan kolonial dari Kota Pahlawan.

Pidato Bung Tomo pun langsung diamini para pejuang. Yuhan mengatakan, ribuan pemuda bersama kesatuan perjuangan bergegas mempersiapkan diri untuk terjun ke garis depan pertempuran di Surabaya.

Baca Juga :  Mojotirto Festival 2022, Dijadikan sebagai Muatan Lokal

Selain bertekat mempertahankan kemerdekaan, perjuangan ke Surabaya juga didasari keinginan para pejuang untuk kembali menjalankan ibadah di kampung halaman. Seperti yang dirasakan saat awal kemerdekaan 1945. ”Karena para pejuang sudah terlalu lama dalam pengungsian,” tandasnya.

Sayangnya, pasukan musuh mengendus rencana para pejuang tersebut. Pasukan kolonial menghadang serangan para pejuang. Pintu masuk Surabaya di Driyorejo, Gresik diperketat dengan senjata lengkap.

Kedatangan pejuang dari Mojokerto langsung disambut dengan hujan tembakan yang dilancarkan tentara Belanda. Akibatnya, banyak nyawa pejuang gugur di bulan suci. Beberapa juga tertangkap dan ditahan oleh kolonial. ”Para pejuang yang gugur kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Gajah Mada,” tandas Yuhan. (ram/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/