alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Wednesday, August 10, 2022

RP Soeroso, Pemrakarsa Penghapusan Praktik Mindring

Dirikan Perkumpulan Anti Lintah Darat

Praktik peminjaman uang dengan bunga sangat tinggi marak terjadi di masa kolonial. Impitan ekonomi membuat warga pribumi banyak yang terjerat lintah darat. Hingga akhirnya, terbentuk sebuah perkumpulan yang menentang adanya praktik mindring atau yang juga dikenal dengan istilah woeker tersebut di Mojokerto.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, gerakan perlawanan terhadap praktik mindring itu diprakarsai oleh Raden Panji (RP) Soeroso. Tokoh asal Mojokerto yang kala itu menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat ini mendirikan perkumpulan anti lintah darat yang dinamakan Anti Woeker Vereeneging (AWV).

Asosiasi tersebut dibentuk pada 18 Mei 1930 melalui rapat umum di Kota Mojokerto. Tak kurang 800 orang hadir dalam pertemuan yang digelar di salah satu gedung bioskop itu. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, pendirian AWV dilatarbelakangi makin maraknya praktik mindring yang dinilai menambah beban masyarakat. ”Perkumpulan anti woeker itu dibentuk saat praktik peminjaman uang dengan bunga tinggi kian masif terjadi di tahun 1930-an,” terangnya.

Baca Juga :  LPSK: Korban Kekerasan Seksual Berhak Ajukan Hak Restitusi

Sebab, kata dia, saat itu terjadi resesi ekonomi yang berdampak pada merosotnya kegiatan ekonomi di masyarakat. Sehingga banyak warga yang kesulitan keuangan. Namun, momentum tersebut rupanya dimanfaatkan pelaku mindring untuk mencari sasaran. Tak hanya di perkotaan, melainkan hingga ke pelosok desa.

Menurutnya, para pelaku lintah darat bergerilya dengan menawarkan pinjaman uang dengan berbagai kemudahan. Dengan iming-iming bisa cair tanpa agunan, tak sedikit masyarakat pribumi yang akhirnya memutuskan untuk utang sejumlah uang.

Namun, beban utang akan semakin menggunung akibat terjerat bunga sangat tinggi. Bahkan, harta benda yang mereka miliki bisa tersita secara sepihak jika peminjam tak sanggup untuk mengembalikan utangnya. ”Karena terlilit utang yang kian menumpuk, banyak petani yang terpaksa merelakan sawah atau barang berharga lainnya disita mindring,” tandasnya.

Baca Juga :  Pedagang Jalanan Tawarkan Desain Buatan Tangan

Sebagai upaya untuk menghapus praktik wooker di Mojokerto itu, AWK dibantu Bupati Mojokerto Kromo Adinegoro selaku pelindung. Sedangkan kursi ketua diduduki oleh RP Soeroso dengan 17 anggota sebagai pengurus. (ram/ron)

Dirikan Perkumpulan Anti Lintah Darat

Praktik peminjaman uang dengan bunga sangat tinggi marak terjadi di masa kolonial. Impitan ekonomi membuat warga pribumi banyak yang terjerat lintah darat. Hingga akhirnya, terbentuk sebuah perkumpulan yang menentang adanya praktik mindring atau yang juga dikenal dengan istilah woeker tersebut di Mojokerto.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, gerakan perlawanan terhadap praktik mindring itu diprakarsai oleh Raden Panji (RP) Soeroso. Tokoh asal Mojokerto yang kala itu menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat ini mendirikan perkumpulan anti lintah darat yang dinamakan Anti Woeker Vereeneging (AWV).

Asosiasi tersebut dibentuk pada 18 Mei 1930 melalui rapat umum di Kota Mojokerto. Tak kurang 800 orang hadir dalam pertemuan yang digelar di salah satu gedung bioskop itu. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, pendirian AWV dilatarbelakangi makin maraknya praktik mindring yang dinilai menambah beban masyarakat. ”Perkumpulan anti woeker itu dibentuk saat praktik peminjaman uang dengan bunga tinggi kian masif terjadi di tahun 1930-an,” terangnya.

Baca Juga :  Awas Rek! Komplotan Berkopiah Gasak Tiga Motor Penghuni Kos-kosan

Sebab, kata dia, saat itu terjadi resesi ekonomi yang berdampak pada merosotnya kegiatan ekonomi di masyarakat. Sehingga banyak warga yang kesulitan keuangan. Namun, momentum tersebut rupanya dimanfaatkan pelaku mindring untuk mencari sasaran. Tak hanya di perkotaan, melainkan hingga ke pelosok desa.

Menurutnya, para pelaku lintah darat bergerilya dengan menawarkan pinjaman uang dengan berbagai kemudahan. Dengan iming-iming bisa cair tanpa agunan, tak sedikit masyarakat pribumi yang akhirnya memutuskan untuk utang sejumlah uang.

- Advertisement -

Namun, beban utang akan semakin menggunung akibat terjerat bunga sangat tinggi. Bahkan, harta benda yang mereka miliki bisa tersita secara sepihak jika peminjam tak sanggup untuk mengembalikan utangnya. ”Karena terlilit utang yang kian menumpuk, banyak petani yang terpaksa merelakan sawah atau barang berharga lainnya disita mindring,” tandasnya.

Baca Juga :  Fenomena Gadaikan Barang untuk Penuhi Kebutuhan

Sebagai upaya untuk menghapus praktik wooker di Mojokerto itu, AWK dibantu Bupati Mojokerto Kromo Adinegoro selaku pelindung. Sedangkan kursi ketua diduduki oleh RP Soeroso dengan 17 anggota sebagai pengurus. (ram/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/