alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Monday, July 4, 2022

Sapi Terserang Surra, Terapkan Karantina Wilayah

Wabah Penyakit Hewan Ternak di Mojokerto

SELURUH pasar hewan sempat ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Kebijakan tersebut dilakukan akibat masifnya penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) jelang Idul Adha 2022 ini. Namun, terjadinya wabah yang menyerang hewan ternak bukan kali pertama terjadi. Di masa Pemerintahan Hindia-Belanda juga pernah me-lockdown pasar hewan akibat merebaknya penyebaran penyakit surra yang menyerang sapi dan kerbau.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, kasus penyakit menular yang menyerang hewan ternak ini terjadi pada tahun 1922. Dalam waktu cepat, angka kasus penyakit surra meningkat cukup pesat.

Bahkan, pada bulan Desember, persebaran penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa parasitik ini hampir terjadi merata di wilayah di Mojokerto. ”Penyakit surra menjadi wabah di Mojokerto,” terang pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Baca Juga :  Berperan dalam Pemerataan Ekonomi

Hewan ternak yang berada di daerah utara Sungai Brantas menjadi penyumbang tertinggi kasus surra. Menurutnya, masifnya penyakit tersebut lantaran penularan terjadi melalui gigitan lalat penghisap darah.

Dikatakan Yuhan, hewan ternak yang terpapar akan mengalami penurunan nafsu makan, lemas, hingga penurunan berat badan yang signifikan. Tak hanya cepat menular, penyakit surra juga bisa mematikan jika hewan ternak tidak segera tertangani bantuan medis. ”Karena waktu itu banyak sapi dan kerbau di Mojokerto yang meninggal karena penyakit surra,” ulasnya.

Wabah penyakit surra berdampak pada menurunnya tingkat jual beli hewan ternak di Mojokerto. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Mojokerto menerapkan kebijakan karantina wilayah guna mengendalikan penyebaran infeksi.

Baca Juga :  Kampung Kauman di Mojokerto, Pusat Keagamaan dan Rujukan Ramadan

Di antaranya dengan memberlakukan pembatasan perdagangan hewan ternak lintas daerah. Tak hanya itu, seluruh pasar hewan di Mojokerto juga dilakukan lockdown. ”Pasar-pasar hewan yang ada di kecamatan ditutup sementara untuk menekan penyebaran penyakit surra,” tandasnya.
Yuhan menambahkan, wabah serupa juga pernah terjadi dii Mojokerto. Tepatnya terjadi pada periode 1990-an. Bahkan, persebaran penyakit surra meluas hingga ke daerah tetangga. (ram/ron)

Wabah Penyakit Hewan Ternak di Mojokerto

SELURUH pasar hewan sempat ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Kebijakan tersebut dilakukan akibat masifnya penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) jelang Idul Adha 2022 ini. Namun, terjadinya wabah yang menyerang hewan ternak bukan kali pertama terjadi. Di masa Pemerintahan Hindia-Belanda juga pernah me-lockdown pasar hewan akibat merebaknya penyebaran penyakit surra yang menyerang sapi dan kerbau.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, kasus penyakit menular yang menyerang hewan ternak ini terjadi pada tahun 1922. Dalam waktu cepat, angka kasus penyakit surra meningkat cukup pesat.

Bahkan, pada bulan Desember, persebaran penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa parasitik ini hampir terjadi merata di wilayah di Mojokerto. ”Penyakit surra menjadi wabah di Mojokerto,” terang pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Baca Juga :  Diduduki Pejuang setelah Proklamasi Kemerdekaan

Hewan ternak yang berada di daerah utara Sungai Brantas menjadi penyumbang tertinggi kasus surra. Menurutnya, masifnya penyakit tersebut lantaran penularan terjadi melalui gigitan lalat penghisap darah.

Dikatakan Yuhan, hewan ternak yang terpapar akan mengalami penurunan nafsu makan, lemas, hingga penurunan berat badan yang signifikan. Tak hanya cepat menular, penyakit surra juga bisa mematikan jika hewan ternak tidak segera tertangani bantuan medis. ”Karena waktu itu banyak sapi dan kerbau di Mojokerto yang meninggal karena penyakit surra,” ulasnya.

- Advertisement -

Wabah penyakit surra berdampak pada menurunnya tingkat jual beli hewan ternak di Mojokerto. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Mojokerto menerapkan kebijakan karantina wilayah guna mengendalikan penyebaran infeksi.

Baca Juga :  Kobarkan Semangat Pejuang Pertahankan Kemerdekaan

Di antaranya dengan memberlakukan pembatasan perdagangan hewan ternak lintas daerah. Tak hanya itu, seluruh pasar hewan di Mojokerto juga dilakukan lockdown. ”Pasar-pasar hewan yang ada di kecamatan ditutup sementara untuk menekan penyebaran penyakit surra,” tandasnya.
Yuhan menambahkan, wabah serupa juga pernah terjadi dii Mojokerto. Tepatnya terjadi pada periode 1990-an. Bahkan, persebaran penyakit surra meluas hingga ke daerah tetangga. (ram/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/