alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

Layar Tancap Diputar di Desa-Desa

SEMENTARA itu, kejayaan panggung sinema juga diwarnai keberadaan media layar tancap. Hiburan pertujukan film di luar ruangan ini pun turut mendongkrak dunia perfilman nasional karena dapat dinikmati masyarakat hingga pelosok pedesaan.

Masa keemasan perfilman nasional masih terukir dalam ingatan Supriyadi, 71. Pemilik usaha layar tancap Shanty Film asal Dusun Sidokerto, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, ini sudah tiga dekade lebih bergelut dengan dunia hiburan layar lebar.

Dia mengungkapkan, layar tancap memiliki ikatan kedekatan tersendiri di hati masyarakat dibanding bioskop. Tak lain karena film diputar secara terbuka di tanah lapang. ’’Sehingga bisa dinikmati masyarakat secara umum,’’ tandasnya.
Layar tancap menjadi media hiburan menikmati film dengan biaya murah. Karena tidak menerapkan sistem tiket bagi para penontonnya. Menurutnya, hiburan pertunjukan itu mengalami kejayaan pada 1980-1990-an.

Baca Juga :  THHK, Lembaga Pendidikan Tionghoa Pertama di Kota Mojokerto

Di masa itu, Supriyadi menyebut memiliki empat unit perangkat pemutar film. Karena dalam semalam, dia mampu menerima dua order sekaligus di tempat yang berbeda. Tak jarang, dia juga harus road show ke kecamatan-kecamatan ketika jasanya disewa oleh pemerintah. ’’Kalau pemerintah dulu mendatangkan layar tancap untuk media penyuluhan masyarakat. Karena di tengah pemutaran film diselipkan program-program pemerintahan,’’ tandasnya.

Pria kelahiran 17 Maret 1951 ini menyebutkan, layar tancap memiliki peran penting terhadap kejayaan perfilman nasional. Karena film yang diputar hampir seluruhnya merupakan produksi lokal. ’’Dari ratusan judul koleksi saya, sebagian besar dari film-film nasional. Paling disukai pada layar tancap film humor, horor, dan action seperti silat,’’ tandasnya.

Baca Juga :  CGV Mojokerto, Pengalaman yang Tak Tergantikan

Pria yang juga pernah bergabung Bioskop Ratna ini menyebut, eksistensi layar tancap kian meredup seiring keberadaan televisi pada dekade 1990-an. Saat ini, keberadaannya pun kian tenggalam karena pesatnya teknologi informasi. ’’Adanya televisi memudahkan orang mendapatkan film-film yang bagus. Termasuk handphone yang bisa nonton film kapan pun dan memilih judul apa pun,’’ paparnya. (ram/abi)

SEMENTARA itu, kejayaan panggung sinema juga diwarnai keberadaan media layar tancap. Hiburan pertujukan film di luar ruangan ini pun turut mendongkrak dunia perfilman nasional karena dapat dinikmati masyarakat hingga pelosok pedesaan.

Masa keemasan perfilman nasional masih terukir dalam ingatan Supriyadi, 71. Pemilik usaha layar tancap Shanty Film asal Dusun Sidokerto, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, ini sudah tiga dekade lebih bergelut dengan dunia hiburan layar lebar.

Dia mengungkapkan, layar tancap memiliki ikatan kedekatan tersendiri di hati masyarakat dibanding bioskop. Tak lain karena film diputar secara terbuka di tanah lapang. ’’Sehingga bisa dinikmati masyarakat secara umum,’’ tandasnya.
Layar tancap menjadi media hiburan menikmati film dengan biaya murah. Karena tidak menerapkan sistem tiket bagi para penontonnya. Menurutnya, hiburan pertunjukan itu mengalami kejayaan pada 1980-1990-an.

Baca Juga :  THHK, Lembaga Pendidikan Tionghoa Pertama di Kota Mojokerto

Di masa itu, Supriyadi menyebut memiliki empat unit perangkat pemutar film. Karena dalam semalam, dia mampu menerima dua order sekaligus di tempat yang berbeda. Tak jarang, dia juga harus road show ke kecamatan-kecamatan ketika jasanya disewa oleh pemerintah. ’’Kalau pemerintah dulu mendatangkan layar tancap untuk media penyuluhan masyarakat. Karena di tengah pemutaran film diselipkan program-program pemerintahan,’’ tandasnya.

Pria kelahiran 17 Maret 1951 ini menyebutkan, layar tancap memiliki peran penting terhadap kejayaan perfilman nasional. Karena film yang diputar hampir seluruhnya merupakan produksi lokal. ’’Dari ratusan judul koleksi saya, sebagian besar dari film-film nasional. Paling disukai pada layar tancap film humor, horor, dan action seperti silat,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Fenomena Gadaikan Barang untuk Penuhi Kebutuhan

Pria yang juga pernah bergabung Bioskop Ratna ini menyebut, eksistensi layar tancap kian meredup seiring keberadaan televisi pada dekade 1990-an. Saat ini, keberadaannya pun kian tenggalam karena pesatnya teknologi informasi. ’’Adanya televisi memudahkan orang mendapatkan film-film yang bagus. Termasuk handphone yang bisa nonton film kapan pun dan memilih judul apa pun,’’ paparnya. (ram/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/