alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Dipicu Urbanisasi Penduduk ke Kota Industri

Awal Mula Fenomena Mudik di Mojokerto

HIRUK pikuk mudik Lebaran 1443 Hijriah telah usai. Pandemi Covid-19 yang terkendali, membuat aktivitas pulang kampung dapat kembali dijalani. Di Mojokerto, mudik atau dulu lebih dikenal dengan mulih, telah menjadi tradisi yang dilakukan para perantau sejak kisaran setengah abad yang lalu. Fenomena itu terjadi karena adanya urbanisasi penduduk yang merantau ke kota-kota besar yang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan industri.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq memaparkan, fenomena mudik diperkirakan mulai masif terjadi pada kisaran 1970an. Sebab, pada saat itu, terjadi peningkatan urbanisasi di beberapa daerah. Tak terkecuali penduduk Mojokerto yang merantau ke kota-kota besar guna mencari mata pencaharian. ”Saat jelang Lebaran, para kaum urban tersebut berbondong-bondong pulang ke rumah asalnya,” terangnya.

Baca Juga :  THHK, Lembaga Pendidikan Tionghoa Pertama di Kota Mojokerto

Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, kegiatan pulang kampung tersebut kala itu belum populer disebut sebagai mudik. Para perantau Mojokerto lebih mengenalnya dengan istilah mulih atau kembali pulang ke rumah.

Menurutnya, perjalanan mulih dilaksanakan dengan tujuan agar bisa mengikuti ritual yang menjadi rangkaian sebelum peraayaan Hari Raya Idul Fitri tiba. Salah satunya melakukan ziarah ke makam leluhur atau keluarga yang telah meninggal dunia. ”Termasuk bersih-bersih tempat tinggal dan selamatan saat maleman,” tandasnya.

Tradisi mulih berlangsung seiring penggalakkan sektor industri yang membuka lapangan pekerjaan di kota-kota besar. Ibu Kota Jakarta menjadi jujukan mayoritas kaum urban. Sejak saat itu, istilah mudik mulai familiar. Karena masyarakat Betawi menyebut kepulangan kaum urban dengan istilah mudik atau udik.

Baca Juga :  Dibangun di Daerah dengan Perekonomian Strategis

Di samping itu, banyak pula penduduk Mojokerto yang merantau ke Kota Surabaya. Dengan rentang jarak yang relatif tidak jauh, pemudik menggunakan sarana transportasi umum. Antara lain lyn umum jurusan Mojokerto-Surabaya, bus antar-kota, hingga armada kereta api jalur Surabaya-Jombang. ”Karena jarak Mojokerto dan Surabaya tidak begitu jauh, pemulih lebih memilih alat transportasi jarak dekat,” ulas Yuhan. (ram/ron)

Awal Mula Fenomena Mudik di Mojokerto

HIRUK pikuk mudik Lebaran 1443 Hijriah telah usai. Pandemi Covid-19 yang terkendali, membuat aktivitas pulang kampung dapat kembali dijalani. Di Mojokerto, mudik atau dulu lebih dikenal dengan mulih, telah menjadi tradisi yang dilakukan para perantau sejak kisaran setengah abad yang lalu. Fenomena itu terjadi karena adanya urbanisasi penduduk yang merantau ke kota-kota besar yang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan industri.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq memaparkan, fenomena mudik diperkirakan mulai masif terjadi pada kisaran 1970an. Sebab, pada saat itu, terjadi peningkatan urbanisasi di beberapa daerah. Tak terkecuali penduduk Mojokerto yang merantau ke kota-kota besar guna mencari mata pencaharian. ”Saat jelang Lebaran, para kaum urban tersebut berbondong-bondong pulang ke rumah asalnya,” terangnya.

Baca Juga :  Gedung Bioskop Jadi Media Menikmati Layar Lebar

Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, kegiatan pulang kampung tersebut kala itu belum populer disebut sebagai mudik. Para perantau Mojokerto lebih mengenalnya dengan istilah mulih atau kembali pulang ke rumah.

Menurutnya, perjalanan mulih dilaksanakan dengan tujuan agar bisa mengikuti ritual yang menjadi rangkaian sebelum peraayaan Hari Raya Idul Fitri tiba. Salah satunya melakukan ziarah ke makam leluhur atau keluarga yang telah meninggal dunia. ”Termasuk bersih-bersih tempat tinggal dan selamatan saat maleman,” tandasnya.

Tradisi mulih berlangsung seiring penggalakkan sektor industri yang membuka lapangan pekerjaan di kota-kota besar. Ibu Kota Jakarta menjadi jujukan mayoritas kaum urban. Sejak saat itu, istilah mudik mulai familiar. Karena masyarakat Betawi menyebut kepulangan kaum urban dengan istilah mudik atau udik.

Baca Juga :  Kobarkan Semangat Pejuang Pertahankan Kemerdekaan
- Advertisement -

Di samping itu, banyak pula penduduk Mojokerto yang merantau ke Kota Surabaya. Dengan rentang jarak yang relatif tidak jauh, pemudik menggunakan sarana transportasi umum. Antara lain lyn umum jurusan Mojokerto-Surabaya, bus antar-kota, hingga armada kereta api jalur Surabaya-Jombang. ”Karena jarak Mojokerto dan Surabaya tidak begitu jauh, pemulih lebih memilih alat transportasi jarak dekat,” ulas Yuhan. (ram/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/