alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

THHK, Lembaga Pendidikan Tionghoa Pertama di Kota Mojokerto

Dekat Kelenteng, Tampung Anak-Anak Kampung Pecinan

PEMKOT Mojokerto baru saja menetapkan lima tempat bersejarah sebagai cagar budaya peringkat kota. Salah satunya SMPN 7 Kota Mojokerto. Status tersebut disematkan karena gedung sekolah itu pada era kolonial merupakan lembaga pendidikan warga keturunan Tionghoa pertama di Kota Mojokerto.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P dan K) Kota Mojokerto Mudjoko menjelaskan, penetapan cagar budaya gedung SMPN 7 Kota Mojokerto berdasarkan hasil kajian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Jawa Timur (Jatim). Menurutnya, status tersebut ditetapkan pada gedung sekolah yang berada di antara Jalan KH Ahmad Dahlan dan Jalan Karyawan. ’’Gedung SMPN 7 Mojokerto itu dibangun 1907,’’ terangnya.

Mudjoko menyebutkan, gedung yang kini telah berusia seabad lebih itu pada zaman pemerintah kolonial dibangun sebagai lembaga pendidikan khusus warga keturunan Tionghoa. Sehingga, gedung didirikan tidak jauh dari Kelenteng Hok Sian Kiong di Jalan PB Sudirman dan Kampung Pecinan di Jalan Mojopahit. ’’Pada masa Hindia-Belanda, lembaga itu dibangun sebagai gedung sekolah Tiong Hoa Hwee Kan (THHK),’’ ulasnya.

Baca Juga :  Dibangun di Daerah dengan Perekonomian Strategis

Sementara itu, sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menambahkan, THHK Mojokerto merupakan lembaga pendidikan pertama yang menggunakan bahasa Mandarin. Bahkan, kurikulum pembelajarannya juga sama dengan yang diterapkan di Negeri Tirai Bambu. ’’Termasuk tenaga guru juga didatangkan langsung dari China,’’ sambungnya.

Sehingga, seluruh peserta didik yang ditampung di THHK berasal dari keturunan Tionghoa. Lokasinya yang berada di kawasan Kampung Pecinan di Kota Mojokerto membuat pengurus tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan siswa.
Namun, sistem pendidikan yang mengadopsi Tiongkok itu membuat kejayaan THHK Mojokerto tidak bertahan lama.

Penyebabnya, lulusan siswa dari sekolah setingkat sekolah dasar (SD) itu kesulitan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. ’’Kalau ingin naik jenjang, siswa hanya bisa melanjutkan ke China,’’ tandas pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Hingga akhirnya, pemerintah kolonial membuat kebijakan untuk mambangun lembaga tingkat lanjutan atau setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Mojokerto. Sekolah yang khusus menampung lulusan THHK itu didirikan di Jalan Stasiun atau kini Jalan Bhayangkara dengan nama Holland Chineese School (HCS).

Baca Juga :  Jejak Perjuangan di Masjid Al-Ichsan Brangkal

Eksistensi THHK kian tenggelam setelah terjadi perpecahan internal di tubuh yayasan. Yuhan menyebut, konflik intern itu dipicu situasi politik di Tiongkok. Sebagian warga keturunan Tionghoa yang berseberangan dengan THHK kemudian membentuk kelompok Chung Hua Tsing Nien Hui (CHTNH). ’’CHTNH juga mendirikan lembaga sekolah yang gedungnya dibangun di Jalan Gaden atau kini Jalan WR Supratman,’’ tandas Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Meski sempat bertahan dengan mengubah kurikulum pembelajaran ala Eropa, lembaga THHK akhirnya terpaksa gulung tikar. Setidaknya, sekolah Tionghoa itu masih mampu mewarnai dunia pendidikan di Kota Mojokerto hingga diraihnya kemerdekaan RI. (ram/abi)

Dekat Kelenteng, Tampung Anak-Anak Kampung Pecinan

PEMKOT Mojokerto baru saja menetapkan lima tempat bersejarah sebagai cagar budaya peringkat kota. Salah satunya SMPN 7 Kota Mojokerto. Status tersebut disematkan karena gedung sekolah itu pada era kolonial merupakan lembaga pendidikan warga keturunan Tionghoa pertama di Kota Mojokerto.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P dan K) Kota Mojokerto Mudjoko menjelaskan, penetapan cagar budaya gedung SMPN 7 Kota Mojokerto berdasarkan hasil kajian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Jawa Timur (Jatim). Menurutnya, status tersebut ditetapkan pada gedung sekolah yang berada di antara Jalan KH Ahmad Dahlan dan Jalan Karyawan. ’’Gedung SMPN 7 Mojokerto itu dibangun 1907,’’ terangnya.

Mudjoko menyebutkan, gedung yang kini telah berusia seabad lebih itu pada zaman pemerintah kolonial dibangun sebagai lembaga pendidikan khusus warga keturunan Tionghoa. Sehingga, gedung didirikan tidak jauh dari Kelenteng Hok Sian Kiong di Jalan PB Sudirman dan Kampung Pecinan di Jalan Mojopahit. ’’Pada masa Hindia-Belanda, lembaga itu dibangun sebagai gedung sekolah Tiong Hoa Hwee Kan (THHK),’’ ulasnya.

Baca Juga :  Berlangsung hingga Pekan Depan

Sementara itu, sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menambahkan, THHK Mojokerto merupakan lembaga pendidikan pertama yang menggunakan bahasa Mandarin. Bahkan, kurikulum pembelajarannya juga sama dengan yang diterapkan di Negeri Tirai Bambu. ’’Termasuk tenaga guru juga didatangkan langsung dari China,’’ sambungnya.

Sehingga, seluruh peserta didik yang ditampung di THHK berasal dari keturunan Tionghoa. Lokasinya yang berada di kawasan Kampung Pecinan di Kota Mojokerto membuat pengurus tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan siswa.
Namun, sistem pendidikan yang mengadopsi Tiongkok itu membuat kejayaan THHK Mojokerto tidak bertahan lama.

- Advertisement -

Penyebabnya, lulusan siswa dari sekolah setingkat sekolah dasar (SD) itu kesulitan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. ’’Kalau ingin naik jenjang, siswa hanya bisa melanjutkan ke China,’’ tandas pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Hingga akhirnya, pemerintah kolonial membuat kebijakan untuk mambangun lembaga tingkat lanjutan atau setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Mojokerto. Sekolah yang khusus menampung lulusan THHK itu didirikan di Jalan Stasiun atau kini Jalan Bhayangkara dengan nama Holland Chineese School (HCS).

Baca Juga :  Gedung Bioskop Jadi Media Menikmati Layar Lebar

Eksistensi THHK kian tenggelam setelah terjadi perpecahan internal di tubuh yayasan. Yuhan menyebut, konflik intern itu dipicu situasi politik di Tiongkok. Sebagian warga keturunan Tionghoa yang berseberangan dengan THHK kemudian membentuk kelompok Chung Hua Tsing Nien Hui (CHTNH). ’’CHTNH juga mendirikan lembaga sekolah yang gedungnya dibangun di Jalan Gaden atau kini Jalan WR Supratman,’’ tandas Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Meski sempat bertahan dengan mengubah kurikulum pembelajaran ala Eropa, lembaga THHK akhirnya terpaksa gulung tikar. Setidaknya, sekolah Tionghoa itu masih mampu mewarnai dunia pendidikan di Kota Mojokerto hingga diraihnya kemerdekaan RI. (ram/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/